JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) mengabadikan nama Capt. Nazahar Naamin sebagai nama sebuah gedung di lingkungan terminal. Penghormatan ini menjadi penanda atas jasa almarhum sebagai salah satu perintis kontainerisasi di Pelabuhan Tanjung Priok, sekaligus pengingat bagi seluruh insan pelabuhan mengenai pentingnya keberanian menghadapi perubahan. Penamaan gedung tersebut tidak sekadar menjadi simbol penghormatan, tetapi juga merepresentasikan nilai perjuangan, pengabdian, dan visi jangka panjang dalam membangun layanan kepelabuhanan yang lebih modern.
Capt. Nazahar Naamin dikenal memiliki peran dalam perjalanan peralihan dari pola penanganan kargo konvensional menuju sistem peti kemas. Perubahan yang mulai berlangsung pada era 1970-an itu menuntut penyesuaian besar, baik dari sisi infrastruktur, teknologi, tata kelola, maupun kesiapan sumber daya manusia. Pada masa tersebut, penerapan sistem peti kemas menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan kecepatan arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok. Dedikasi para perintis seperti Capt. Nazahar menjadi bagian penting dari fondasi transformasi tersebut.
Direktur Utama JICT Ade Hartono menyampaikan bahwa terminal modern yang beroperasi saat ini merupakan hasil perjuangan lintas generasi. Menurutnya, kemajuan pelabuhan nasional tidak dibangun dalam waktu singkat, melainkan melalui kontribusi para pendahulu yang merintis sistem, memperkuat tata kelola, dan meletakkan fondasi operasional bagi generasi berikutnya. Pengabadian nama Capt. Nazahar Naamin diharapkan dapat menumbuhkan semangat perubahan di kalangan insan pelabuhan. Nilai perjuangan itu menjadi dorongan agar setiap generasi terus menjaga, mengembangkan, dan memperbarui sistem kepelabuhanan sesuai kebutuhan perdagangan serta perkembangan teknologi.
Ade Hartono menegaskan bahwa kemajuan kepelabuhanan tidak terbentuk secara tiba-tiba. Setiap lompatan dalam pengelolaan pelabuhan lahir dari keberanian generasi sebelumnya untuk memulai perubahan, menghadapi ketidakpastian, serta membangun cara kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan zamannya. Warisan tersebut bukan hanya berupa sistem atau infrastruktur, melainkan juga sikap terbuka terhadap pembaruan. Para pendahulu telah menunjukkan bahwa perkembangan industri membutuhkan visi, keteguhan, dan kesediaan untuk meninggalkan pola lama ketika perubahan memang diperlukan.
Pesan itu tetap relevan bagi insan pelabuhan pada masa kini. Pada masa sebelumnya, generasi terdahulu menghadapi lahirnya sistem kontainerisasi yang mengubah cara berbagai kegiatan kepelabuhanan dijalankan. Perubahan tersebut menuntut keberanian untuk memahami teknologi, menyesuaikan proses, dan membangun kemampuan baru. Saat ini, tantangan yang dihadapi memiliki bentuk yang berbeda, tetapi tuntutannya tidak kalah besar. Insan pelabuhan berhadapan dengan digitalisasi dan otomasi, sekaligus perlu memperhatikan keberlanjutan, ketahanan operasi, serta perubahan dalam rantai pasok global.
Perbedaan bentuk tantangan tidak mengubah inti pelajaran dari perjalanan tersebut. Digitalisasi dan otomasi menuntut kesiapan untuk beradaptasi, sementara keberlanjutan dan ketahanan operasi membutuhkan keputusan yang berpandangan jauh. Perubahan rantai pasok global juga mengharuskan industri pelabuhan untuk tetap tanggap terhadap dinamika yang berkembang. Dalam situasi demikian, pengalaman generasi terdahulu menjadi pengingat bahwa transformasi selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah. Bentuk tantangan dapat berubah dari waktu ke waktu, tetapi keberanian untuk bertransformasi harus tetap dipertahankan. Sikap inilah yang memungkinkan warisan perubahan terus memiliki makna dan menjadi dorongan bagi generasi saat ini untuk melanjutkan kemajuan kepelabuhanan.
Komisaris Utama PT Jakarta International Container Terminal (JICT), WS Wiryawan, memandang penamaan gedung dengan nama Capt. Nazahar Naamin sebagai bentuk penghormatan yang memiliki makna lebih luas daripada sekadar mengenang seorang tokoh. Nama tersebut diabadikan sebagai simbol nilai kepemimpinan, keberanian, dan pengabdian yang relevan bagi perjalanan transformasi pelabuhan. Menurutnya, setiap ruang yang menggunakan nama Capt. Nazahar Naamin diharapkan dapat mengingatkan seluruh insan JICT bahwa kemajuan dibangun melalui keteguhan memegang amanah serta kesediaan untuk menghadapi perubahan.
Wiryawan berharap lingkungan tersebut mampu melahirkan generasi baru yang berani memulai perubahan, bukan hanya menunggu keadaan berkembang dengan sendirinya. Generasi itu perlu memiliki kepekaan terhadap kebutuhan zamannya, kecakapan dalam mengambil keputusan, dan komitmen untuk memastikan setiap langkah memberikan manfaat bagi organisasi serta masyarakat. Ia berharap dari lingkungan tersebut muncul sosok-sosok yang memiliki semangat seperti Capt. Naamin, yakni pribadi yang mampu melihat tantangan sebagai peluang untuk memperbaiki keadaan dan menggerakkan kemajuan secara berkelanjutan.
Harapan itu menempatkan pengabadian nama Capt. Nazahar Naamin sebagai dorongan moral bagi seluruh jajaran JICT. Warisan seorang tokoh tidak semestinya berhenti pada prasasti, nama gedung, atau catatan sejarah, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Cara terbaik untuk menghormati perjuangan Capt. Naamin adalah meneruskan semangatnya melalui kerja yang bertanggung jawab, keberanian melakukan pembaruan, dan kesungguhan menjaga kepercayaan. Dengan demikian, penghormatan tersebut tidak menjadi simbol yang pasif, melainkan energi untuk membentuk kepemimpinan baru yang mampu membawa pelabuhan terus maju sesuai tuntutan zaman.
Mieke Naamin, istri almarhum Capt. Nazahar Naamin, menyampaikan apresiasi kepada Jakarta International Container Terminal (JICT) atas perhatian dan penghargaan terhadap pengabdian suaminya. Menurutnya, keputusan mengabadikan nama Capt. Naamin pada sebuah gedung memiliki makna yang mendalam bagi keluarga. Penamaan tersebut bukan sekadar pencantuman nama pada fasilitas, melainkan tanda bahwa kerja keras, keteladanan, dan pengabdian almarhum masih diingat serta tetap berarti bagi generasi sekarang. Penghormatan itu juga menjadi penghubung sejarah pembangunan terminal peti kemas dan tantangan industri kepelabuhanan pada masa kini.
Capt. Nazahar Naamin bergabung dengan unit terminal container pada 1973, ketika sistem kepelabuhanan berbasis peti kemas mulai berkembang dan membutuhkan fondasi yang kuat. Dalam perjalanan kariernya, ia berperan penting dalam meletakkan dasar sistem, infrastruktur, serta pola operasi berbasis peti kemas di Tanjung Priok. Kontribusinya tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan kegiatan operasional, tetapi juga mencakup pembentukan tata kerja, penguatan koordinasi, dan pengembangan kapasitas organisasi agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan perdagangan nasional.
Sejumlah posisi strategis pernah diembannya, lain kepala unit terminal petikemas, kepala cabang Pelabuhan Tanjung Priok, dan direktur usaha Pelindo II. Berbagai tanggung jawab tersebut memperlihatkan kepercayaan yang diberikan kepadanya sekaligus menggambarkan luasnya pemikiran dan pengalaman yang dibawa dalam pengembangan pelabuhan. Bagi keluarga, rekam jejak itu menjadi warisan profesional yang terus relevan, terutama ketika sektor logistik dituntut semakin efisien, terintegrasi, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Setelah lebih dari lima dekade perjalanan, JICT kini mengelola kapasitas lebih dari 2 juta TEUs per tahun. Perkembangan tersebut berjalan seiring dengan upaya memperkuat digitalisasi, ketahanan operasi, dan pengembangan sumber daya manusia. JICT juga menerapkan konsep terminal ramah lingkungan melalui peningkatan efisiensi proses dan perhatian terhadap dampak operasional. Dengan demikian, penghormatan kepada Capt. Naamin tidak berhenti pada simbol, tetapi menjadi pengingat agar semangat membangun, berinovasi, dan melayani terus diteruskan dalam transformasi pelabuhan.







