banner 728x250

ID Food Nilai Program MBG Menopang Stabilitas Harga Telur Ayam

ID Food Nilai Program MBG Menopang Stabilitas Harga Telur Ayam
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai satu-satunya pintu yang dapat menjaga stabilitas pasokan sekaligus harga telur ayam, terutama pada tingkat peternak. Menurutnya, kebutuhan telur dalam program tersebut dapat menjadi penyangga bagi hasil produksi peternak. Pernyataan itu disampaikan dalam Agrifood Forum 2026 yang berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (19/10). Ghimoyo menekankan keterkaitan penyerapan telur untuk MBG dan kepastian pasar bagi para produsen.

Untuk memenuhi kebutuhan program, ID Food telah memperbesar pasokan telur yang disiapkan. Langkah tersebut diarahkan agar ketersediaan produk dapat mengikuti kebutuhan MBG sekaligus membantu menjaga harga di tingkat peternak tetap stabil. Dengan pasokan yang lebih besar, pengadaan untuk program dapat menyerap telur secara lebih terencana. Bagi peternak, keberadaan permintaan yang terserap menjadi penting karena dapat mendukung kesinambungan penjualan dan mengurangi ketidakpastian dalam memasarkan hasil ternak. Namun, pernyataan tersebut juga menempatkan kecukupan pasokan sebagai unsur utama agar kebutuhan program dapat dipenuhi tanpa mengabaikan kondisi produsen.

banner 325x300

Dalam konteks ini, MBG dipandang bukan hanya sebagai program pemenuhan pangan, tetapi juga sebagai jalur penyerapan yang berpotensi menopang rantai pasok telur ayam. Kebutuhan yang muncul dari pelaksanaan program perlu diimbangi dengan pengadaan yang sesuai, sehingga pasokan dapat tersedia ketika dibutuhkan dan harga di tingkat peternak memperoleh dukungan. Peran ID Food dalam memperbesar pasokan menjadi bagian dari upaya tersebut. Ghimoyo menyampaikan bahwa stabilitas harga dan pasokan telur, khususnya bagi peternak, bergantung pada keberadaan pintu permintaan seperti MBG. Dengan demikian, program ini dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan kebutuhan pangan dan keberlangsungan usaha peternakan. Keterangan itu disampaikan di tengah pembahasan sektor agrifood, dengan perhatian pada hubungan pengadaan program dan kondisi pasar telur. Fokusnya adalah memastikan kebutuhan MBG dapat dipenuhi, sementara peternak tetap memperoleh pasar bagi produksi mereka.

ID Food meningkatkan pasokan telur ayam yang dialokasikan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini menempatkan kebutuhan program sebagai salah satu tujuan penyaluran produk peternakan, sekaligus memberi perhatian pada keberlanjutan usaha para peternak. Penambahan pasokan dimaksudkan agar ketersediaan telur dapat menopang pelaksanaan MBG tanpa mengabaikan kondisi pasar dan kepentingan produsen. Dalam konteks tersebut, upaya ID Food tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga dengan upaya menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran telur ayam.

Perhatian terhadap kestabilan harga di tingkat peternak menjadi bagian penting dari langkah tersebut. Perubahan permintaan dapat memengaruhi harga jual yang diterima produsen, sehingga pengelolaan pasokan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap pelaku usaha di hulu. Dengan memperbesar pasokan untuk MBG, ID Food berupaya mendukung ketersediaan telur bagi program sekaligus membantu menjaga agar harga tidak bergejolak dan merugikan peternak. Tujuan ini relevan bagi keberlanjutan produksi, karena kepastian pasar dan harga yang lebih stabil dapat menjadi pertimbangan bagi peternak dalam menjalankan usahanya.

Ghimoyo menyampaikan bahwa MBG berperan sebagai penyangga harga telur ayam. Pernyataan tersebut menegaskan hubungan kebutuhan program dan upaya meredam tekanan harga di tingkat produsen. Peran sebagai penyangga bukan berarti seluruh dinamika pasar otomatis hilang, melainkan menunjukkan bahwa permintaan dari program dapat membantu mendukung penyerapan telur dan menjaga kestabilan harga peternak. Klaim mengenai fungsi tersebut berasal dari Ghimoyo, sehingga perlu dipahami sebagai penjelasan yang ia sampaikan tentang kontribusi MBG. Dengan memperbesar pasokan yang dialokasikan bagi program, ID Food berupaya menyelaraskan dukungan terhadap pemenuhan pangan bergizi dengan perhatian pada kondisi ekonomi peternak. Arah kebijakan ini memperlihatkan bahwa pengadaan pangan publik dapat dikaitkan dengan stabilitas komoditas, selama tujuan pemenuhan kebutuhan dan perlindungan produsen dipertimbangkan bersama. Fokusnya adalah menjaga ketersediaan telur untuk MBG serta membantu menciptakan kondisi harga yang lebih stabil bagi peternak, tanpa mengabaikan fungsi program dalam menyediakan pangan bagi masyarakat.Ghimoyo menjelaskan bahwa aktivitas produksi telur tidak otomatis berhenti ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berjalan. Peternak tetap menghasilkan telur, bahkan produksinya disebut telah meningkat tajam. Dalam keadaan normal, hasil panen tersebut biasanya terserap oleh program MBG. Karena itu, keberlangsungan program menjadi salah satu unsur penting yang membantu menjaga aliran permintaan terhadap telur dari peternak. Ketika penyerapan berlangsung, produksi yang terus berjalan memiliki saluran pasar yang jelas. Namun, saat program berhenti sementara, keseimbangan jumlah telur yang tersedia dan permintaan pembeli dapat berubah. Perubahan itu terlihat langsung pada harga di tingkat peternak.

Contoh yang disampaikan Ghimoyo berkaitan dengan masa libur sekolah, ketika anak sekolah disebut libur selama empat hari. Pada masa tersebut, MBG tidak berjalan seperti biasa, sementara produksi telur tetap berlangsung. Dengan berkurangnya penyerapan dari program, permintaan terhadap hasil panen ikut menurun. Situasi ini menunjukkan bahwa perubahan kegiatan di sisi konsumen dapat berpengaruh pada pasar komoditas yang pasokannya tetap tersedia. Telur yang sebelumnya biasa terserap melalui MBG tidak lagi mendapatkan tingkat permintaan yang sama selama program berhenti sementara. Keterangan mengenai empat hari libur itu disampaikan sebagai gambaran dampak terhadap permintaan, tanpa menunjukkan perubahan pada proses produksi telur.

Menurut Ghimoyo, penurunan permintaan tersebut membuat harga telur di tingkat peternak langsung anjlok. Dampak ini menegaskan bahwa pasokan yang meningkat tajam membutuhkan penyerapan yang sepadan agar harga tidak mudah tertekan. Saat hasil panen tetap keluar tetapi salah satu saluran permintaan berhenti, peternak menghadapi kondisi pasar yang berbeda dari keadaan ketika MBG beroperasi. Contoh ini memperlihatkan hubungan pelaksanaan program, daya serap hasil produksi, dan stabilitas harga telur. MBG dalam konteks tersebut bukan hanya berkaitan dengan penyediaan makanan, tetapi juga menjadi pembeli yang biasanya menyerap sebagian hasil panen. Ketika penyerapan itu terhenti sementara, penurunan permintaan dapat segera tercermin pada harga di tingkat peternak.Ghimoyo menjelaskan bahwa produksi telur yang tetap berjalan saat permintaan melemah dapat memicu gejolak harga. Telur yang terus dihasilkan peternak perlu terserap pasar, sementara kebutuhan pembeli tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Ketika penyerapan menurun, keseimbangan jumlah pasokan dan permintaan berubah. Kondisi tersebut dapat memberi tekanan pada harga, terutama di tingkat peternak, karena hasil produksi tetap tersedia meski pembeli berkurang. Dalam situasi seperti ini, kesinambungan produksi dan kemampuan pasar menyerap telur menjadi dua hal yang saling berkaitan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut berperan melalui penyerapan telur. Permintaan dari program tersebut membantu menyediakan saluran bagi telur yang diproduksi, sehingga produksi yang terus berlangsung tidak sepenuhnya bergantung pada permintaan pasar yang sedang melemah. Penyerapan itu berkaitan langsung dengan stabilitas harga: ketika ada kebutuhan yang menyerap hasil produksi, tekanan akibat pasokan yang tidak terserap dapat diredam. Bagi peternak, hubungan ini penting karena perubahan permintaan berpengaruh terhadap harga yang mereka terima. MBG dengan demikian dikaitkan dengan upaya menjaga kesinambungan penyerapan, bukan dengan penghentian produksi.

Menurut Ghimoyo, keadaan ketika produksi berlanjut tetapi permintaan melemah berpotensi menimbulkan perubahan harga yang bergejolak. Karena itu, pemerintah hadir untuk membantu menstabilkannya. Penjelasan tersebut menempatkan penyerapan telur melalui MBG dalam kaitan dengan kondisi produksi dan harga di tingkat peternak. Selama telur tetap diproduksi, keberadaan permintaan yang menyerap hasilnya dapat membantu mengurangi ketimpangan pasokan dan kebutuhan. Sebaliknya, apabila permintaan turun sementara produksi berlangsung, tekanan harga dapat muncul.

Baca juga: Penghapusan Satuan Pendidikan dari Program Makan Bergizi | Update Program Bansos September 2026: BLT Desa dan Beragam Bantuan Keluarga | Program POLIRAN, Aiptu Rukmono Sambangi Warga Budimulya Perkuat Kamtibmas

banner 325x300