Jakarta | Survei Voxpol Center Research and Consulting mencatat bahwa 63,1 persen responden menyatakan percaya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Temuan tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh orang yang menjawab survei menyampaikan tingkat kepercayaan positif terhadap pemerintahan saat ini. Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi, menyampaikan angka itu di Jakarta pada Kamis. Persentase tersebut menjadi temuan utama yang disampaikan lembaga survei mengenai pandangan responden terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran.
Di sisi lain, sebanyak 35,7 persen responden menyatakan kurang percaya atau tidak percaya terhadap pemerintahan tersebut. Angka ini merupakan gabungan dua kategori jawaban yang disebutkan dalam paparan hasil survei. Dengan demikian, hasil yang disampaikan memperlihatkan adanya kelompok responden yang menyatakan kepercayaan dan kelompok lain yang mengutarakan keraguan atau ketidakpercayaan. Selisih persentase yang menyatakan percaya dan yang kurang percaya atau tidak percaya adalah 27,4 poin persentase. Perbandingan itu menggambarkan distribusi jawaban dalam survei, bukan penjelasan mengenai alasan di balik masing-masing pilihan.
Angka 63,1 persen perlu dibaca sebagai jawaban responden atas pertanyaan mengenai kepercayaan kepada pemerintahan Prabowo–Gibran. Temuan tersebut tidak dengan sendirinya mengukur dukungan terhadap kebijakan tertentu, pilihan politik, atau penilaian atas seluruh kinerja pemerintah. Demikian pula, persentase 35,7 persen hanya menerangkan jawaban kurang percaya atau tidak percaya sebagaimana dilaporkan, tanpa menguraikan latar belakang sikap responden. Karena itu, informasi yang dapat ditegaskan dari paparan Voxpol adalah besaran masing-masing jawaban dan pernyataan Pangi Syarwi tentang tingkat kepercayaan tersebut. Hasil survei ini merupakan gambaran tanggapan para responden, dan tidak sepatutnya ditafsirkan sebagai bentuk dukungan yang tidak dinyatakan dalam temuan.
Pangi menilai tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran tergolong relatif kuat. Penilaian itu tidak hanya merujuk pada satu segmen masyarakat, sebab dukungan dan keyakinan terhadap pemerintah disebut tersebar di berbagai wilayah maupun kelompok demografis. Dalam pembacaan hasil survei Voxpol, variasi tersebut mencakup kelompok usia, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan. Dengan demikian, kepercayaan yang tercatat tidak terbatas pada satu kelompok sosial tertentu. Pangi memandang sebaran itu sebagai salah satu gambaran penting untuk memahami posisi pemerintah di tengah masyarakat, selain angka kepercayaan secara keseluruhan yang menjadi perhatian survei.
Di tingkat wilayah, beberapa kawasan mencatat tingkat keyakinan yang menonjol. Bali–NTB–NTT berada pada angka 88,40 persen, disusul Sulawesi sebesar 75,60 persen, serta Maluku–Papua sebesar 71,30 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan hasil untuk wilayah yang disebutkan dalam survei, dan tidak dengan sendirinya menggambarkan seluruh kelompok usia, pendidikan, atau pendapatan. Pangi menempatkan capaian regional itu sebagai bagian dari gambaran sebaran kepercayaan, bukan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa setiap warga di kawasan tersebut memiliki pandangan yang sama. Perbedaan nilai antarkawasan juga perlu dibaca sesuai cakupan data yang disampaikan.
Dari sisi afiliasi politik, pemilih Gerindra disebut menjadi basis kepercayaan terkuat terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran. Keterangan ini memperlihatkan bahwa keterkaitan politik turut menjadi salah satu dimensi yang diperhatikan dalam membaca hasil survei. Namun, temuan mengenai basis terkuat tersebut tidak menghapus gambaran lebih luas yang disampaikan Pangi, yakni bahwa kepercayaan juga hadir di beragam wilayah dan kelompok masyarakat. Rincian yang tersedia tidak memberikan angka untuk setiap kategori usia, pendidikan, maupun pendapatan, sehingga kategori-kategori itu tidak dapat dibandingkan secara lebih terperinci. Secara keseluruhan, penilaian Pangi menekankan bahwa tingkat kepercayaan relatif kuat dan tersebar, sementara angka wilayah serta afiliasi politik memberi konteks khusus pada sejumlah bagian dari hasil survei.
Menurut Pangi, tingkat kepercayaan sebesar 63,1 persen menunjukkan adanya optimisme masyarakat terhadap kepemimpinan nasional di bawah pemerintahan Prabowo–Gibran. Ia menilai angka tersebut bukan sekadar gambaran penerimaan publik pada satu waktu, melainkan juga menandakan tersedianya ruang bagi pemerintah untuk membuktikan kapasitasnya. Kepercayaan yang tercatat, dalam pandangan Pangi, dapat menjadi dorongan bagi jajaran pemerintah untuk bekerja lebih efektif, menjawab kebutuhan warga, dan menjaga arah kebijakan tetap selaras dengan harapan masyarakat. Meski demikian, ia memandang kepercayaan publik perlu dirawat melalui tindakan nyata, bukan dianggap sebagai dukungan yang akan bertahan dengan sendirinya.
Pangi menyebut capaian itu dapat dimanfaatkan sebagai landasan untuk memperkuat kinerja pemerintahan dan merealisasikan program-program prioritas. Menurutnya, dukungan masyarakat memberi pemerintah peluang untuk mendorong pelaksanaan kebijakan secara lebih konsisten, sekaligus memastikan hasilnya dapat dirasakan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada perencanaan, tetapi juga pada pelaksanaan yang terukur dan tanggapan terhadap persoalan di lapangan. Dalam penilaian Pangi, pemerintah perlu menunjukkan kemajuan yang relevan bagi kehidupan masyarakat agar optimisme yang tercermin dalam survei tetap terjaga. Karena itu, capaian survei tersebut ia tempatkan sebagai modal awal yang menuntut tindak lanjut berkelanjutan.
Lebih lanjut, Pangi memandang kepercayaan itu sebagai peluang untuk memperkuat legitimasi pemerintah dan memperluas dukungan publik. Ia menilai konsistensi kinerja menjadi penting agar kepercayaan tidak berhenti pada penilaian awal, tetapi berkembang seiring bukti pelaksanaan kebijakan. Pangi juga mengaitkan keberlanjutan dukungan dengan pemerataan manfaat program, sehingga hasil pembangunan tidak hanya dirasakan kelompok atau wilayah tertentu. Menurut pandangannya, peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan pemerintah dengan publik. Dengan demikian, angka 63,1 persen, sebagaimana ditafsirkan Pangi, menyediakan kesempatan bagi pemerintah untuk memperkuat kepercayaan melalui kinerja yang konsisten, manfaat kebijakan yang lebih merata, dan perhatian berkelanjutan terhadap kesejahteraan warga.
Survei Voxpol mengenai kepercayaan terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran dilaksanakan pada 3–12 Oktober 2026. Dalam rentang waktu tersebut, survei melibatkan 1.200 responden. Kedua informasi ini menjadi dasar untuk memahami cakupan pengumpulan data yang dilaporkan Voxpol: periode pelaksanaan menunjukkan kapan wawancara berlangsung, sementara jumlah responden menerangkan banyaknya orang yang berpartisipasi. Rincian tersebut merupakan bagian penting dalam membaca hasil survei, termasuk angka kepercayaan yang disampaikan, karena memberikan konteks tentang proses pengumpulan informasi. Keterangan yang tersedia mencantumkan jumlah responden dan waktu pelaksanaan tanpa merinci karakteristik peserta.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka. Wawancara dilaksanakan oleh enumerator terlatih dengan menggunakan aplikasi berbasis Android bernama i-Voxpol. Dengan demikian, cara pengumpulan data yang disebutkan dalam survei ini melibatkan interaksi langsung enumerator dan responden, sedangkan aplikasi tersebut digunakan sebagai perangkat dalam pelaksanaan wawancara. Informasi metodologis yang disampaikan tidak menjelaskan fitur aplikasi atau tahapan teknis penggunaannya, sehingga keterangan tentang i-Voxpol terbatas pada nama, basis Android, dan pemakaiannya oleh enumerator dalam wawancara. Penyebutan enumerator terlatih juga merupakan rincian yang dilaporkan terkait pelaksana pengumpulan data.
Voxpol menyatakan menggunakan metode multistage random sampling untuk survei ini. Metode tersebut dicantumkan sebagai pendekatan pengambilan sampel yang digunakan untuk memastikan keterwakilan populasi. Hasil survei dilaporkan memiliki margin of error sebesar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Kedua ukuran itu melengkapi informasi tentang metode dan cakupan survei, serta membantu pembaca menempatkan hasil dalam konteks ketidakpastian statistik yang dinyatakan. Secara keseluruhan, rincian yang tersedia mencakup periode pelaksanaan, jumlah responden, teknik wawancara, perangkat yang digunakan, metode sampling, margin of error, dan tingkat kepercayaan. Tidak ada keterangan lain mengenai komposisi sampel atau prosedur tambahan dalam rincian metodologi yang disampaikan tersebut.
Baca juga: Kekhawatiran Mahasiswa IPB Terhadap Pria yang Berdiri di Pinggir Jalan | Pemkab Tangerang Tegaskan Sikap Terhadap Kasus Pelecehan Seksual | Dampak Impor Udang Terhadap Petambak Nasional















