banner 728x250
Polri  

Tuban dan Harapan Baru: Saat Polisi Benar-Benar Hadir untuk Rakyat

banner 120x600
banner 468x60

Tuban, Jawa Timur — Pagi itu, Tuban tidak hanya disinari matahari, tetapi juga oleh sesuatu yang lebih hangat: senyum tulus dari balik seragam cokelat. Tanpa raungan sirene, tanpa peluit, tanpa wajah tegang, jajaran Satlantas Polres Tuban melangkah masuk ke desa-desa—bukan untuk menilang, melainkan menyapa.

Program itu bernama Polantas Menyapa. Sebuah langkah sederhana yang diam-diam menggugah hati dan meruntuhkan jarak lama antara polisi dan masyarakat.

banner 325x300

Saat Polisi Datang Tanpa Menakutkan

Tak ada batas.
Tak ada ketegangan.

Yang ada hanyalah sapaan ramah dan obrolan ringan. Di pos pelayanan sederhana, warga berdatangan bukan karena melanggar aturan, tetapi karena merasa diterima. Seorang petani bercaping duduk sejajar dengan petugas. Seorang ibu rumah tangga bertanya soal SIM tanpa rasa takut disalahkan.

“Bapak, Ibu, santai saja. Kami di sini untuk membantu, bukan mempersulit,”
ucap seorang petugas dengan senyum yang tulus.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun daya sentuhnya luar biasa—seolah merobohkan tembok psikologis yang selama ini membuat polisi terasa jauh dan menakutkan.

Dari Takut Menjadi Berani, Dari Bingung Menjadi Paham

Selama ini, urusan SIM, pajak kendaraan, hingga BPKB sering dianggap momok: rumit, mahal, dan melelahkan. Namun pagi itu, stigma itu perlahan luruh.

Di pasar, pedagang menerima brosur edukasi pajak kendaraan. Penjelasan diberikan dengan bahasa sederhana, tanpa tekanan, tanpa nada menggurui.

“Biasanya kami takut tanya, Mas. Sekarang jadi paham. Terima kasih sudah mau turun ke bawah,”
ujar seorang pedagang sayur, matanya berbinar.

Bukan hanya informasi yang mereka terima, tetapi rasa dihargai sebagai manusia.

BPKB Tak Lagi Menjadi Misteri

Bagi warga yang baru membeli sepeda motor, penjelasan tentang pengambilan BPKB menjadi angin segar. Petugas menjelaskan pelan-pelan, memastikan tak ada yang pulang dengan kebingungan.

“Kami tidak ingin masyarakat takut atau salah langkah. Polisi harus hadir memberi kepastian,”
tutur salah satu petugas.

Kalimat itu mungkin singkat, namun maknanya dalam—dan terasa langka dalam pelayanan publik.

Kasat Lantas Tuban: Polisi Harus Membumi

Kasat Lantas Polres Tuban, AKP Muhammad Hariyazie Syakhranie, S.Tr.K., S.I.K., menegaskan bahwa Polantas Menyapa bukanlah program seremonial.

“Kami ingin masyarakat merasakan polisi sebagai sahabat. Tidak ada rasa takut, tidak ada kebingungan. Kami ingin hadir dan menemani,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan sekadar janji—ia dibuktikan langsung di lapangan.

Lebih dari Program, Ini Tentang Rasa

Hari itu, Tuban menyaksikan wajah lain kepolisian.
Bukan wajah yang kaku, tetapi wajah yang manusiawi.
Bukan sekadar aturan, tetapi kepedulian.

Polantas Menyapa bukan hanya mengajarkan tertib lalu lintas.
Ia menumbuhkan kepercayaan.
Ia menghadirkan rasa aman.
Ia menyentuh hati.

Sebuah langkah kecil dengan dampak besar:
polisi tak lagi ditakuti, tetapi dinanti.

Dan dari desa-desa di Tuban, harapan itu mulai tumbuh—
bahwa pelayanan publik masih bisa hadir dengan hati.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *