banner 728x250

Panggung Fesyen Berkelanjutan di Bali Buka Ruang bagi UMKM Lokal

Panggung Fesyen Berkelanjutan di Bali Buka Ruang bagi UMKM Lokal
banner 120x600
banner 468x60

Denpasar | Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali merencanakan pameran fesyen berkelanjutan di Sira Village Grand Outlet Bali sebagai salah satu upaya membuka ruang lebih luas bagi UMKM lokal. Kegiatan ini akan menghadirkan karya pelaku usaha yang mengembangkan produk fesyen dengan perhatian terhadap lingkungan. Melalui pameran, pengunjung dapat mengenal ragam gagasan, bahan, dan pendekatan produksi yang ditawarkan oleh usaha lokal, sekaligus melihat potensi industri kreatif Bali dalam menjawab kebutuhan pasar secara bertanggung jawab.

Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026. Karena kegiatan masih akan diselenggarakan, acara ini menjadi rencana mendatang, bukan pameran yang telah terlaksana. Penyelenggaraan di Sira Village Grand Outlet Bali diharapkan memberi kesempatan bagi UMKM untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada publik. Kehadiran dalam ruang pamer dapat membantu mempertemukan pembuat, calon pembeli, dan pihak lain yang tertarik pada fesyen dengan proses serta nilai yang lebih berkelanjutan.

banner 325x300

Selain menjadi tempat untuk menampilkan produk, acara ini diarahkan untuk memperluas visibilitas karya pelaku usaha lokal. Paparan yang lebih besar dapat membantu masyarakat mengenali kreativitas UMKM dan memahami cerita di balik produk yang mereka hasilkan. Bagi pelaku usaha, kesempatan memperlihatkan koleksi serta pendekatan kerja dapat mendukung upaya membangun jaringan dan menjangkau audiens baru. Pameran juga memberi ruang bagi pengunjung untuk melihat bahwa fesyen ramah lingkungan dapat hadir dalam beragam bentuk, gaya, dan pilihan produk.

Rencana tersebut sejalan dengan upaya mendukung ekosistem industri kreatif yang memperhatikan dampak lingkungan. Pemberdayaan UMKM fesyen tidak hanya berkaitan dengan promosi, tetapi juga dengan tersedianya ruang bagi usaha lokal untuk tumbuh, berinovasi, dan berinteraksi dengan pasar. Dengan mempertemukan karya lokal dan publik, pameran diharapkan mendorong perhatian terhadap pilihan produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Inisiatif KEK Kura Kura Bali ini menempatkan kreativitas lokal sebagai bagian penting dari perkembangan fesyen berkelanjutan di Bali.

Labdanation Fashion Week (LFW) Season III mengangkat tema “Threads of Legacy” dan direncanakan menghadirkan 67 busana bersertifikasi berkelanjutan. Seluruh busana tersebut akan diperagakan oleh 30 model profesional. Angka-angka ini menjadi gambaran utama skala presentasi yang disiapkan, sekaligus menempatkan sertifikasi keberlanjutan sebagai salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan LFW tahun ini. Informasi tersebut memperlihatkan bahwa panggung fesyen yang disiapkan tidak hanya berfokus pada jumlah penampilan, tetapi juga pada standar keberlanjutan yang melekat pada busana yang ditampilkan.

Acara ini dijadwalkan berlangsung di panggung Sunset Mandala, Sira Village, yang berada di dalam kawasan KEK Kura Kura Bali. Lokasi tersebut menjadi tempat bagi para model untuk memperagakan koleksi dalam pameran. Dengan menyebutkan tempat penyelenggaraan secara jelas, informasi mengenai LFW Season III memberi gambaran konkret tentang ruang yang akan menjadi pusat kegiatan. Panggung Sunset Mandala menjadi titik temu gagasan tema, busana bersertifikasi, dan penampilan para model dalam sebuah penyajian fesyen yang telah direncanakan.

Tema “Threads of Legacy” memberi kerangka bagi penyelenggaraan musim ketiga ini. Namun, keterangan yang tersedia menegaskan informasi utama pada tema, jumlah busana, jumlah model, serta lokasi pameran. Karena itu, pembahasan mengenai LFW Season III dapat berangkat dari unsur-unsur tersebut tanpa menambahkan rincian yang belum disebutkan. Sebanyak 67 busana bersertifikasi berkelanjutan akan menjadi materi yang ditampilkan, sementara 30 model profesional ditugaskan untuk memperagakannya di hadapan pengunjung yang hadir.

Rencana tersebut menghadirkan ukuran yang mudah dipahami mengenai cakupan pameran: puluhan busana akan tampil melalui peragaan oleh puluhan model, dengan sertifikasi keberlanjutan sebagai keterangan yang menyertai koleksi. Penempatan acara di Sunset Mandala, Sira Village, dalam kawasan KEK Kura Kura Bali, juga memberikan alamat yang spesifik bagi penyelenggaraan. Dengan demikian, informasi tentang LFW Season III bertumpu pada komitmen untuk menampilkan busana bersertifikasi dalam ruang yang telah ditentukan, sesuai tema “Threads of Legacy” dan rencana peragaan yang diumumkan.

Bagi Tantowi Yahya, Presiden Komisaris KEK Kura Kura Bali sekaligus Presiden Direktur Sira Village Grand Outlet Bali, menjadi tuan rumah acara fesyen berkelanjutan bukan sekadar menyediakan tempat bagi sebuah kegiatan. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk membantu menaikkan kelas UMKM lokal. Komitmen itu menempatkan pelaku usaha setempat sebagai bagian penting dari ruang fesyen, sekaligus memberi perhatian pada potensi karya yang mereka hasilkan. Dalam pandangannya, sebuah acara dapat menjadi kesempatan untuk mempertemukan karya lokal dengan perhatian yang lebih luas.

Gagasan tersebut berangkat dari pentingnya ruang yang suportif bagi pelaku usaha. Ketika UMKM memperoleh kesempatan untuk menampilkan produk dan gagasan, karya inovatif serta ramah lingkungan dapat terlihat oleh lebih banyak orang. Visibilitas yang lebih luas memberi ruang bagi audiens untuk mengenal kreativitas lokal, termasuk upaya menghadirkan produk dengan pendekatan yang memperhatikan lingkungan. Dengan demikian, penyelenggaraan acara dapat mendukung pengenalan karya tanpa mengubah inti komitmen yang disampaikan: membuka peluang agar kemampuan pelaku usaha setempat mendapat perhatian.

Peran sebagai tuan rumah, dalam kerangka ini, berkaitan dengan upaya menyediakan wadah yang mendukung, bukan sekadar menjadi latar berlangsungnya acara. Dukungan tersebut membantu UMKM tampil dan memperkenalkan karya mereka dalam konteks fesyen berkelanjutan. Bagi Tantowi, kesempatan semacam ini sejalan dengan tujuan untuk menaikkan kelas usaha lokal melalui ruang yang memberi visibilitas lebih besar kepada inovasi dan kepedulian lingkungan. Pandangan ini menegaskan arti penting kolaborasi penyelenggara dan pelaku usaha: ketika karya lokal memperoleh ruang yang tepat, potensinya dapat dikenal lebih luas. Komitmen itu sekaligus menunjukkan bahwa dukungan terhadap UMKM dapat diwujudkan dengan membuka kesempatan tampil, sehingga kreativitas setempat hadir dalam percakapan mengenai fesyen yang lebih bertanggung jawab. Fokusnya tetap pada penyediaan ruang yang suportif dan peluang bagi karya lokal, tanpa mengklaim hasil tertentu di luar pandangan tersebut.

Tantowi menilai penyelenggaraan panggung fesyen berkelanjutan ini sejalan dengan visi pengembangan kawasan yang didorong pemerintah. Kawasan tersebut dirancang bukan hanya sebagai tujuan untuk berbelanja atau berwisata, melainkan sebagai destinasi yang mempertemukan gaya hidup, komunitas, dan prinsip keberlanjutan. Perpaduan itu diharapkan membangun lingkungan yang mendukung kegiatan kreatif sekaligus memberi nilai tambah bagi industri lokal. Dalam konteks fesyen, pendekatan tersebut membuka ruang untuk memperkenalkan karya, gagasan, serta praktik produksi yang lebih bertanggung jawab kepada masyarakat dan pengunjung. Acara ini pun dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan pelaku kreatif dengan ekosistem kawasan, sehingga aktivitas komersial berjalan beriringan dengan perkembangan komunitas dan kepedulian terhadap keberlanjutan.

Di dalam visi tersebut, Sira Village mengambil peran sebagai mal pertama yang berada di dalam kawasan ekonomi khusus (KEK). Kehadirannya dimaksudkan untuk menggabungkan pengalaman berbelanja dengan gaya hidup dan kreativitas, bukan sekadar menyediakan ruang transaksi. Konsep itu memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan beragam aktivitas, sementara pelaku usaha dan talenta setempat memperoleh tempat untuk menampilkan produk maupun karya mereka. Bagi UMKM fesyen lokal, ruang semacam ini berpotensi mempertemukan produk dengan audiens yang lebih luas serta memberi kesempatan untuk membangun pengenalan merek. Para kreator juga dapat berjejaring, bertukar gagasan, dan melihat bagaimana kebutuhan pasar berhubungan dengan rancangan serta proses produksi. Dengan demikian, peran mal tidak terbatas pada fungsi ritel, tetapi turut menjadi bagian dari infrastruktur yang memberi akses dan visibilitas kepada industri kreatif setempat.

Tantowi melihat kolaborasi sebagai unsur penting agar peluang tersebut dapat berkembang.

banner 325x300