banner 728x250

Jejak Karier Iwan Setiawan: Dari Penakluk Everest hingga Pangkostrad

Iwan Setiawan Dipromosikan sebagai Pangkostrad, Maruli Sebut Rotasi Jabatan Hal Biasa
banner 120x600
banner 468x60

Letjen TNI Iwan Setiawan ditunjuk sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar. Penunjukan ini menempatkan Iwan pada salah satu posisi strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat, mengingat Kostrad memiliki peran penting dalam menjaga kesiapan dan kemampuan tempur pasukan darat.

Informasi tersebut dikonfirmasi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak pada Rabu, 7 Oktober 2026, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Saat ditanya mengenai pergantian pimpinan Kostrad, Maruli menyampaikan bahwa penunjukan Iwan telah dilakukan. Konfirmasi itu sekaligus memperjelas bahwa proses pergantian kepemimpinan di tubuh Kostrad telah memasuki tahap resmi.

banner 325x300

Sebelum dipercaya memimpin Kostrad, Iwan menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) TNI AD. Ia menduduki jabatan tersebut sejak Januari 2025, setelah menggantikan Letjen TNI Teguh Muji Angkasa. Dalam posisi itu, Iwan bertanggung jawab terhadap pembinaan, pengembangan, serta peningkatan kemampuan korps infanteri sebagai salah satu unsur utama kekuatan TNI AD.

Pengangkatan Iwan mencerminkan kepercayaan terhadap pengalaman dan rekam jejaknya di lingkungan militer. Namanya juga dikenal luas karena pernah menaklukkan puncak Everest, sebuah pencapaian yang memperlihatkan ketahanan fisik, disiplin, keberanian, serta kemampuan menghadapi situasi berisiko tinggi. Pengalaman tersebut melengkapi perjalanan kariernya sebagai perwira TNI, dari penugasan di berbagai bidang hingga memperoleh amanah memimpin satuan strategis. Sebagai Pangkostrad, Iwan akan menghadapi tanggung jawab untuk memastikan kesiapan operasional pasukan, memperkuat pembinaan personel, dan menjaga profesionalisme organisasi dalam menjalankan tugas pertahanan negara.

Salah satu catatan penting dalam perjalanan karier Iwan Setiawan adalah keberhasilannya mencapai puncak Gunung Everest pada 1997. Saat itu, Iwan masih berpangkat Letnan Satu dan berusia 29 tahun. Ia menjadi bagian dari tim Ekspedisi Everest 1997, sebuah ekspedisi yang digagas oleh Prabowo Subianto. Keikutsertaan Iwan tidak diperoleh secara langsung, melainkan melalui proses seleksi yang melibatkan puluhan personel Kopassus.

Sebelum berangkat ke Nepal, para peserta menjalani persiapan fisik dan teknis secara bertahap. Latihan awal dilakukan di Gunung Gede dan Gunung Pangrango, Jawa Barat. Kedua lokasi tersebut menjadi tempat untuk membangun daya tahan sekaligus mempersiapkan personel menghadapi kondisi pendakian. Setelah itu, tim melanjutkan latihan di Nepal untuk beradaptasi dengan medan pegunungan dan ketinggian ekstrem yang akan dihadapi selama ekspedisi.

Dalam pelaksanaan pendakian, Iwan memimpin tim dari sisi selatan Gunung Everest. Perjalanan menuju puncak berlangsung dalam lingkungan yang menuntut ketahanan fisik, kesiapan teknis, dan koordinasi antarpersonel. Bersama Pratu Asmujiono dan Sersan Misirin, Iwan berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia tersebut pada 1997. Di puncak Everest, mereka mengibarkan bendera Merah Putih sebagai bagian dari pencapaian ekspedisi.

Keberhasilan itu menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah prajurit Indonesia yang berhasil menaklukkan Gunung Everest. Pencapaian Iwan pada usia 29 tahun, ketika masih menyandang pangkat Letnan Satu, memperlihatkan peran pentingnya dalam Ekspedisi Everest 1997. Prestasi tersebut kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rekam jejaknya, jauh sebelum ia melanjutkan perjalanan karier ke berbagai posisi strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat.

Iwan Setiawan merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1992 dari kecabangan infanteri. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar keprajuritan, ia mengawali perjalanan dinas di lingkungan pasukan khusus TNI Angkatan Darat. Pada fase awal tersebut, sebagian besar penugasannya berlangsung di Komando Pasukan Khusus (Kopassus), satuan yang dikenal memiliki tuntutan tinggi terhadap kemampuan fisik, taktik, kepemimpinan, dan ketahanan mental personelnya. Pengalaman di lingkungan ini menjadi fondasi penting bagi pembentukan kapasitas profesional Iwan sebelum ia menjalani berbagai penugasan pada jenjang yang lebih luas.

Di Kopassus, Iwan menempati sejumlah posisi secara bertahap. Ia pernah bertugas sebagai Danunit Grup 2/Parako Kopassus, kemudian Dansubtim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus dan Dantim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus. Pengalaman kepemimpinannya berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Danki 1/13 Grup 1/Parako Kopassus. Dalam perkembangan karier berikutnya, ia mengemban jabatan sebagai Palat Sima Denma Grup 1/Parako Kopassus serta Kasi 2/Ops Grup 1/Parako Kopassus. Rangkaian jabatan tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam berbagai aspek operasional, pelatihan, administrasi, dan pengendalian kegiatan satuan.

Kariernya di lingkungan pasukan khusus kemudian berkembang melalui penugasan sebagai Wadan Yon 12 Grup 1/Parako Kopassus. Ia juga dipercaya menjadi Dansekomando Pusdikpassus, jabatan yang berkaitan dengan pembinaan serta pendidikan personel pasukan khusus. Setelah itu, Iwan menjabat Danyon 22/Grup 2/Kopassus dan Wadan Grup 2/Parako Kopassus. Beragam posisi tersebut memberinya pengalaman berjenjang, mulai dari memimpin unsur kecil hingga mengelola satuan yang lebih besar. Bekal kepemimpinan dan pemahaman operasional yang diperoleh selama bertugas di Kopassus menjadi dasar bagi perjalanan panjangnya sebelum menerima penugasan di luar satuan tersebut.

Setelah menyelesaikan berbagai penugasan di lingkungan Kopassus, Iwan Setiawan memasuki fase karier yang memperluas pengalaman kepemimpinannya di satuan teritorial dan pendidikan. Pada 2012, ia dipercaya menjabat Komandan Brigif 22/Ota Manasa. Setahun kemudian, pada 2013, Iwan menduduki posisi Asisten Operasi Kasdam IV/Diponegoro. Kedua penugasan tersebut memperlihatkan kemampuannya mengelola operasi, pembinaan kesiapan satuan, serta koordinasi kewilayahan dalam lingkup yang lebih luas.

Perjalanan berikutnya diisi dengan sejumlah jabatan strategis, lain sebagai Komandan Pusdikpassus, Komandan Rindam Jaya, dan Danrem 052/Wijayakrama. Pengalaman di lembaga pendidikan dan komando kewilayahan memperkaya kapasitasnya dalam membina personel sekaligus memimpin organisasi dengan karakter tugas yang berbeda. Pada 2020, Iwan dipercaya menjadi Danrem 173/Praja Vira Braja. Kemudian, pada 2021, ia menjabat Waaslat Kasad Bidang Kermamil, posisi yang berkaitan dengan pembinaan latihan dan kesiapan militer Angkatan Darat.

Pada 2022, Iwan ditunjuk sebagai Danjen Kopassus ketika berpangkat mayor jenderal. Penugasan itu menempatkannya kembali pada institusi yang membentuk sebagian penting rekam jejak militernya. Pada April 2023, ia kemudian dipercaya menjadi Pangdam XII/Tanjungpura, menggantikan Mayjen TNI Sulaiman Agusto. Jabatan tersebut memperluas tanggung jawabnya dalam memimpin komando kewilayahan strategis di Kalimantan.

Pada Januari 2025, Iwan dilantik sebagai Danpussenif TNI AD. Dalam jabatan ini, ia bertanggung jawab atas pembinaan kecabangan infanteri, termasuk penyelenggaraan pendidikan, pengembangan latihan, dan pembinaan prajurit. Hingga pertengahan 2026, ia masih menjalankan tugas sebagai Danpussenif sebelum kemudian ditunjuk menjadi Pangkostrad. Rangkaian penugasan itu menunjukkan kesinambungan karier Iwan, dari komando satuan khusus dan teritorial hingga tanggung jawab pembinaan kekuatan infanteri serta kepemimpinan strategis di tingkat komando utama.

banner 325x300