banner 728x250

Noken di Tengah Aksi: Mahasiswa Papua Meminta Jaminan Kesehatan bagi Korban Karhutla

Noken di Tengah Aksi: Mahasiswa Papua Meminta Jaminan Kesehatan bagi Korban Karhutla
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Seorang mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di Universitas Trisakti menyampaikan tuntutan mengenai jaminan kesehatan bagi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sebuah unjuk rasa di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026. Dalam aksi tersebut, ia berbicara langsung kepada Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi. Pokok yang dibawanya adalah perlunya perhatian terhadap kondisi kesehatan warga yang terdampak karhutla serta kepastian bahwa mereka memperoleh perlindungan dan layanan yang dibutuhkan.

Saat menyampaikan tuntutan, mahasiswa itu mengangkat sebuah noken. Benda tersebut hadir sebagai bagian yang terlihat dari penyampaian aspirasinya, sementara isi pesannya berpusat pada korban karhutla dan jaminan kesehatan. Ia menggunakan kesempatan berbicara kepada perwakilan pemerintah itu untuk mengajukan perhatian terhadap kebutuhan warga terdampak. Aksi tersebut menempatkan persoalan kesehatan sebagai hal yang perlu disampaikan secara langsung, bukan sekadar dampak yang dapat diabaikan setelah kebakaran terjadi.

banner 325x300

Tuntutan jaminan kesehatan menjadi inti dari pernyataan mahasiswa tersebut. Korban karhutla, menurut pokok aspirasi yang ia sampaikan, perlu mendapatkan kepastian akses terhadap layanan kesehatan sebagai bagian dari penanganan dampak kebakaran. Dengan membawa persoalan ini ke hadapan Staf Khusus Mensesneg, ia meminta agar aspirasi mengenai perlindungan kesehatan warga terdampak mendapat perhatian. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana seorang mahasiswa menyuarakan isu yang berkaitan dengan keselamatan dan kebutuhan masyarakat melalui aksi di Jakarta.

Fokus penyampaian itu bukan pada rincian kegiatan demonstrasi, melainkan pada pesan yang dibawa dan pihak yang dituju. Mahasiswa Universitas Trisakti tersebut menyampaikan tuntutan kepada Binbin Firman Tresnadi, dengan noken terangkat ketika ia berbicara. Pesan mengenai jaminan kesehatan bagi korban karhutla menjadi bagian utama dari aspirasinya. Melalui pernyataan tersebut, ia mendorong perhatian terhadap tanggung jawab untuk memastikan warga terdampak memperoleh dukungan kesehatan, sekaligus menegaskan bahwa kebutuhan mereka perlu masuk dalam pembahasan pemerintah.

Dalam aksi mahasiswa Papua yang meminta jaminan kesehatan bagi korban kebakaran hutan dan lahan, noken digunakan untuk menjelaskan pesan yang ingin mereka sampaikan. Mahasiswa tersebut menekankan bahwa noken bukan sekadar tas tradisional khas Papua. Ia merujuk pada cara benda itu dibuat dan digunakan dalam kehidupan keluarga Papua, terutama oleh para ibu. Penjelasan ini memberi konteks bagi penggunaan noken dalam aksi: benda yang dibawa bukan hanya perlengkapan atau penanda identitas budaya, melainkan sesuatu yang berkaitan langsung dengan kehidupan anak sejak awal. Makna tersebut disampaikan melalui pengalaman penggunaan noken, bukan melalui penafsiran simbolis yang lebih luas.

Mahasiswa itu menjelaskan bahwa noken dibuat oleh ibu-ibu di Papua dan dipakai untuk menggendong anak yang baru lahir. Ia menyampaikan keterkaitan tersebut secara langsung kepada pihak yang diajak berbicara: “Pak, noken ini dibuat oleh ibu-ibu di Papua. Noken ini memelihara satu kehidupan. Ketika anak Papua lahir, mereka menggendong anak Papua itu di dalam noken ini, Pak.” Kutipan itu menjadi inti dari penjelasannya. Noken disebut memelihara satu kehidupan karena menjadi tempat anak digendong setelah lahir. Dengan demikian, gambaran yang disampaikan berangkat dari fungsi nyata noken dalam merawat dan membawa anak, sebagaimana dijelaskan oleh mahasiswa tersebut.

Penekanan pada anak yang baru lahir juga menunjukkan alasan noken dipilih sebagai bagian dari aksi. Mahasiswa itu menghubungkan benda tersebut dengan pengalaman ibu-ibu Papua yang membuatnya dan menggunakannya untuk menggendong anak. Ia tidak hanya memperkenalkan noken sebagai tas tradisional, tetapi menerangkan perannya dalam kehidupan seorang anak Papua sejak lahir. Penjelasan itu membantu audiens memahami pesan yang dibawa dalam aksi tanpa perlu menambahkan makna lain di luar ucapannya. Noken, dalam uraian mahasiswa tersebut, adalah hasil karya ibu-ibu di Papua sekaligus wadah untuk menggendong anak. Itulah makna kehidupan yang ia sampaikan ketika meminta perhatian terhadap kebutuhan kesehatan korban karhutla.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa Papua membawa noken bukan sekadar sebagai benda yang mewakili identitas budaya. Ia mengaitkan noken dengan alam, yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Papua. Bahan, pengetahuan, dan praktik yang berkaitan dengan noken mencerminkan hubungan manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup. Karena itu, kerusakan alam akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai ancaman terhadap kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Pesan itu menjadi dasar bagi mahasiswa tersebut untuk mengangkat kebutuhan warga yang terdampak, khususnya akses terhadap perawatan kesehatan setelah kebakaran.

Dari hubungan noken, alam, dan kehidupan masyarakat itu, ia mempertanyakan bentuk perlindungan yang dapat diberikan kepada korban karhutla. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada Binbin dan secara langsung menyasar jaminan layanan kesehatan bagi warga terdampak. Ia bertanya: “Apakah Bapak bisa memberikan jaminan kepada saya dan teman-teman mahasiswa? Apakah bisa memberikan layanan kesehatan gratis bagi saudara-saudara kami yang korban karhutla?” Permintaan ini menyoroti kekhawatiran mengenai kemampuan warga memperoleh pemeriksaan dan perawatan, terutama ketika dampak kebakaran mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.

Mahasiswa itu menyebut warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Papua, Kalimantan, serta pulau-pulau lainnya. Dengan demikian, pertanyaannya tidak terbatas pada satu wilayah, melainkan membawa perhatian pada masyarakat di berbagai daerah yang menghadapi dampak serupa. Tuntutan layanan kesehatan gratis disampaikan sebagai permintaan akan jaminan, bukan sebagai keterangan bahwa bantuan telah tersedia atau diberikan. Perbedaan itu penting: ucapan tersebut menunjukkan harapan agar pihak yang ditanya menjelaskan apakah akses layanan dapat dipastikan bagi para korban. Dalam konteks aksi, noken menjadi lambang yang menghubungkan kepedulian terhadap alam dengan tuntutan perhatian terhadap kesehatan masyarakat yang kehidupannya terdampak karhutla.

Mahasiswa Papua itu menegaskan bahwa jaminan kesehatan bagi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan hal yang ingin ia pastikan. Permintaan tersebut bukan sekadar penyampaian harapan, tetapi juga menyangkut kepastian mengenai kesanggupan pihak yang diajak berbicara untuk menjamin kebutuhan kesehatan para korban. Karena itu, ia kembali mengarahkan pembicaraan pada inti tuntutannya: apakah jaminan tersebut benar-benar dapat diberikan.

Untuk menegaskan permintaan itu, mahasiswa tersebut kemudian menantang Binbin agar bersalaman dengannya sebagai bentuk kesanggupan memberikan jaminan. Ia menyampaikan, “Kalau Bapak berani, salaman sama saya, Pak!” Ucapan itu mengaitkan jaminan yang diminta dengan tindakan langsung yang ia ajukan saat itu. Tantangan bersalaman tersebut menjadi cara mahasiswa itu menekankan bahwa ia menghendaki kepastian, bukan hanya pernyataan tanpa penegasan.

Dalam konteks tuntutan bagi korban karhutla, jaminan kesehatan menjadi pokok yang hendak dipastikan oleh mahasiswa tersebut. Dengan meminta Binbin bersalaman, ia memperjelas bahwa kesanggupan untuk menjamin layanan atau kebutuhan kesehatan korban adalah hal yang ia persoalkan. Permintaan itu disampaikan secara langsung dan tegas, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut ingin memperoleh kepastian atas jaminan yang sedang dibicarakan. Tantangan bersalaman itu menjadi penegasan atas permintaannya agar jaminan kesehatan bagi korban karhutla dipastikan.

Baca juga: Aksi Bersama Tiga Organisasi Mahasiswa untuk Suara Rakyat | Dampak Musim Hujan yang Mundur bagi Kesehatan Masyarakat Jakarta | Patroli Public Address, Polsek Cikupa Imbau Warga Cegah Karhutla

banner 325x300