banner 728x250

Prabowo Dorong Seleksi TNI-Polri Menilai Kecerdasan, Bukan Fisik Semata

Prabowo Dorong Seleksi TNI-Polri Menilai Kecerdasan, Bukan Fisik Semata
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, Indonesia, 7 Oktober 2026 — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan arahan mengenai perubahan pendekatan dalam seleksi calon prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Arahan itu disampaikan ketika Presiden memberikan taklimat kepada sekitar 800 perwira tinggi TNI-Polri di Istana Kepresidenan Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya membangun sistem rekrutmen yang mampu menjaring sumber daya manusia berkualitas, tidak hanya berdasarkan kemampuan fisik.

Menteri Politik dan Keamanan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman menjelaskan bahwa Presiden menginginkan penilaian terhadap calon prajurit TNI dan anggota Polri dilakukan secara lebih menyeluruh. Menurut Dudung, aspek intelektual perlu memperoleh perhatian yang seimbang dengan kondisi jasmani dalam proses seleksi. Dengan pendekatan itu, kemampuan berpikir, kecerdasan, serta potensi calon diharapkan menjadi bagian penting dalam menentukan kelayakan seseorang untuk mengemban tugas negara.

banner 325x300

Prabowo juga memberikan gambaran bahwa persyaratan fisik tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran untuk menerima atau menolak calon. Calon yang menggunakan kacamata, misalnya, tetap dapat diterima apabila memiliki kecerdasan yang baik dan memenuhi kemampuan lain yang diperlukan. Pesan tersebut menunjukkan dorongan agar proses seleksi TNI-Polri menjadi lebih adil, proporsional, dan berorientasi pada kebutuhan organisasi. Penilaian terhadap calon tetap dapat mempertimbangkan kesiapan fisik, tetapi harus disertai pengukuran kapasitas intelektual serta kecakapan yang relevan dengan tanggung jawab sebagai prajurit dan aparat penegak hukum. Arahan ini sekaligus menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai dasar penting dalam menyiapkan personel TNI-Polri yang mampu menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks.

Perubahan orientasi dalam seleksi calon personel TNI dan Polri didorong oleh kebutuhan untuk menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Dudung menjelaskan bahwa penilaian tidak cukup hanya mengandalkan kondisi fisik, melainkan juga perlu memperhatikan kecerdasan, kemampuan berpikir, dan kapasitas seseorang dalam memahami situasi. Personel dengan kemampuan intelektual yang baik dinilai lebih mampu mengikuti perkembangan lingkungan strategis serta mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi persoalan yang dinamis.

Tantangan masa depan juga menjadi semakin berat dengan munculnya perang hibrida dan perang yang menggunakan drone. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa medan tugas tidak semata-mata menuntut kekuatan fisik, tetapi juga penguasaan pengetahuan, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi perubahan bentuk konflik. Karena itu, kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam memastikan TNI dan Polri mampu menjalankan tugas secara profesional. Seleksi yang mempertimbangkan kecerdasan dipandang sebagai salah satu langkah untuk memperoleh personel yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Perhatian terhadap perubahan karakter perang itu juga disampaikan dalam konteks dorongan Prabowo untuk memperkuat profesionalisme prajurit. Peningkatan pendidikan dan latihan diperlukan agar personel memiliki bekal yang memadai dalam menjalankan tanggung jawabnya. Pendidikan dapat membantu memperluas pemahaman dan membangun kemampuan intelektual, sedangkan latihan menjaga kesiapan personel dalam melaksanakan tugas. Keduanya perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar peningkatan kualitas tidak berhenti pada tahap rekrutmen.

Dengan demikian, perkembangan perang hibrida dan penggunaan drone memperkuat alasan perlunya perubahan dalam orientasi pembinaan personel. TNI dan Polri membutuhkan anggota yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki kecerdasan, profesionalisme, serta kesiapan untuk belajar dan beradaptasi. Perhatian Prabowo terhadap pendidikan dan latihan menegaskan bahwa kesiapan menghadapi tantangan global harus dibangun melalui peningkatan kualitas manusia secara konsisten.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada TNI dan Polri atas dukungan yang diberikan terhadap program pemerintah. Pesan ini menunjukkan bahwa Presiden menilai peran kedua institusi tersebut penting dalam membantu pelaksanaan agenda negara. Apresiasi itu disampaikan sebagai penghargaan atas sumbangsih TNI dan Polri yang mendukung berbagai upaya pemerintah sesuai dengan bidang tugas masing-masing.

Menurut Dudung, Prabowo secara khusus mengapresiasi dukungan TNI dan Polri dalam memperkuat ketahanan pangan. Keterlibatan kedua institusi disebut menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah di bidang tersebut. Ketahanan pangan memerlukan kerja yang terkoordinasi, sehingga kontribusi institusi negara menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Selain ketahanan pangan, dukungan TNI dan Polri juga disebut berkaitan dengan ketahanan energi. Prabowo mengakui sumbangsih kedua institusi dalam mendukung upaya pemerintah pada bidang tersebut. Dudung menyampaikan bahwa penghargaan itu mencakup peran TNI dan Polri dalam membantu menjaga keberlangsungan agenda pemerintah yang berkaitan dengan kebutuhan strategis nasional.

Bidang lain yang secara eksplisit disebut dalam penyampaian tersebut adalah pemeliharaan situasi keamanan nasional. TNI dan Polri dinilai memberikan dukungan melalui peran masing-masing dalam menjaga kondisi keamanan. Stabilitas keamanan menjadi bagian penting agar program pemerintah dapat berjalan, sehingga kontribusi kedua institusi turut mendapat perhatian Presiden. Dudung menegaskan bahwa Prabowo mengapresiasi sumbangsih TNI dan Polri pada ketahanan pangan, ketahanan energi, serta pemeliharaan situasi keamanan nasional. Ucapan terima kasih itu menjadi pesan lain dalam pertemuan, di samping pembahasan mengenai arah seleksi personel yang menilai kecerdasan, bukan hanya kemampuan fisik.

Presiden Prabowo Subianto mengundang sekitar 800 perwira tinggi TNI dan Polri dari seluruh Indonesia dalam rangkaian taklimat yang membahas keadaan bangsa dan negara. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Presiden untuk menyampaikan gambaran mengenai perkembangan Indonesia, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah menjelang genap dua tahun masa pemerintahannya. Kehadiran para perwira tinggi dari berbagai wilayah juga menunjukkan pentingnya kesamaan pemahaman dalam menjalankan tugas kenegaraan.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setelah itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan laporan, yang kemudian dilanjutkan dengan laporan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Rangkaian tersebut menegaskan bahwa taklimat bukan sekadar forum penyampaian arahan, melainkan bagian dari upaya memperkuat koordinasi pimpinan nasional, TNI, dan Polri.

Agus memandang kegiatan ini sebagai momentum untuk menyamakan visi, memperkuat soliditas, serta meningkatkan sinergi TNI dalam menghadapi dinamika strategis. Menurutnya, arahan Presiden perlu dijadikan pedoman oleh seluruh jajaran dalam melaksanakan tugas. Pedoman itu penting karena tantangan keamanan terus berkembang, termasuk ancaman siber, ancaman informasi, dan ancaman hibrida yang dapat memengaruhi stabilitas nasional melalui berbagai saluran.

Sementara itu, Suyudi menyatakan bahwa Polri siap mendukung kebijakan dan program prioritas pemerintah sesuai tugas, fungsi, dan kewenangannya. Dukungan tersebut terutama diwujudkan melalui upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Dengan penyamaan visi dan penguatan kerja sama, TNI-Polri diharapkan mampu menerjemahkan arahan Presiden secara terukur sekaligus merespons tantangan yang semakin kompleks secara terpadu.

banner 325x300