banner 728x250

Pemadaman Karhutla Tanjung Puting Diperkuat, Kabut Asap Hambat Operasi Udara

Pemadaman Karhutla Tanjung Puting Diperkuat, Kabut Asap Hambat Operasi Udara
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Kotawaringin Barat | Kementerian Kehutanan mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Penguatan dilakukan untuk mempercepat pengendalian titik api sekaligus mencegah meluasnya dampak kebakaran terhadap ekosistem, satwa liar, dan masyarakat di sekitar kawasan. Langkah tersebut menjadi penting karena kondisi lapangan terus dipantau secara dinamis, sementara sebagian wilayah terdampak berada di lokasi yang tidak mudah dijangkau.

Penanganan diperkuat melalui pengerahan personel untuk melaksanakan pemadaman dan pemantauan di lapangan. Kementerian Kehutanan juga menyiapkan dukungan anggaran, pengadaan sarana serta prasarana pemadaman, dan kebutuhan operasional lain yang menunjang kerja petugas. Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara intensif agar perkembangan kebakaran dapat segera diidentifikasi, kebutuhan penanganan bisa disesuaikan, dan koordinasi antar pihak berjalan lebih efektif.

banner 325x300

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas yang terlibat dalam upaya pengendalian kebakaran. Penghargaan juga diberikan kepada relawan, masyarakat, serta berbagai pihak lain yang tetap bekerja di lapangan dalam menghadapi situasi yang menantang. Kolaborasi tersebut dinilai berperan penting dalam memperkuat respons dan mendukung perlindungan kawasan konservasi.

Upaya pemadaman di Tanjung Puting menghadapi sejumlah kendala utama. Luas wilayah yang terdampak membuat penanganan memerlukan pembagian tugas dan strategi yang terukur. Akses menuju titik api juga sulit, sehingga mobilisasi personel, peralatan, dan pasokan pendukung tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Selain itu, karakteristik lahan gambut membuat api berpotensi menyebar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya. Kondisi tersebut menuntut pemantauan berkelanjutan, ketelitian dalam menentukan lokasi penanganan, serta kerja sama yang konsisten pemerintah, petugas, relawan, dan masyarakat.

Dukungan pemadaman dari udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting berlangsung secara bertahap. Balai Taman Nasional Tanjung Puting terlebih dahulu mengajukan permohonan resmi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah pada 9 September 2026. Permohonan tersebut menjadi dasar koordinasi untuk mengerahkan bantuan pesawat dalam menjangkau titik-titik api yang sulit ditangani oleh regu darat.

Tindak lanjut atas permohonan itu diwujudkan melalui operasi water bombing pada 20 hingga 22 September 2026. Dalam operasi tersebut, pesawat pemadam membawa dan menjatuhkan air ke area yang terbakar guna menekan perluasan api serta membantu proses pemadaman di medan yang memiliki akses terbatas. Dukungan udara diperlukan karena kondisi vegetasi, jarak antarlokasi, dan karakter lahan gambut dapat memperlambat penanganan secara manual.

Namun, pelaksanaan operasi belum sepenuhnya mengakhiri kebakaran. Sejumlah titik masih memerlukan penanganan lanjutan sehingga Balai Taman Nasional Tanjung Puting kembali menyampaikan permohonan bantuan pada 2 Oktober 2026. Permintaan tersebut mencakup wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, dua wilayah yang berada dalam cakupan penting penanganan kebakaran di sekitar kawasan taman nasional.

Permohonan lanjutan itu kemudian diperkuat melalui surat susulan tertanggal 9 Oktober 2026. Dalam surat tersebut, pihak taman nasional meminta penambahan sasaran pemadaman di Pos Tanjung Harapan, Resor Pesalat. Penambahan sasaran menunjukkan bahwa kebutuhan operasi udara berkembang mengikuti kondisi lapangan dan hasil pemantauan terbaru, bukan hanya berdasarkan lokasi yang telah ditetapkan pada permohonan sebelumnya.

Rangkaian pengajuan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla dilakukan melalui koordinasi berulang pengelola kawasan dan BPBD provinsi. Meski demikian, operasi udara menghadapi kendala kabut asap yang dapat mengurangi jarak pandang dan menyulitkan identifikasi titik api maupun penerbangan menuju sasaran. Karena itu, efektivitas water bombing tetap bergantung pada kondisi cuaca, visibilitas, serta kesinambungan pemantauan dan pemadaman di darat.

Kabut asap menjadi salah satu kendala utama dalam rencana pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Tanjung Puting. Kepulan asap yang tebal membatasi jarak pandang dari udara, sehingga menyulitkan kru untuk mengenali titik panas, menilai arah sebaran api, serta menentukan jalur penerbangan yang aman. Kondisi tersebut membuat dukungan helikopter tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan, meskipun pengerahan sarana udara diperlukan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.

Dalam operasi helikopter, jarak pandang merupakan faktor penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan. Pilot perlu memastikan kondisi cuaca dan visibilitas memungkinkan sebelum melakukan penerbangan menuju lokasi kebakaran, termasuk ketika melaksanakan pemantauan maupun membawa dukungan pemadaman. Asap yang berubah-ubah mengikuti arah angin juga dapat mengganggu orientasi selama penerbangan dan meningkatkan risiko ketika helikopter harus bermanuver di sekitar kawasan terdampak. Karena itu, pelaksanaan operasi udara perlu disesuaikan dengan perkembangan kondisi lapangan.

Kementerian Kehutanan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan dukungan pemadaman udara dapat dilakukan sesuai kondisi operasional yang memungkinkan. Koordinasi tersebut mencakup pemantauan situasi, pertukaran informasi mengenai titik api dan cuaca, serta penentuan waktu yang paling aman bagi pengerahan helikopter. Selama jarak pandang belum mendukung, upaya penanganan tetap memerlukan penilaian berkelanjutan agar setiap keputusan mempertimbangkan keselamatan personel dan efektivitas operasi. Pengiriman helikopter menjadi bagian dari kesiapsiagaan, tetapi pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi udara di sekitar lokasi kebakaran.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak. Instansi pemerintah bekerja bersama unsur TNI dan Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat di sekitar kawasan untuk mempercepat pemantauan dan pemadaman titik api. Dukungan juga datang dari sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan pelaku wisata yang beraktivitas di sekitar taman nasional. Keterlibatan banyak pihak diperlukan karena karakter kawasan yang luas, medan yang sulit dijangkau, serta kondisi gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan.

Dalam operasi tersebut, pengerahan personel diperkuat melalui bantuan kendali operasi dari unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Personel tambahan mendukung koordinasi lapangan, pemantauan perkembangan api, pemetaan lokasi terdampak, serta pengaturan kebutuhan logistik dan peralatan. Penguatan kendali operasi diharapkan membuat pembagian tugas antartim lebih terarah, terutama pada wilayah yang tidak mudah dicapai melalui jalur darat. Kabut asap yang menghambat penerbangan juga mendorong petugas mengoptimalkan strategi pemadaman dari darat dan memperkuat pengawasan secara berkala.

Kementerian Kehutanan menekankan bahwa penanganan kebakaran di ekosistem gambut tidak dapat bergantung pada operasi sesaat. Upaya berkelanjutan diperlukan melalui pencegahan, pemantauan, pengelolaan tata air, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, dan pemulihan area yang terdampak. Dalam setiap tahap operasi, keselamatan personel menjadi prioritas utama, disusul pengendalian kebakaran secara efektif dan perlindungan kawasan konservasi.

Perlindungan habitat satwa liar juga menjadi pertimbangan penting, terutama bagi populasi orang utan yang menjadikan Taman Nasional Tanjung Puting sebagai salah satu habitat utamanya. Karena itu, setiap langkah pemadaman perlu memperhatikan jalur pergerakan satwa, sumber pakan, dan area perlindungan yang tersisa. Sinergi antarpihak diharapkan mampu menjaga kawasan tetap aman sekaligus memastikan upaya konservasi berlangsung secara konsisten.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | Asap Karhutla Kalimantan Mengancam Kesehatan Warga Filipina

banner 325x300