banner 728x250

AI dan Robotik di Rumah Sakit: Pemerataan Jadi Tantangan di Luar Jawa

AI dan Robotik di Rumah Sakit: Pemerataan Jadi Tantangan di Luar Jawa
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan perangkat robotik di rumah sakit terus berkembang seiring percepatan transformasi digital kesehatan nasional. Teknologi tersebut membuka peluang untuk mendukung ketepatan diagnosis, membantu tenaga medis dalam tindakan tertentu, serta membuat proses pelayanan lebih efisien. Namun, kemajuan ini belum otomatis dirasakan secara merata. Ketersediaan infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia, dan kemampuan fasilitas kesehatan untuk mengadopsi teknologi masih berbeda satu wilayah dan wilayah lainnya.

Tantangan pemerataan menjadi penting karena teknologi kesehatan canggih tidak semestinya hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Rumah sakit di berbagai daerah perlu memiliki kesempatan untuk memperoleh perangkat, konektivitas, pelatihan, dan dukungan teknis yang memadai. Tanpa fondasi tersebut, penerapan AI dan robotik berisiko memperlebar kesenjangan layanan: pasien di wilayah dengan fasilitas lengkap dapat mengakses inovasi lebih cepat, sementara masyarakat di daerah lain belum memperoleh manfaat yang setara. Karena itu, transformasi digital perlu dirancang dengan mempertimbangkan kondisi lokal, bukan sekadar mengejar adopsi teknologi.

banner 325x300

Ketua Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan, Ir Tjahajana Wirakusumah, menilai wilayah di luar Pulau Jawa memerlukan perhatian ekstra agar akses layanan kesehatan tidak timpang. Menurutnya, penyebaran teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan kesiapan rumah sakit dan tenaga kesehatan di daerah. Hal tersebut disampaikan dalam talk show Leaders Forum bertema “Reimagining Healthcare, Strengthening Indonesia” di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026. Pandangan itu menyoroti bahwa pemerataan bukan hanya soal menghadirkan mesin atau aplikasi, melainkan juga memastikan fasilitas dapat mengoperasikan dan merawatnya serta tenaga medis mampu menggunakannya secara tepat. Dengan pendekatan yang sesuai kebutuhan wilayah, inovasi dapat mendukung layanan kesehatan yang lebih luas, tanpa menjadikan lokasi sebagai penentu utama kesempatan pasien untuk memperoleh pelayanan bermutu.

Peringatan Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, dr. Azhar Jaya, menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi kesehatan jarak jauh perlu didahului evaluasi terhadap kesiapan infrastruktur dasar. Kehadiran perangkat canggih saja tidak cukup untuk menjamin layanan berjalan efektif. Rumah sakit dan pemangku kepentingan perlu memastikan jaringan internet memadai serta tenaga kesehatan memiliki keterampilan untuk mengoperasikan teknologi tersebut dengan aman. Tanpa dua prasyarat itu, inovasi yang dirancang untuk memperluas akses justru berisiko menimbulkan gangguan dalam pelayanan.

Stabilitas koneksi menjadi perhatian penting karena telehealth dan teleoperation bergantung pada pertukaran informasi secara konsisten. Koneksi yang lambat, tidak merata, atau terputus dapat menghambat komunikasi tenaga kesehatan dan pasien, mengganggu pengiriman data, maupun menunda tindakan yang membutuhkan koordinasi langsung. Dalam layanan berisiko tinggi, gangguan semacam itu bukan sekadar persoalan teknis. Dampaknya dapat menyentuh keselamatan pasien, sehingga fasilitas kesehatan harus menilai keandalan jaringan, menyiapkan prosedur penanganan ketika koneksi bermasalah, dan memastikan dukungan teknis tersedia sebelum layanan diluncurkan.

Azhar memberikan ilustrasi mengenai teknologi telehealth atau teleoperation yang ditempatkan di Papua. Apabila jaringan internet di lokasi belum stabil dan sambungan terputus ketika operasi sedang berlangsung, kondisi tersebut dapat menimbulkan risiko serius bagi jalannya tindakan. Contoh itu merupakan peringatan tentang kemungkinan yang perlu diantisipasi, bukan pernyataan bahwa teknologi tersebut telah diterapkan di Papua. Ilustrasi tersebut juga menunjukkan mengapa kesiapan wilayah tidak dapat diasumsikan sama, terutama ketika kualitas konektivitas berbeda-beda.

Selain infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia harus dinilai secara menyeluruh. Tenaga kesehatan perlu memahami penggunaan perangkat, batas kemampuan sistem, langkah keselamatan, serta tindakan yang harus dilakukan saat terjadi kegagalan. Pelatihan dan pembagian tanggung jawab yang jelas membantu layanan jarak jauh dijalankan secara terukur. Karena itu, perencanaan teknologi kesehatan perlu menyesuaikan kondisi setempat, bukan hanya mengejar adopsi. Evaluasi berkala terhadap jaringan, kompetensi pengguna, dan mekanisme cadangan dapat membantu memastikan layanan aman sebelum diperluas ke daerah dengan tantangan konektivitas.

Dari sisi penyedia layanan kesehatan, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, menekankan bahwa pemanfaatan teknologi di rumah sakit perlu berjalan seiring dengan upaya pemerataan standar pelayanan. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan robotik, tidak berdiri sendiri sebagai tujuan, melainkan dapat menjadi bagian dari peningkatan kualitas klinis. Karena itu, penerapannya perlu dipikirkan dalam konteks jaringan rumah sakit secara menyeluruh, agar kemajuan layanan tidak hanya dirasakan di lokasi tertentu. Pemerataan tersebut menjadi penting ketika kemampuan fasilitas dan akses masyarakat berbeda-beda antardaerah. Pandangan ini menempatkan penyedia layanan sebagai salah satu pihak yang perlu memastikan transformasi teknologi mendukung mutu perawatan, sekaligus relevan bagi kebutuhan pasien di berbagai wilayah.

David Utama mengaitkan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan standardisasi jaringan rumah sakit. Gagasan tersebut menekankan arah dan konsistensi kualitas, tanpa menetapkan rincian bentuk standardisasi tertentu. Dalam konteks transformasi layanan, pendekatan yang merata dapat membantu memastikan bahwa pembaruan teknologi dan upaya meningkatkan kualitas klinis dipertimbangkan di seluruh jaringan, bukan hanya pada rumah sakit yang lebih mudah menjangkau teknologi baru. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerataan bukan sekadar persoalan menghadirkan perangkat, tetapi tentang merancang pemanfaatannya sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang lebih baik. Bagi penyedia layanan, tantangannya adalah menyelaraskan kemajuan teknologi dengan tujuan peningkatan mutu, sembari memperhatikan bahwa kebutuhan pasien dan kondisi setiap daerah dapat berbeda.

Tujuan transformasi yang disampaikan David adalah agar masyarakat memiliki pilihan perawatan terbaik tanpa harus selalu pergi ke luar negeri. Tujuan ini memberi konteks pada pentingnya pemerataan: kualitas layanan yang meningkat dan dapat diakses di dalam negeri dapat memperluas pilihan bagi pasien. Teknologi dan standardisasi jaringan, sebagaimana ia tekankan, perlu diarahkan untuk mendukung tujuan tersebut, bukan dipandang sebagai ukuran kemajuan semata. Dengan demikian, pembahasan AI dan robotik di rumah sakit juga mencakup pertanyaan tentang bagaimana manfaat inovasi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Pemerataan standar menjadi bagian dari upaya agar transformasi layanan kesehatan berkontribusi pada peningkatan kualitas klinis dan memperkuat pilihan perawatan di dalam negeri, termasuk bagi masyarakat di luar Jawa.

David menjelaskan bahwa Siloam telah menjalani perubahan cara mengelompokkan dan mengelola operasinya. Sejak tahun lalu, pendekatan yang sebelumnya berbasis regional operation beralih menjadi model archetype. Dalam model ini, rumah sakit tidak semata-mata dipandang berdasarkan wilayah operasional, tetapi dikelompokkan ke dalam kategori tertentu. David menyebut bahwa Siloam memiliki empat archetype.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari cara perusahaan menyusun strategi dan memahami kebutuhan layanan di berbagai rumah sakit. Namun, informasi yang disampaikan David hanya menguraikan archetype pertama. Karena itu, penjelasan mengenai model ini perlu dibatasi pada rincian yang tersedia, tanpa menyimpulkan nama, fungsi, ataupun ciri khas tiga archetype lainnya.

Archetype pertama adalah premium specialist. David menerangkan bahwa kategori ini berfokus pada satu atau dua center of excellence, atau pusat keunggulan layanan. Fokus tersebut menunjukkan bahwa rumah sakit dalam kategori ini diarahkan untuk menonjolkan bidang layanan tertentu, alih-alih menyebarkan perhatian secara merata ke banyak pusat unggulan. Meski demikian, keterangan yang tersedia tidak menyebutkan bidang spesialisasi apa yang dimaksud, rumah sakit mana yang masuk kategori ini, maupun bagaimana fokus tersebut diterapkan dalam operasional sehari-hari.

Penjelasan itu juga belum merinci bagaimana premium specialist berhubungan dengan pemanfaatan AI dan robotik. Oleh sebab itu, tidak tepat untuk mengaitkan archetype tersebut dengan teknologi atau hasil klinis tertentu tanpa keterangan tambahan.

Baca juga: Konservasi Pari Manta di Raja Ampat: Upaya dan Tantangan | Target Indonesia untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya: Peluang dan Tantangan | Pentingnya Pemerataan Fasilitas di Lapas untuk Mencegah Praktik Korupsi

banner 325x300