banner 728x250

Kawai Labiba Ungkap Sulitnya Menghidupkan Sosok Putri dalam Film Horor

Kawai Labiba Ungkap Sulitnya Menghidupkan Sosok Putri dalam Film Horor
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Kawai Labiba mengaku bahwa memerankan Amanda Rizky Saputri, sosok hantu yang dikenal sebagai Putri dalam film horor “Putri Jangan Gentayangan Lagi”, menjadi pengalaman baru baginya. Untuk pertama kalinya, ia mendapat peran sebagai arwah, sehingga keterlibatannya dalam film arahan Rizal Mantovani tersebut menghadirkan tantangan sekaligus pengalaman yang berbeda dari pekerjaan akting sebelumnya. Ia menyebut proses itu sebagai pengalaman luar biasa yang hingga kini masih membekas.

Pengalaman tersebut ia ceritakan dalam konferensi pers setelah pemutaran film di Jakarta Selatan, Jumat malam. Bagi Kawai, membawakan karakter yang sudah meninggal menuntut pendekatan tersendiri. Ia perlu memahami sosok Putri dan menyampaikan keberadaan Amanda kepada penonton sebagai arwah, bukan sekadar memainkan tokoh dalam situasi biasa. Perbedaan itu membuatnya harus memberi perhatian pada cara karakter tersebut hadir di dalam cerita serta kesan yang ingin dibangun melalui penampilannya.

banner 325x300

Peran pertama sebagai hantu juga menjadi kesempatan bagi Kawai untuk menjelajahi sisi lain dari kemampuan aktingnya. Karakter Putri berada di wilayah cerita yang lekat dengan suasana mencekam, namun tetap memiliki identitas dan latar sebagai Amanda Rizky Saputri. Menjaga karakter itu terasa meyakinkan di tengah unsur horor menjadi bagian dari pengalaman yang ia jalani selama terlibat dalam proyek ini. Meski tantangannya tidak dapat dilepaskan dari tuntutan genre, Kawai mengenang keterlibatannya dengan kesan positif.

Ia menilai kesempatan tersebut sebagai pengalaman istimewa yang meninggalkan jejak pribadi, terutama karena belum pernah sebelumnya memerankan arwah. Kesan yang membekas itu menunjukkan bahwa peran Putri bukan hanya tugas akting baru, tetapi juga pengalaman yang menambah perjalanan Kawai di dunia film. Melalui film karya Rizal Mantovani ini, ia menghadapi karakter yang berbeda sekaligus merasakan secara langsung proses membawa sosok hantu ke layar. Cerita mengenai pengalaman pertamanya itu menjadi salah satu hal menarik dari keterlibatannya dalam “Putri Jangan Gentayangan Lagi”.

Dalam memerankan Putri, Kawai Labiba berusaha memahami sisi manusiawi tokoh tersebut, bukan hanya menampilkan sosok yang hadir dalam sebuah film horor. Pendekatan ini berangkat dari arahan sutradara Rizal Mantovani. Menurut arahan itu, Putri perlu tetap memiliki emosi manusiawi karena ia dulunya adalah seorang manusia. Bagi Kawai, pemahaman tersebut menjadi pegangan ketika membangun karakter: ekspresi dan perasaan Putri harus terasa sebagai milik seseorang yang pernah menjalani kehidupan, bukan sekadar gambaran horor tanpa sisi emosional.

Untuk membantu memahami sosok Putri, Kawai juga mendengarkan cerita dari Mak Eli, ibu kandung mendiang Putri. Cerita itu menjadi bekal baginya untuk membayangkan perasaan seorang anak perempuan pertama yang memikul tanggung jawab besar. Kawai tidak hanya mengandalkan arahan di lokasi syuting, tetapi juga menyimak pengalaman yang disampaikan oleh orang yang dekat dengan Putri. Dari sana, ia memperoleh bahan untuk mendekati karakter dengan lebih peka dan mempertimbangkan beban perasaan yang mungkin dialami tokoh tersebut.

Pengalaman mendengarkan Mak Eli membantu Kawai membentuk ekspresi serta emosi Putri dalam film. Cerita yang diterimanya menjadi titik acuan untuk membayangkan bagaimana tanggung jawab besar dapat dirasakan oleh seorang anak perempuan pertama, lalu menerjemahkan bayangan itu ke dalam penampilan. Proses tersebut tetap berpijak pada hal-hal yang ia dengar dan arahan sutradara, tanpa mengubah Putri menjadi sosok yang hanya ditentukan oleh unsur menakutkan. Kawai berupaya menghadirkan reaksi yang manusiawi, sesuai gagasan bahwa Putri pernah menjadi manusia. Dengan demikian, penghayatan karakter dibangun melalui dua sumber utama: arahan Rizal Mantovani dan cerita Mak Eli. Keduanya membantu Kawai mencari bentuk emosi yang tepat, sekaligus menjaga agar ekspresi Putri memiliki dasar perasaan yang dapat dipahami. Perhatian pada sisi tersebut menjadi bagian penting dari usahanya menghidupkan tokoh Putri di layar.

Selama proses syuting, Kawai Labiba menghadapi kendala teknis yang berkaitan langsung dengan penampilan fisik sosok Putri. Untuk sebagian besar proses, ia harus mengenakan lensa kontak khusus yang menutupi penglihatannya. Kondisi tersebut membuat pekerjaan di lokasi tidak sesederhana menyampaikan dialog dan mengikuti arahan. Kawai tetap perlu memahami situasi di sekitarnya, menyesuaikan diri dengan kebutuhan pengambilan gambar, serta menjaga konsentrasi ketika kamera mulai merekam. Lensa itu menjadi bagian penting dari penampilan karakter, tetapi sekaligus menghadirkan batasan yang harus ia kelola sepanjang bekerja. Karena penglihatannya tertutup, ia dituntut untuk tetap siap mengikuti arahan dan berkoordinasi dengan tim produksi. Tantangan ini memerlukan perhatian terus-menerus, sebab kebutuhan teknis penampilan karakter tidak dapat dipisahkan dari tuntutan akting yang harus terlihat meyakinkan di layar.

Di tengah keterbatasan penglihatan tersebut, Kawai tetap harus menyampaikan emosi dengan jelas. Ekspresi, gerak, dan responsnya perlu mendukung keadaan Putri, meskipun ia bekerja dengan bantuan lensa yang memengaruhi cara melihat lingkungan. Ia juga dituntut mempertahankan akting yang terasa alami, bukan sekadar menunjukkan bahwa dirinya sedang mengenakan perlengkapan khusus. Menjaga kewajaran penampilan membutuhkan kendali terhadap tubuh dan ekspresi, sekaligus kemampuan mengikuti kebutuhan adegan. Bagi seorang pemeran, keterbatasan alat dapat mengubah cara bergerak dan berinteraksi; dalam situasi ini, Kawai perlu tetap menampilkan karakter secara konsisten tanpa mengabaikan kondisi teknis yang menyertainya. Perhatian terhadap arahan dan posisi menjadi bagian dari pekerjaan, sementara emosi yang ingin disampaikan tetap harus terbaca oleh penonton. Perpaduan tuntutan tersebut menjadikan setiap pengambilan gambar sebagai pekerjaan yang menuntut kecermatan dan konsentrasi.

Perhatian Kawai juga terbagi dengan alat pengaman mekanis dan selang darah buatan yang dipasang di dalam mulut. Perlengkapan itu mendukung kebutuhan penampilan karakter, tetapi harus diperhatikan ketika ia berbicara, bergerak, dan mengatur ekspresi. Ia perlu berakting secara alami sambil menjaga kesadaran terhadap alat yang dikenakan, sehingga tuntutan teknis tidak mengalahkan penggambaran emosi. Kehadiran perangkat di area mulut menambah aspek yang perlu dikelola dalam menyampaikan dialog maupun respons karakter. Bersamaan dengan lensa kontak yang membatasi penglihatan, alat-alat tersebut membuat Kawai harus memperhatikan lebih dari satu kebutuhan pada waktu yang sama. Tantangan selama syuting bukan hanya memakai perlengkapan, melainkan menyatukannya dengan performa yang tetap meyakinkan. Kendala-kendala itu memperlihatkan tuntutan fisik dan teknis dari peran Putri, tanpa mengurangi perhatian pada keselamatan serta konsistensi akting di lokasi.“Putri Jangan Gentayangan Lagi” dijadwalkan hadir di bioskop mulai 5 November 2026. Tanggal tersebut menjadi informasi penting bagi calon penonton yang ingin menyaksikan film ini di layar lebar. Karya tersebut memadukan horor dengan drama keluarga, sehingga kisahnya tidak hanya bertumpu pada unsur menegangkan, tetapi juga menempatkan hubungan keluarga sebagai bagian dari cerita. Perpaduan dua genre ini menjadi gambaran pendekatan film dalam menyajikan pengalaman yang memuat ketegangan sekaligus konflik emosional. Meski demikian, informasi yang tersedia belum menguraikan detail alur maupun karakter secara lebih lengkap.

Film ini diproduksi bersama oleh MVP Pictures, Folago Pictures, PK Films, dan Show Token. Keterlibatan keempat nama tersebut menandai kolaborasi dalam proses produksi “Putri Jangan Gentayangan Lagi”. Selain melibatkan sejumlah rumah produksi, film ini juga memiliki sumber cerita yang berasal dari acara siniar Lentera Malam, yang dipandu Jamaluddin Darris. Dengan demikian, proyek ini mengadaptasi cerita yang sebelumnya disampaikan melalui format audio ke dalam bentuk film bioskop. Informasi tersebut memberi konteks mengenai latar pengembangan ceritanya, tanpa merinci perubahan atau penyesuaian yang dilakukan untuk versi layar lebar.

Lentera Malam disebut telah ditonton lebih dari 25 juta kali di YouTube.

Baca juga: Momen Berharga Sisca Saras Mengenakan Kostum Suster dalam Film Horor

banner 325x300