banner 728x250

BMKG Catat 20 Gempa di Tanggamus, Getaran Terasa di Sejumlah Wilayah

BMKG Catat 20 Gempa di Tanggamus, Getaran Terasa di Sejumlah Wilayah
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Tanggamus | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 20 aktivitas gempa bumi susulan di Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Rangkaian tersebut mulai terpantau setelah gempa pertama terjadi pada pukul 15.22 WIB. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan hingga pukul 16.14 WIB, jumlah aktivitas gempa yang tercatat mencapai 20 kejadian. Informasi mengenai perkembangan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati, melalui keterangan tertulis.

Rentang waktu gempa pertama dan batas pemantauan yang disebutkan BMKG menunjukkan bahwa aktivitas susulan berlangsung dalam periode kurang dari satu jam. Angka 20 merupakan akumulasi kejadian yang tercatat hingga waktu pembaruan tersebut, bukan jumlah yang dihitung sepanjang hari. Dengan demikian, keterangan BMKG memberikan gambaran situasi berdasarkan data yang tersedia sampai pukul 16.14 WIB pada Rabu itu. Perkembangan setelah waktu tersebut tidak termasuk dalam hitungan yang disampaikan dalam informasi tertulis itu.

banner 325x300

Pencatatan gempa susulan penting untuk mendokumentasikan perubahan aktivitas seismik setelah kejadian awal. Dalam laporan ini, informasi utama yang disampaikan adalah lokasi aktivitas di Kabupaten Tanggamus, waktu mulai terjadinya rangkaian, serta jumlah kejadian sampai batas pemantauan. BMKG menyebut data tersebut dalam keterangan tertulis yang disampaikan Ana Oktavia Setiowati. Rincian itu menjadi acuan untuk memahami kronologi sementara, tanpa menambahkan perkiraan mengenai jumlah aktivitas setelah pembaruan terakhir. Karena pengamatan memiliki batas waktu, angka yang tercatat dapat dipahami sebagai catatan hingga pukul 16.14 WIB, bukan pernyataan bahwa rangkaian telah berakhir. Warga dan pembaca dapat merujuk pada pembaruan resmi BMKG untuk memperoleh informasi terbaru apabila ada perubahan pada catatan aktivitas gempa di wilayah tersebut.

BMKG mencatat gempa pertama dalam rangkaian kejadian di Tanggamus memiliki magnitudo pembaruan 3,9. Episenternya berada pada koordinat 5,40 derajat Lintang Selatan dan 104,67 derajat Bujur Timur, atau sekitar 9 kilometer barat laut Tanggamus. Pusat gempa terdeteksi pada kedalaman 4 kilometer. Dengan demikian, lokasi kejadian berada di daratan dan relatif dekat dengan permukaan. Data koordinat, jarak, serta kedalaman tersebut menjadi dasar untuk menggambarkan posisi sumber gempa secara lebih terperinci, sekaligus membedakan kejadian ini dari gempa yang berpusat jauh di laut atau berasal dari kedalaman besar.

Gempa berikutnya terjadi pada pukul 15.23 WIB. Setelah pembaruan, magnitudonya tercatat 4,1, sedikit lebih besar daripada gempa pertama. Episenter gempa kedua berada pada koordinat 5,43 derajat Lintang Selatan dan 104,65 derajat Bujur Timur, sekitar 6 kilometer barat laut Tanggamus. BMKG mencatat kedalaman hiposenternya 5 kilometer. Kedua titik episenter terletak di kawasan yang berdekatan, sementara kedalaman masing-masing hanya beberapa kilometer. Rincian itu menunjukkan bahwa dua gempa awal berlangsung di sekitar wilayah yang sama, meskipun posisi dan magnitudo yang dicatat untuk setiap kejadian berbeda.

BMKG menjelaskan bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, kedua gempa tersebut tergolong gempa dangkal. Gempa dangkal umumnya bersumber pada kedalaman yang terbatas di bawah permukaan, sehingga karakteristik sumbernya perlu dibaca bersama informasi lokasi dan kondisi geologi setempat. Untuk kejadian di Tanggamus ini, BMKG menyebut pemicunya adalah aktivitas sesar aktif. Artinya, gempa berkaitan dengan pergerakan pada struktur patahan di kerak bumi, bukan aktivitas vulkanik. Keterangan tersebut merupakan hasil analisis terhadap parameter gempa yang tersedia dan membantu menjelaskan penyebab kejadian. Magnitudo, kedalaman, serta jarak episenter dari wilayah Tanggamus menjadi informasi penting bagi masyarakat untuk memahami laporan BMKG, tanpa mengubahnya menjadi perkiraan mengenai dampak yang tidak dinyatakan dalam data tersebut. Rangkaian analisis ini juga memberi konteks bagi pencatatan gempa-gempa susulan berikutnya.

Laporan masyarakat menunjukkan bahwa getaran gempa dirasakan di Kotaagung dan sejumlah wilayah lain di sekitarnya. Tingkat getaran yang dilaporkan berbeda-beda, dengan Kotaagung mencatat intensitas III MMI, sementara Kotabumi, Pringsewu, Ulu Belu, Gisting, Sumberejo, serta Kotaagung Timur berada pada intensitas II MMI. Perbedaan angka tersebut menggambarkan pengalaman getaran yang dirasakan warga di masing-masing lokasi, bukan keterangan mengenai kerusakan atau dampak lain yang tidak dilaporkan.

Di Kotaagung, intensitas III MMI berarti getaran terasa nyata di dalam rumah. Sensasinya dilaporkan menyerupai getaran ketika sebuah truk melintas. Gambaran ini menjelaskan bagaimana guncangan dapat dirasakan oleh penghuni di dalam bangunan, meskipun tingkat pengalaman seseorang dapat berbeda. Laporan intensitas tersebut berfokus pada apa yang dirasakan masyarakat saat gempa terjadi dan menjadi salah satu cara untuk menyampaikan tingkat getaran di suatu wilayah.

Sementara itu, intensitas II MMI dilaporkan di Kotabumi, Pringsewu, Ulu Belu, Gisting, Sumberejo, dan Kotaagung Timur. Pada tingkat ini, getaran dirasakan oleh beberapa orang, dan benda-benda ringan yang tergantung dapat terlihat bergoyang. Penjelasan tersebut memberikan gambaran sederhana mengenai respons yang dilaporkan warga di lokasi-lokasi itu, dengan tingkat getaran yang lebih ringan dibandingkan laporan dari Kotaagung.

Skala MMI digunakan untuk menggambarkan intensitas gempa berdasarkan efek getaran yang dirasakan atau diamati di suatu tempat. Karena itu, angka intensitas dapat berbeda satu daerah dan daerah lainnya, meskipun berkaitan dengan peristiwa gempa yang sama. Dalam laporan ini, rincian untuk setiap wilayah merujuk pada pengalaman masyarakat: getaran terasa nyata di dalam rumah di Kotaagung, sedangkan di wilayah berintensitas II MMI getaran dirasakan beberapa orang dan benda ringan yang tergantung bergoyang. Keterangan ini menyampaikan tingkat getaran yang dilaporkan, tanpa menambahkan kesimpulan mengenai kondisi bangunan, kerusakan, maupun dampak lain.Sampai berita ini diterbitkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan akibat rangkaian gempa yang tercatat di Tanggamus. Informasi tersebut menunjukkan bahwa belum ada dampak kerusakan bangunan yang dilaporkan kepada pihak terkait pada saat pemberitaan disusun. Meski demikian, masyarakat di wilayah yang merasakan getaran tetap perlu memperhatikan keadaan sekitar dan menyampaikan informasi apabila menemukan kondisi yang membutuhkan penanganan. Setiap laporan sebaiknya disampaikan melalui saluran yang tepat agar dapat ditindaklanjuti dan diperiksa oleh pihak berwenang.

Ketiadaan laporan kerusakan bukan alasan untuk mengabaikan informasi mengenai perkembangan gempa. Warga dapat terus mengikuti pembaruan dari lembaga resmi, termasuk keterangan mengenai aktivitas gempa dan kondisi wilayah terdampak. Informasi yang bersumber jelas membantu masyarakat memahami situasi tanpa menambah kekhawatiran melalui kabar yang belum dipastikan. Apabila menerima pesan atau unggahan yang meragukan, masyarakat sebaiknya memeriksa sumber, waktu penerbitan, serta kesesuaiannya dengan pengumuman resmi sebelum mengambil tindakan ataupun meneruskannya kepada orang lain.

Ana Oktavia Setiowati mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ia juga meminta warga mengikuti perkembangan melalui sumber resmi serta tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Sikap tersebut penting agar informasi yang beredar tetap akurat dan tidak memicu kepanikan di tengah masyarakat. Warga dapat membantu menjaga ketertiban informasi dengan menunggu konfirmasi, membaca pengumuman secara utuh, dan membagikan keterangan hanya apabila asal-usulnya jelas. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh kabar yang dapat dipercaya sambil tetap terhadap setiap perkembangan di wilayah masing-masing.

Baca juga: Prakiraan Cuaca: Hujan Memungkinkan di Wilayah Bogor dan Depok | Ops Cipkon KRYD, IPDA Andhika V.O. Pimpin Patroli Mobile di Sejumlah Titik Citra Raya | Ops Cipkon KRYD, IPTU Udi Muhdi Patroli Sasar Sejumlah Titik Rawan di Cikupa

banner 325x300