banner 728x250

The Telkom Hub Catat Operasional Bebas Emisi, Telkom Perkuat Transisi Energi Bersih

Telkom Indonesia Capai Net Zero Emisi di The Telkom Hub
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pencapaian penting dalam agenda dekarbonisasi operasional perusahaan. Kawasan The Telkom Hub kini mencapai status net zero emission untuk emisi cakupan 1 dan 2, yaitu emisi yang berasal langsung dari aktivitas operasional serta penggunaan energi yang dibeli. Pencapaian tersebut menegaskan komitmen Telkom dalam mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan bisnis dan mempercepat penerapan energi bersih di lingkungan kerja.

Status tersebut ditandai dengan penyerahan renewable energy certificate (REC) dan sertifikat pengurangan emisi gas rumah kaca (SPE GRK) oleh PT Energy Management Indonesia (EMI). Penyerahan berlangsung di Jakarta pada Rabu, 23 September 2026, sebagai bagian dari pengakuan atas upaya The Telkom Hub dalam mengelola konsumsi energi dan menekan emisi operasional. REC merepresentasikan penggunaan energi listrik yang bersumber dari energi terbarukan, sedangkan SPE GRK menunjukkan pengurangan emisi yang telah dihitung dan didukung melalui mekanisme yang berlaku.

banner 325x300

Penetapan net zero emission ini terutama berkaitan dengan emisi cakupan 1 dan 2 di kawasan The Telkom Hub. Artinya, capaian tersebut tidak dapat dimaknai sebagai klaim bahwa seluruh aktivitas, rantai pasok, produk, atau layanan Telkom telah bebas emisi. Emisi tidak langsung dalam cakupan 3, termasuk yang berasal dari pemasok, perjalanan dinas, mobilitas, penggunaan produk, dan aktivitas mitra, memiliki karakteristik serta tantangan pengelolaan yang berbeda. Karena itu, pencapaian ini perlu dipahami sebagai langkah terukur dalam perjalanan transisi energi bersih Telkom, sekaligus fondasi untuk memperluas pengurangan emisi ke sumber-sumber lain secara bertahap. Transparansi mengenai batasan cakupan emisi juga membantu memastikan bahwa klaim keberlanjutan perusahaan disampaikan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pencapaian The Telkom Hub yang mencatat operasional bebas emisi pada cakupan emisi 1 dan 2 menjadi bagian penting dalam rencana transisi iklim TelkomGroup. Capaian tersebut menunjukkan bahwa agenda pengurangan emisi tidak hanya dirumuskan sebagai target jangka panjang, tetapi juga mulai diterapkan melalui pengelolaan operasional di lingkungan perusahaan. Dengan demikian, The Telkom Hub menjadi salah satu kawasan yang merepresentasikan langkah Telkom dalam mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dan pengendalian emisi secara terukur.

Dalam rencana transisi iklimnya, Telkom menargetkan penurunan emisi secara bertahap hingga mencapai operasional net zero emission 100 persen pada 2060. Target tersebut menjadi arah jangka panjang bagi penguatan efisiensi energi, pemanfaatan sumber energi bersih, serta penerapan praktik operasional yang mendukung pengurangan jejak karbon. Pencapaian di The Telkom Hub menegaskan bahwa proses menuju sasaran tersebut dapat dibangun melalui langkah konkret di tingkat kawasan dan fasilitas perusahaan, sesuai dengan cakupan emisi yang dikelola.

Vice President Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menyampaikan bahwa keberhasilan The Telkom Hub pada cakupan emisi 1 dan 2 merupakan tonggak penting bagi perjalanan transisi tersebut. Menurutnya, capaian ini memperlihatkan bahwa dekarbonisasi dapat diterapkan secara nyata pada tingkat operasional perusahaan. Pernyataan itu menempatkan The Telkom Hub sebagai bagian dari proses penerjemahan komitmen iklim TelkomGroup ke dalam pelaksanaan sehari-hari, sekaligus mendukung upaya penurunan emisi secara bertahap menuju target operasional net zero emission 100 persen pada 2060.

Telkom bersama anak usahanya, NeutraDC, mengambil langkah penguatan transisi energi bersih melalui pembelian 45.407 unit Renewable Energy Certificate (REC) berbasis pembangkit listrik tenaga air (PLTA). REC merupakan instrumen berbasis pasar yang merepresentasikan atribut energi terbarukan dari listrik yang dihasilkan pembangkit tertentu. Dengan memperoleh sertifikat tersebut, perusahaan dapat mendokumentasikan penggunaan atribut energi listrik terbarukan dalam pelaporan keberlanjutan dan penghitungan emisi berdasarkan pendekatan market-based.

Pembelian REC ini diproyeksikan mengurangi potensi emisi karbon cakupan 2 market-based hingga 42.425,7 ton CO2e. Cakupan 2 merujuk pada emisi tidak langsung yang berkaitan dengan konsumsi energi yang dibeli, termasuk listrik. Pendekatan market-based memperhitungkan instrumen kontraktual atau sertifikat yang memberikan informasi mengenai sumber dan atribut energi, sehingga hasil perhitungannya berbeda dari pendekatan location-based yang mengacu pada faktor emisi rata-rata jaringan listrik di suatu wilayah.

Angka 45.407 unit dan 42.425,7 ton CO2e menunjukkan dua hal yang berbeda. Jumlah 45.407 unit adalah volume REC yang dibeli, sedangkan 42.425,7 ton CO2e merupakan besaran pengurangan potensi emisi yang diproyeksikan berdasarkan atribut energi terbarukan yang melekat pada sertifikat tersebut. Dengan demikian, angka pengurangan itu tidak boleh ditafsirkan sebagai jumlah REC ataupun sebagai pengurangan emisi aktual yang telah terjadi secara langsung di luar informasi yang tersedia. Penyampaian yang membedakan kedua indikator tersebut penting untuk menjaga transparansi, terutama dalam pelaporan kinerja lingkungan dan komunikasi mengenai kontribusi perusahaan terhadap dekarbonisasi operasional.

Melalui mekanisme ini, Telkom dan NeutraDC menempatkan sumber energi terbarukan sebagai bagian dari strategi pengelolaan emisi operasional. Dokumentasi pembelian REC juga dapat memperkuat keterlacakan klaim energi bersih, selama perhitungannya disusun sesuai metodologi yang berlaku dan didukung informasi mengenai periode, cakupan penggunaan, serta karakteristik sertifikat.

Pengelolaan energi di kawasan The Telkom Hub diperkuat melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk mendukung kebutuhan operasional sehari-hari. Salah satu penerapannya terlihat pada penggunaan 77 unit penerangan jalan umum tenaga surya (PJUTS) yang ditempatkan di area kawasan. Perangkat tersebut memanfaatkan energi matahari sebagai sumber daya penerangan, sehingga kebutuhan listrik dari jaringan konvensional dapat ditekan, khususnya untuk penerangan ruang luar dan jalur sirkulasi di lingkungan The Telkom Hub.

Pengoperasian 77 unit PJUTS itu disebut mampu menghemat konsumsi listrik gedung Telkom Landmark Tower sebesar 20.235,6 kWh per tahun. Penghematan tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi tenaga surya dapat memberikan dampak terukur terhadap efisiensi pemakaian energi dalam kawasan perkantoran. Selain mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik untuk kebutuhan penerangan, penggunaan PJUTS juga menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan solusi energi bersih ke dalam pengelolaan fasilitas dan infrastruktur kawasan.

Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower, Suratman, menjelaskan bahwa efisiensi konsumsi daya tidak hanya dilakukan melalui penggunaan penerangan berbasis tenaga surya. Pengelola juga menerapkan building management system untuk memaksimalkan efisiensi konsumsi daya gedung. Sistem ini mendukung pengelolaan penggunaan energi secara lebih terukur, sehingga operasional fasilitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi gedung.

Penerapan PJUTS dan building management system tersebut memperlihatkan pendekatan berlapis dalam mengelola konsumsi energi di The Telkom Hub. Pemanfaatan energi matahari untuk penerangan kawasan berjalan berdampingan dengan pengendalian konsumsi daya di dalam gedung Telkom Landmark Tower. Kedua langkah operasional ini mendukung efisiensi energi sekaligus memperkuat upaya pencapaian net zero emisi di kawasan The Telkom Hub.

banner 325x300