Yogyakarta | Laut Bercerita adalah film adaptasi dari novel karya Leila S. Chudori yang membawa penonton mengikuti kehidupan Biru Laut Wibisono, tokoh yang diperankan Reza Rahadian. Laut merupakan mahasiswa sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada sekaligus seorang penulis. Di Yogyakarta, ia bergabung dengan kelompok diskusi Winatra, sebuah ruang bagi dirinya dan kawan-kawannya untuk bertukar gagasan serta membicarakan keadaan sosial dan politik. Melalui sosok Laut, cerita menyoroti pilihan anak muda yang tidak berhenti pada pembahasan, tetapi turut bergerak menghadapi ketidakadilan.
Bersama rekan-rekannya, Laut terlibat dalam gerakan yang menjangkau mahasiswa dan rakyat kecil. Dari kota ke kota, mereka berupaya menyuarakan penolakan terhadap ketidakadilan dan pembungkaman politik. Rentang waktu 1990–1998 menjadi latar bagi perjalanan tersebut, ketika kebebasan berekspresi dan tuntutan atas keadilan sosial menjadi bagian penting dari perjuangan kelompok. Gerakan mereka memperlihatkan bahwa perubahan tidak hanya dibicarakan di lingkungan kampus, melainkan juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang mengalami dampak ketidakadilan. Perjalanan itu menempatkan Laut dan kawan-kawannya dalam ruang sosial yang lebih luas daripada kelompok diskusi semata.
Namun, langkah mereka tidak berlangsung dengan dukungan yang serba memadai. Kelompok itu menghadapi keterbatasan logistik ketika berusaha mengorganisasi gerakan dan menjangkau berbagai tempat. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari: mereka harus terus berupaya menyampaikan gagasan, membangun keterlibatan, dan mempertahankan tujuan bersama meski sarana yang tersedia terbatas. Film ini menggambarkan pergerakan sebagai kerja kolektif yang menuntut keteguhan, bukan sebagai tindakan yang terpisah dari kebutuhan praktis. Melalui perjalanan Laut, penonton diajak melihat bagaimana keberanian untuk bersuara bertaut dengan solidaritas dan usaha memperjuangkan ruang bagi kebebasan berekspresi serta keadilan sosial. Kisahnya berpusat pada pilihan dan gerak kelompok tersebut dalam menghadapi penindasan, tanpa melepaskan perhatian dari keterbatasan yang mereka alami.
Di tengah gejolak politik era 1990-an, perjuangan dalam kisah Laut Bercerita tidak dijalankan seorang diri. Laut bergerak bersama rekan-rekannya melalui Winatra, kelompok diskusi yang menjadi ruang bagi mereka untuk bertukar gagasan dan terlibat dalam pergerakan. Kebersamaan itu menghadirkan ikatan yang melampaui hubungan sebagai sesama aktivis: mereka berbagi keyakinan, kecemasan, dan tanggung jawab ketika menyuarakan sikap. Namun, kegiatan tersebut juga menempatkan para anggotanya di tengah ancaman yang kian nyata. Ruang untuk berdiskusi dan bekerja bersama tidak terpisah dari risiko yang mereka hadapi dalam situasi politik yang penuh tekanan.
Di sosok penting dalam lingkaran Laut adalah Kasih Kinanti, yang akrab dipanggil Kinan. Diperankan Dian Sastrowardoyo, Kinan terlibat penting dalam kelompok dan pergerakan, sekaligus menjadi kekasih Laut. Kehadirannya memperlihatkan kedekatan perjuangan bersama dan kehidupan pribadi: hubungan mereka tumbuh di tengah keadaan yang tidak memberi rasa aman. Rekan Laut lainnya termasuk Alex Perazon, diperankan Ben Nugroho, serta Daniel Tumbuan, yang diperankan Kevin Julio. Bersama Naratama dan kawan-kawan lain, mereka membentuk jaringan pertemanan dan perjuangan yang menjadi bagian penting dari pengalaman Laut. Kisah mereka menyoroti bahwa setiap anggota memiliki tempat dalam kelompok, sementara ancaman terhadap satu orang dapat mengguncang semua yang lain.
Titik genting datang ketika Laut, Kinan, Alex, Daniel, Naratama, dan rekan-rekan mereka satu per satu tertangkap, kemudian menghilang tanpa kabar. Peristiwa itu mengubah kecemasan menjadi kehilangan yang nyata bagi orang-orang yang menunggu mereka. Tidak ada kepastian mengenai keberadaan para aktivis tersebut, sehingga ketiadaan kabar menjadi beban yang terus menyertai keluarga dan sahabat. Kisah ini tidak menguraikan nasib mereka secara pasti; perhatian tertuju pada ketidakpastian dan ancaman penghilangan yang dialami. Winatra, yang semula menyatukan mereka dalam gagasan dan tindakan, juga menjadi pengingat akan orang-orang yang terpisah tanpa penjelasan. Melalui pengalaman Laut dan kawan-kawannya, perjuangan terasa dekat sekaligus rapuh: keberanian untuk bergerak berdampingan berjalan beriringan dengan risiko kehilangan, dan pertanyaan tanpa jawaban membayangi mereka yang masih berharap.
Di tengah kisah perjuangan politik dalam Laut Bercerita, keluarga Laut memperlihatkan bahwa penghilangan seseorang tidak berhenti pada mereka yang ditangkap. Dampaknya menjalar kepada orang-orang terdekat yang harus menghadapi ketidakpastian, kehilangan, dan pencarian panjang. Sudut pandang keluarga ini memperluas cerita: bukan hanya tentang keberanian para aktivis dan gejolak 1990-an, melainkan juga tentang kehidupan yang berubah bagi mereka yang menunggu kabar. Melalui hubungan Laut dan keluarganya, perjuangan memperoleh sisi personal yang kuat, tanpa melepaskan latar politik yang membentuk peristiwa-peristiwa tersebut.
Asmara Jati, adik perempuan Laut yang diperankan Yunita Siregar, menjadi salah satu tokoh utama dalam sisi keluarga ini. Sebagai mahasiswi kedokteran, ia memiliki kehidupannya sendiri, tetapi pencarian terhadap kakaknya dan kawan-kawan Laut menjadi bagian penting dari pengalamannya setelah mereka tertangkap dan menghilang. Asmara tidak sekadar hadir sebagai anggota keluarga yang menunggu; ia turut mencari mereka. Posisi tersebut memperlihatkan bagaimana kabar kehilangan mengubah perhatian dan keseharian orang-orang yang ditinggalkan. Melalui Asmara, cerita juga menempatkan generasi muda dalam hubungan yang dekat dengan konsekuensi politik, meskipun mereka tidak berada di pusat aktivitas yang sama dengan Laut.
Orang tua Laut, Bapak dan Ibu Wibisana, menghadirkan pengalaman kehilangan dari sudut yang berbeda. Bapak Wibisana diperankan Arswendy Bening Swara dan dikenal sebagai wartawan senior di sebuah surat kabar harian. Sementara itu, Ibu Wibisana, yang diperankan Christine Hakim, pernah menjadi fotografer saat muda dan terus mencari Laut setelah menerima kabar bahwa anaknya hilang. Latar dan pengalaman keduanya memberi konteks bagi keluarga yang berhadapan dengan ketidakpastian, sekaligus mengingatkan bahwa pencarian dapat berlangsung dalam ruang personal maupun sosial. Kehadiran Asmara dan kedua orang tuanya membuat kisah ini mencakup mereka yang terus berharap dan mencari, bukan hanya mereka yang berjuang secara langsung. Dengan demikian, keluarga Laut memperluas makna kehilangan: ia menjadi pengalaman bersama yang membekas pada kehidupan orang-orang terdekat, bahkan ketika keberadaan Laut belum diketahui.
Film Laut Bercerita berangkat dari novel fiksi historis karya Leila S. Chudori, penulis yang merangkai pengalaman personal dan gejolak politik Indonesia ke dalam kisah tentang aktivisme, kehilangan, serta keluarga. Novel ini pertama kali diterbitkan pada 2017 dan mengambil latar masa ketika suara kritis menghadapi tekanan. Melalui tokoh-tokohnya, cerita menyoroti pilihan untuk melawan ketidakadilan sekaligus dampak yang ditanggung orang-orang terdekat. Karena itu, karya ini tidak hanya membangun gambaran tentang peristiwa politik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah dapat meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan sehari-hari. Latar tersebut menjadi dasar penting bagi adaptasi filmnya.
Sejak terbit, novel ini memperoleh perhatian luas dari pembaca. Penjualannya telah melampaui 500 ribu eksemplar, sebuah capaian yang menunjukkan jangkauan cerita di luar kalangan pembaca fiksi sejarah. Pengakuan terhadap karya Chudori juga datang melalui penghargaan Book of the Year dalam IKAPI Awards 2022. Capaian itu menempatkan novel ini sebagai salah satu karya Indonesia yang memperoleh sambutan kuat, baik dari pembaca maupun lingkungan penerbitan. Popularitas dan pengakuan tersebut memberi konteks bagi hadirnya versi layar lebar: adaptasi ini membawa cerita yang telah dikenal banyak orang ke medium berbeda, dengan ruang untuk menampilkan suasana, tokoh, dan hubungan keluarga secara visual.
Jangkauan kisahnya turut meluas melalui penerbitan terjemahan bahasa Inggris berjudul The Sea Speaks His Name, yang diterbitkan oleh Penguin Random House.
Baca juga: Kehilangan Berharga: Kisah Anak Yatim Korban Penjambretan | Mall Terbaik untuk Keluarga dan Anak di Jakarta | Mengenal Abe Hoed: Musisi Berbakat dari Keluarga Ternama















