banner 728x250

Dari Komponen hingga Produk Konsumen, Kadin Soroti Peluang Indonesia di Rantai Pasok Dunia

Dari Komponen hingga Produk Konsumen, Kadin Soroti Peluang Indonesia di Rantai Pasok Dunia
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Anindya Novyan Bakrie, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menyebut sebanyak 77 merek dunia telah membeli produk atau komponen dari Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dan pelaku usaha nasional telah terhubung dengan kebutuhan produksi maupun pasar berbagai merek internasional. Dalam paparannya, Anindya mencontohkan Airbus, Tesla, Kopiko, ON, dan Nike sebagai nama-nama yang termasuk dalam daftar pembeli. Contoh itu menggambarkan luasnya jangkauan produk Indonesia, dari komponen yang digunakan dalam industri hingga barang konsumen yang dikenal oleh masyarakat.

Anindya menyampaikan informasi tersebut saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026. Ia mengaitkan daftar pembeli itu dengan upaya memperlihatkan peran Indonesia dalam rantai pasok dunia. Keterlibatan tersebut tidak selalu terlihat langsung oleh konsumen, terutama ketika produk atau komponen buatan Indonesia menjadi bagian dari barang yang dipasarkan dengan merek global. Karena itu, informasi mengenai pembeli dan hubungan usaha ini dapat membantu memberi gambaran bahwa kapasitas industri nasional terhubung dengan ekosistem produksi internasional.

banner 325x300

Untuk mendokumentasikan hubungan tersebut, Kadin merencanakan penerbitan buku berjudul “We Buy from Indonesia”. Buku itu direncanakan memuat testimoni para pembeli, sekaligus memperlihatkan bagaimana produk nasional masuk ke dalam rantai pasok global. Testimoni dari pihak pembeli diharapkan dapat menyajikan sudut pandang langsung mengenai kerja sama dengan pemasok Indonesia, tanpa mengaburkan perbedaan jenis barang yang dibeli. Penyebutan Airbus, Tesla, Kopiko, ON, dan Nike sebagai contoh tidak berarti seluruh merek tersebut membeli produk yang sama. Keterangan yang disampaikan hanya menyebut pembelian produk atau komponen dari Indonesia, tanpa merinci jenis barang untuk setiap perusahaan. Dengan dokumentasi itu, Kadin ingin menampilkan bukti keterlibatan Indonesia dalam jaringan perdagangan dan produksi lintas negara, serta membuka ruang bagi pemahaman yang lebih luas tentang kontribusi pemasok lokal.

Anindya memandang kehadiran pembeli global sebagai peluang penting bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperbesar peran dalam rantai pasok internasional. Minat dan kebutuhan dari pasar dunia dapat membuka ruang bagi perusahaan nasional untuk menjalin hubungan dagang, memasok lebih banyak kebutuhan industri, serta memperluas jangkauan produk. Namun, peluang tersebut perlu ditindaklanjuti dengan kesiapan produksi dan kemampuan memenuhi permintaan secara konsisten. Pelaku usaha juga perlu memahami standar, mutu, dan jadwal pengiriman yang ditetapkan pembeli agar dapat menjadi mitra yang diandalkan dalam jangka panjang.

Menurut Anindya, pekerjaan berikutnya tidak berhenti pada mempertahankan pasar yang sudah berhasil diraih. Indonesia perlu meningkatkan jumlah komponen yang diproduksi di dalam negeri dan memperbesar penjualannya kepada pembeli, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan kapasitas dan volume penjualan yang tumbuh, perusahaan lokal berpeluang mengambil bagian lebih besar dari proses produksi yang kini tersebar lintas negara. Peningkatan ini juga dapat membantu memperkuat keterhubungan pemasok lokal, produsen, dan perusahaan global, sehingga kontribusi Indonesia tidak hanya berada pada satu tahap dalam rantai pasok.

Anindya turut menyampaikan konteks besarnya perdagangan Indonesia dengan menyebut ekspor nasional berada di kisaran US$300 miliar per tahun. Angka tersebut merupakan gambaran nilai ekspor yang ia kemukakan, bukan sasaran atau proyeksi baru. Dalam konteks peluang dari pembeli global, capaian itu menegaskan pentingnya mendorong lebih banyak produk dan komponen buatan Indonesia masuk ke pasar internasional. Tantangannya adalah memastikan kapasitas usaha dapat berkembang, kualitas tetap terjaga, dan penjualan meningkat seiring terbukanya akses pasar. Dengan demikian, kehadiran pembeli dapat menjadi pintu bagi pelaku usaha untuk memperluas kontribusi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan produksi dunia.

Menurut Anindya, perluasan pasar ekspor Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan perusahaan menghasilkan barang yang kompetitif. Ekspansi tersebut perlu ditopang peningkatan investasi agar kapasitas produksi, mutu, teknologi, dan kesiapan pelaku usaha dapat berkembang seiring dengan bertambahnya permintaan dari luar negeri. Pendanaan melalui pasar modal dapat menjadi salah satu jalur untuk mendukung perusahaan yang ingin memperbesar usaha dan memperkuat kegiatan ekspornya. Pada saat yang sama, penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI) juga berperan dalam menghadirkan modal, teknologi, serta keterhubungan dengan jaringan produksi dan distribusi internasional. Dengan dukungan investasi yang memadai, perusahaan Indonesia berpeluang meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar global secara konsisten.

Upaya tersebut perlu berjalan bersama diplomasi ekonomi yang efektif. Hubungan ekonomi dan akses perdagangan dapat membantu membuka jalan bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar internasional, sekaligus memberikan kepastian yang dibutuhkan eksportir dalam merencanakan kegiatan usaha. Akses yang lebih baik dapat memperluas pilihan pasar, memudahkan pelaku usaha memahami ketentuan perdagangan, dan mendorong hubungan dagang yang lebih teratur. Namun, peluang akses tidak otomatis menghasilkan peningkatan ekspor. Perusahaan tetap perlu menyiapkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar tujuan, menjaga standar dan kualitas, serta membangun kemampuan memenuhi pesanan. Karena itu, koordinasi pemerintah dan dunia usaha penting agar diplomasi perdagangan dapat diterjemahkan menjadi peluang nyata bagi produk nasional.

Anindya menyebut 25 perjanjian perdagangan telah berlaku, sementara 15 lainnya masih berada dalam tahap negosiasi, termasuk dengan Uni Eropa. Perjanjian yang telah berlaku maupun proses negosiasi tersebut dapat menjadi sarana untuk memperluas akses dan meningkatkan pembelian produk Indonesia di pasar luar negeri. Cakupan kesepakatan perdagangan berpotensi mendukung kepastian hubungan dagang dan memberi ruang bagi eksportir untuk menjangkau pembeli baru. Pada tahap berikutnya, keberhasilan memanfaatkan peluang itu bergantung pada kesiapan investasi dan kemampuan perusahaan menindaklanjuti akses pasar. Dengan demikian, penguatan modal, kapasitas produksi, dan diplomasi ekonomi perlu saling melengkapi. Kombinasi tersebut dapat membantu Indonesia mengubah terbukanya akses perdagangan menjadi permintaan yang lebih besar, sekaligus memperkuat posisi produk Indonesia dalam rantai pasok dunia.

Anindya menekankan bahwa manfaat ekspor dan investasi akan lebih luas apabila usaha rakyat terhubung langsung dengan rantai pasok industri. Keterlibatan tersebut memberi peluang bagi pelaku usaha di berbagai daerah untuk menjadi bagian dari proses produksi, bukan hanya berada di luar ekosistem industri yang berkembang. Dengan hubungan yang lebih kuat, kebutuhan perusahaan dapat membuka ruang bagi pemasok lokal, sementara usaha kecil memperoleh akses terhadap pasar dan kegiatan ekonomi yang lebih besar. Karena itu, penguatan hubungan usaha rakyat dan industri menjadi salah satu cara agar pertumbuhan perdagangan serta penanaman modal turut dirasakan lebih banyak pelaku.

Dalam pandangan tersebut, UMKM yang naik kelas dan terciptanya lapangan kerja berkualitas merupakan unsur penting dalam pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Keduanya berkaitan dengan kemampuan usaha untuk meningkatkan kapasitas, memenuhi kebutuhan pembeli, serta berpartisipasi secara berkelanjutan dalam kegiatan produksi dan distribusi. Kadin mendorong model kemitraan yang menghubungkan usaha dari tingkat desa dengan industri dan pasar internasional. Hubungan ini dapat dibangun melalui kemitraan produksi, pengembangan pemasok industri, pembelian dalam rantai pasok, serta distribusi dan ritel. Ragam jalur tersebut memungkinkan kontribusi usaha lokal hadir pada beberapa tahap, mulai dari penyediaan bahan atau komponen hingga penyaluran produk kepada konsumen.

Model kemitraan itu juga menempatkan kebutuhan industri dan kemampuan usaha rakyat dalam hubungan yang saling mendukung. Industri memperoleh akses terhadap pemasok dan produk Indonesia, sedangkan pelaku lokal berkesempatan memperluas kapasitas usaha serta menjangkau pembeli yang lebih luas. Anindya menggambarkan kaitan masuknya modal, peningkatan kapasitas usaha rakyat, dan penciptaan nilai tambah di dalam rantai pasok.

Baca juga: Target Indonesia untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya: Peluang dan Tantangan | Program POLIRAN, Brigadir Ibnu Dermawan Dorong Warga Bunder Tingkatkan Keterampilan dan Cari Peluang Kerja

banner 325x300