banner 728x250

Riset AI Unissula tentang Pengelolaan Air Tampil di Kongres ICID Prancis

Riset AI Unissula tentang Pengelolaan Air Tampil di Kongres ICID Prancis
banner 120x600
banner 468x60

Semarang | Delegasi Program Doktor Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) memperkenalkan dua inovasi berbasis kecerdasan buatan untuk pengelolaan air dalam Kongres Internasional Irigasi dan Drainase (ICID) ke-26. Kehadiran tersebut membawa hasil riset dari Indonesia ke forum ilmiah internasional yang mempertemukan para ahli, peneliti, dan praktisi di bidang irigasi serta drainase.

Delegasi Unissula terdiri atas mahasiswa doktor Ari Sentani dan Yulia Indriani, serta asisten peneliti Rahmatia Sarah Wahyudi. Ketiganya mewakili lingkungan akademik Unissula dalam mempresentasikan riset yang menghubungkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan dengan tantangan pengelolaan sumber daya air. Partisipasi ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menjelaskan pendekatan dan gagasan yang dikembangkan oleh tim peneliti Indonesia kepada peserta kongres dari berbagai negara.

banner 325x300

Kongres ICID ke-26 berlangsung pada 12–17 Oktober 2026 di Parc Chanot, Marseille, Prancis. Dengan lokasi tersebut, kegiatan ini merupakan forum internasional yang diselenggarakan di Prancis, bukan peristiwa yang berlangsung di Indonesia. Riset Unissula menjadi kontribusi dari Indonesia yang diperkenalkan di hadapan komunitas global, sekaligus menempatkan kajian pengelolaan air berbasis teknologi sebagai bagian dari percakapan lintas negara.

Penggunaan kecerdasan buatan dalam riset pengelolaan air relevan dengan kebutuhan untuk mengembangkan analisis dan dukungan pengambilan keputusan yang lebih responsif. Namun, nilai sebuah inovasi juga ditentukan oleh kesesuaiannya dengan persoalan nyata, ketersediaan data, dan kondisi penerapan. Melalui presentasi di kongres, delegasi dapat menyampaikan gagasan penelitian sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dengan pihak yang memiliki pengalaman dan perspektif berbeda.

Keterlibatan mahasiswa doktor bersama asisten peneliti mencerminkan kerja akademik yang melibatkan pembelajaran dan kolaborasi. Forum seperti ICID menyediakan ruang bagi peneliti untuk menguji relevansi gagasan, memperoleh masukan, serta membangun jejaring profesional. Bagi Unissula, keikutsertaan ini memperluas visibilitas riset kampus. Bagi Indonesia, presentasi tersebut memperkenalkan upaya peneliti dalam menjawab isu air melalui pendekatan ilmiah dan teknologi. Dua inovasi yang dibawa menjadi representasi kontribusi akademik Indonesia dalam diskusi internasional mengenai irigasi, drainase, dan pengelolaan air berkelanjutan.

Dalam presentasinya, Ari Sentani menjelaskan kerangka pemodelan RIVANA dengan mengambil Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang sebagai studi kasus. Kerangka ini dirancang untuk membaca dinamika sungai melalui penggabungan pemahaman atas proses fisik aliran dan pendekatan machine learning. Dengan demikian, RIVANA tidak hanya menempatkan sungai sebagai rangkaian data, tetapi juga mempertimbangkan proses alamiah yang membentuk perubahan kondisi sungai dari waktu ke waktu. Penyebutan DAS Tuntang memberi konteks bagi penjelasan mengenai bagaimana kerangka tersebut dapat digunakan untuk mengkaji persoalan pengelolaan sungai secara terpadu. Fokus pembahasan bukan pada satu indikator semata, melainkan pada keterkaitan aliran, erosi, pengangkutan material, dan potensi perubahan dasar sungai.

Dalam kerangka ini, proses fisik sungai menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana erosi berlangsung dan bagaimana material sedimen bergerak mengikuti dinamika aliran. Machine learning kemudian dipadukan untuk membantu memprediksi erosi, pergerakan sedimen, serta risiko pendangkalan. Kombinasi tersebut menghubungkan gambaran proses sungai dengan kemampuan analisis berbasis data, sehingga berbagai unsur yang berkaitan dengan perubahan kondisi sungai dapat dipertimbangkan bersama. Pada studi kasus DAS Tuntang, perhatian diarahkan pada hubungan erosi di wilayah sungai, perpindahan sedimen, dan penumpukan material yang berpotensi mengubah kedalaman alur. Pendangkalan penting dicermati karena dapat menjadi salah satu faktor yang memicu banjir. Prediksi dalam kerangka ini membantu mengenali risiko tersebut sebagai bagian dari persoalan pengelolaan sungai, bukan sekadar mengamati kondisi permukaan secara terpisah.

Menurut Ari, analisis RIVANA mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan sungai secara cepat dan akurat. Informasi mengenai erosi, pergerakan sedimen, serta risiko pendangkalan dapat menjadi pertimbangan ketika pihak terkait menilai kondisi sungai dan menentukan langkah pengelolaannya. Pemaduan proses fisik dengan machine learning memberi kerangka untuk menyusun prediksi yang relevan dengan dinamika tersebut. Dalam konteks DAS Tuntang, pendekatan ini menunjukkan fokus pada keterkaitan proses alamiah dan analisis komputasional. Presentasi Ari menempatkan kemampuan prediksi sebagai dukungan bagi keputusan, bukan sebagai pengganti pertimbangan dalam pengelolaan sungai.

Riset Yulia Indriani membahas optimasi pengelolaan tampungan air di Heritage Solo Valley dan DAS Karangnongko. Kajian ini berangkat dari kebutuhan untuk mengatur air secara cermat, terutama ketika pasokan perlu disimpan untuk mendukung irigasi atau dilepaskan demi mengurangi tekanan aliran. Pengelolaan tampungan tidak hanya berkaitan dengan jumlah air yang tersedia, tetapi juga dengan keputusan mengenai kapan air sebaiknya ditahan dan kapan perlu dialirkan. Karena kebutuhan pertanian dan kondisi aliran dapat berubah, penentuan waktu menjadi bagian penting dalam upaya menjaga fungsi tampungan. Melalui riset tersebut, Yulia menelaah bagaimana pendekatan komputasional dapat membantu proses pengambilan keputusan pada dua lokasi kajian itu.

Model yang digunakan memanfaatkan algoritma reinforcement learning untuk menyimulasikan pengelolaan tampungan dan menentukan waktu yang tepat untuk menyimpan atau melepaskan air. Dalam simulasi, algoritma mempelajari pilihan tindakan berdasarkan keadaan yang dihadapi serta hasil dari keputusan sebelumnya. Pendekatan ini memungkinkan berbagai skenario pengaturan air diuji, sehingga pola tindakan yang sesuai dapat diidentifikasi. Dengan demikian, model tidak sekadar menetapkan satu jadwal tetap, tetapi membantu mengevaluasi keputusan penyimpanan dan pelepasan dalam kondisi yang berubah. Penerapan reinforcement learning dalam kajian ini diarahkan untuk mendukung pengelolaan yang lebih terencana, dengan mempertimbangkan kebutuhan air dan risiko yang mungkin muncul di bagian hilir.

Tujuan yang dikemukakan Yulia adalah membantu menjaga keseimbangan pasokan irigasi pertanian sekaligus meminimalkan risiko banjir di hilir. Air yang ditahan perlu tetap mencukupi kebutuhan irigasi, sementara pelepasan yang dilakukan pada waktu yang tepat dapat membantu mengendalikan aliran. Kedua kepentingan tersebut menuntut pengaturan yang memperhitungkan dampak keputusan terhadap berbagai bagian sistem, bukan hanya kondisi tampungan pada satu waktu. Melalui simulasi di Heritage Solo Valley dan DAS Karangnongko, riset ini menawarkan dasar untuk menilai pilihan pengelolaan secara lebih sistematis. Hasil pemodelan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola dalam menyusun strategi penyimpanan dan pelepasan air, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pertanian serta kondisi di hilir. Pendekatan ini menempatkan teknologi sebagai alat bantu keputusan, bukan pengganti pertimbangan pengelolaan lapangan.

Kedua inovasi Unissula mengenai pengelolaan air dipresentasikan dalam forum internasional yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pengambil kebijakan dari berbagai negara. Kongres yang diikuti lebih dari 700 peserta dari sekitar 50 negara itu menjadi ruang untuk membahas tantangan air dan pertanian dalam menghadapi perubahan iklim. Di peserta dan pakar yang hadir terdapat perwakilan dari Amerika Serikat, Tiongkok, Inggris, Jepang, serta negara-negara Uni Eropa. Keberagaman latar belakang tersebut memberi konteks global bagi paparan riset, sekaligus membuka kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai persoalan pengelolaan air yang dihadapi tiap wilayah.

Tema kongres, “Water and Agricultural Resilience in the Face of Climate Change”, menempatkan ketahanan air dan pangan sebagai agenda penting di tengah krisis iklim global. Perubahan pola hujan, tekanan terhadap sumber daya air, dan kebutuhan pertanian yang terus berkembang menuntut pendekatan yang dapat mendukung pengelolaan secara lebih tangguh. Dalam kerangka itu, kedua inovasi yang dibawa delegasi Unissula menjadi bagian dari percakapan lintas negara tentang upaya menghadapi risiko iklim serta menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Forum ini juga dihadiri oleh organisasi dan lembaga internasional, termasuk Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Water Council, yang turut memberi bobot pada diskusi mengenai tata kelola air dan ketahanan pangan.

Rektor Unissula Prof.

banner 325x300