banner 728x250

Rupiah Melemah ke Rp18.174 per Dolar AS di Tengah Tekanan Domestik

Rupiah Melemah ke Rp18.174 per Dolar AS di Tengah Tekanan Domestik
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Mata uang Indonesia berada di level Rp18.174 per dolar AS, turun 18 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan perdagangan Selasa yang tercatat Rp18.156 per dolar AS. Pergerakan pada pembukaan ini menunjukkan bahwa rupiah memulai perdagangan hari tersebut di bawah posisi akhir sesi sebelumnya.

Penurunan pada Rabu itu melanjutkan pelemahan yang telah terjadi sehari sebelumnya. Pada penutupan Selasa, rupiah melemah 21 poin atau 0,12 persen dari penutupan sehari sebelumnya, yakni Rp18.135 per dolar AS. Dengan demikian, rangkaian pergerakan yang tercatat memperlihatkan penurunan dari Rp18.135 ke Rp18.156, kemudian berlanjut ke Rp18.174 per dolar AS pada pembukaan Rabu.

banner 325x300

Perbandingan angka tersebut memberi gambaran perubahan nilai tukar dalam dua tahap. Pertama, rupiah ditutup melemah pada Selasa dengan selisih 21 poin dari posisi penutupan sebelumnya. Berikutnya, pada pembukaan Rabu, rupiah kembali turun 18 poin dari penutupan Selasa. Persentase pelemahan yang menyertai kedua catatan itu masing-masing sebesar 0,12 persen dan 0,10 persen.

Level Rp18.174 per dolar AS menjadi posisi rupiah pada awal perdagangan Rabu, sedangkan Rp18.156 merupakan acuan penutupan pada Selasa. Adapun Rp18.135 menunjukkan posisi penutupan sehari sebelum Selasa. Penyebutan ketiga level tersebut membantu memperjelas urutan pergerakan tanpa mencampuradukkan nilai pembukaan Rabu dengan nilai penutupan hari-hari sebelumnya. Berdasarkan data yang tersedia, perkembangan utama pada periode ini adalah pelemahan rupiah yang berlangsung pada penutupan Selasa dan berlanjut pada pembukaan Rabu, dengan perubahan masing-masing 21 poin dan 18 poin. Angka-angka itu menggambarkan kondisi nilai tukar pada waktu yang disebutkan, bukan perubahan di luar catatan tersebut.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari tekanan yang berlangsung di pasar keuangan domestik. Pasar saham dan obligasi dalam negeri yang tertekan dapat memengaruhi sentimen investor serta mendorong kehati-hatian dalam menempatkan dana. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya konversi simpanan masyarakat dari rupiah ke valuta asing. Peralihan ini menambah permintaan terhadap mata uang asing, termasuk dolar AS, ketika rupiah sedang menghadapi tekanan. Menurut Rully, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor domestik yang ikut membebani pergerakan rupiah terhadap dolar AS, di samping dinamika pasar secara lebih luas.

Rully juga menyoroti kenaikan simpanan valas yang mencapai 20 persen. Peningkatan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian masyarakat memilih mengalihkan atau menyimpan lebih banyak dana dalam mata uang asing. Perubahan perilaku ini dapat mencerminkan meningkatnya preferensi untuk memegang dolar AS, terutama sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan pelemahan rupiah yang berlanjut. Dengan kata lain, keputusan masyarakat menyimpan valas tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan transaksi, tetapi juga dapat dipengaruhi pertimbangan menjaga nilai dana di tengah ketidakpastian nilai tukar. Namun, angka kenaikan simpanan itu sendiri tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh masyarakat mengambil langkah yang sama.

Peralihan simpanan ke valas juga memiliki risiko bagi kondisi pasar domestik. Jika permintaan dolar AS meningkat sementara pasokannya terbatas, likuiditas dolar di dalam negeri berpotensi mengetat. Rully menyebut kemungkinan kelangkaan likuiditas dolar AS di pasar domestik sebagai risiko yang perlu diperhatikan. Situasi tersebut dapat membuat ketersediaan dolar untuk memenuhi kebutuhan pelaku ekonomi menjadi lebih terbatas dan menambah tekanan pada pasar valuta asing. Risiko itu bukan kepastian bahwa kelangkaan akan terjadi, melainkan kemungkinan yang muncul apabila kebutuhan dolar terus meningkat dan pasokan tidak memadai. Karena itu, tekanan pada saham dan obligasi serta perubahan komposisi simpanan masyarakat perlu dicermati bersama dalam menilai faktor-faktor yang memengaruhi rupiah.

Selain tekanan pada nilai tukar, pasar keuangan domestik juga mencatat koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks tersebut melemah hingga menembus kisaran level 5.300. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terlihat di pasar valuta asing, tetapi juga tercermin pada perdagangan saham. Kisaran 5.300 menjadi penanda tingkat indeks yang ditembus dalam koreksi tersebut, sementara angka itu sendiri menggambarkan posisi IHSG pada saat pelemahan berlangsung. Informasi mengenai koreksi ini melengkapi gambaran kondisi pasar domestik yang sedang menghadapi tekanan.

Tekanan lain muncul di pasar obligasi pemerintah, melalui bentuk kurva imbal hasil yang mengalami inversi. Dalam keadaan yang dilaporkan, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor acuan 10 tahun tercatat lebih rendah daripada imbal hasil obligasi dengan tenor 8 hingga 9 tahun. Perbandingan tersebut menjadi inti dari keterangan mengenai inversi: instrumen dengan jangka waktu 10 tahun menawarkan imbal hasil yang lebih kecil daripada instrumen dengan jangka waktu yang lebih pendek, yakni delapan atau sembilan tahun. Jadi, istilah inversi di sini merujuk pada urutan imbal hasil antartenor itu.

Tenor menunjukkan jangka waktu obligasi, sedangkan imbal hasil merupakan tingkat hasil yang tercatat untuk obligasi tersebut. Karena itu, membandingkan tenor 10 tahun dengan tenor 8 hingga 9 tahun berarti melihat perbedaan tingkat imbal hasil surat utang yang masa berlakunya lebih panjang dan yang masa berlakunya lebih pendek. Dalam data yang disebutkan, arah perbandingannya tidak mengikuti urutan tenor: angka imbal hasil pada tenor 10 tahun berada di bawah angka pada tenor 8 sampai 9 tahun. Itulah makna faktual inversi kurva imbal hasil yang dilaporkan, tanpa perlu mengaitkannya dengan penjelasan atau konsekuensi lain.

Di tengah tekanan yang membebani rupiah, perkembangan eksternal memberi sejumlah sinyal yang berpotensi mengurangi sebagian tekanan tersebut. Pergerakan harga minyak dunia, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan perubahan perkiraan terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar. Ketiganya dapat memengaruhi biaya impor, daya tarik aset berdenominasi dolar, serta sentimen terhadap mata uang negara berkembang. Meski begitu, pengaruhnya terhadap rupiah tidak berdiri sendiri, karena kondisi domestik dan respons pasar juga menentukan bagaimana sinyal global diterjemahkan.

Harga minyak yang lebih rendah berpotensi membantu meredakan tekanan biaya energi, terutama bagi negara yang mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya. Penurunan harga komoditas tersebut dapat mengurangi kekhawatiran mengenai beban impor dan dampaknya terhadap neraca perdagangan maupun kebutuhan valuta asing. Pada perdagangan terkait, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun US$1,51, atau 1,46 persen, menjadi US$101,76 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember melemah 91 sen, atau 0,78 persen, ke US$115,81 per barel. Koreksi kedua acuan tersebut menjadi salah satu perkembangan eksternal yang dapat meringankan tekanan dari sisi energi.

Selain minyak, perubahan pada pasar obligasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Imbal hasil Treasury yang turun dapat mengurangi daya tarik relatif aset berdenominasi dolar, khususnya ketika investor membandingkan potensi imbal hasil di berbagai pasar. Perkembangan ini beriringan dengan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve. Jika pasar memperkirakan pengetatan moneter yang lebih terbatas, tekanan dari penguatan dolar dapat berkurang, meskipun pergerakan mata uang tetap dipengaruhi oleh data ekonomi dan keputusan kebijakan berikutnya. Dalam perdagangan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun 1,8 basis poin ke 4,97 persen.

Baca juga: Prediksi Melemahnya Rupiah di Tengah Sorotan Ekonomi Global | Antam Tingkatkan Penyerapan Emas Domestik untuk Memperkuat Ekosistem

banner 325x300