banner 728x250

Api Belum Padam di Ciremai, Tim Gabungan Menangani Sepuluh Titik

Api Belum Padam di Ciremai, Tim Gabungan Menangani Sepuluh Titik
banner 120x600
banner 468x60

Medan | Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat, masih belum berhasil dipadamkan hingga Sabtu, 24 Oktober 2026. Api mulai muncul pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, dan upaya penanganan terus dilakukan oleh tim gabungan. Kondisi tersebut membuat petugas tetap berfokus pada pencarian serta pemadaman titik-titik api yang masih terpantau di kawasan gunung. Kepala BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, menyampaikan bahwa jumlah titik api berkurang dibandingkan pemantauan sebelumnya, tetapi belum seluruhnya dapat dipadamkan. Dari 13 titik yang sempat terdeteksi, tiga titik berhasil ditangani sehingga masih tersisa sepuluh titik. Dengan demikian, operasi pemadaman belum dapat dihentikan dan pemantauan tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan api.

Perubahan jumlah titik api diketahui melalui pemantauan menggunakan putra dan drone thermal. Pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 18.00 WIB, pemantauan mendeteksi 13 titik api. Setelah operasi penanganan berlangsung, jumlah itu tercatat turun menjadi sepuluh titik pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 16.00 WIB. Selisih tersebut menunjukkan adanya tiga titik yang berhasil dipadamkan, sebagaimana disampaikan Indra Bayu. Namun, penurunan jumlah titik tidak berarti seluruh kebakaran telah selesai ditangani. Sepuluh titik yang masih tersisa menandakan pekerjaan tim gabungan masih berlangsung pada hari ketiga sejak api mulai muncul. Data pemantauan menjadi salah satu dasar bagi petugas untuk mengidentifikasi lokasi yang memerlukan penanganan lanjutan dan mengikuti perubahan situasi di lapangan. Informasi tersebut juga menggambarkan bahwa kondisi kebakaran masih perlu diawasi, sementara upaya pemadaman dilakukan secara bertahap. Hingga Sabtu, 24 Oktober, api belum dinyatakan padam; karena itu, perkembangan setiap titik tetap menjadi perhatian dalam operasi di Gunung Ciremai. Pembaruan angka dari 13 menjadi 10 memberi gambaran mengenai hasil operasi sejauh ini, sekaligus menunjukkan masih adanya titik api yang harus ditangani oleh tim gabungan. Pemantauan berkala dengan dukungan perangkat tersebut membantu petugas memperoleh gambaran sebaran api, tanpa mengubah kenyataan bahwa pemadaman belum tuntas.

banner 325x300

Upaya pemadaman api di kawasan Gunung Ciremai menghadapi kendala berupa angin kencang dan medan yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut disampaikan Indra Bayu serta Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Silihwangi Majakuning, Nandar Juniar Arif, melalui humas MPA, Asep. Kedua faktor itu membuat tim gabungan perlu menghadapi tantangan tersendiri saat berusaha menjangkau titik-titik api dan mengendalikan kebakaran.

Asep menjelaskan, lokasi Karang Dinding tidak dapat dicapai dengan mudah dari bawah. Petugas harus berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer untuk menuju kawasan tersebut. Jarak dan kondisi jalur membuat pergerakan personel maupun upaya membawa perlengkapan pemadaman menjadi lebih berat. Medan yang sulit dijangkau juga membatasi ruang gerak tim saat menangani api di sejumlah bagian kawasan.

Selain jalur yang menantang, arah dan kekuatan angin turut memengaruhi proses pemadaman. Angin kencang dapat menyulitkan petugas dalam mengendalikan api, sehingga kondisi cuaca menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu penanganan. Menurut penjelasan Asep, pemadaman di Karang Dinding dinilai lebih memungkinkan dilakukan pada malam hari, ketika angin berkurang. Kondisi angin yang lebih tenang diharapkan membuat upaya petugas dapat berlangsung dengan lebih terkendali.

Vegetasi yang terbakar di kawasan tersebut meliputi semak belukar, alang-alang, serasah kering, dan pohon pinus. Jenis tumbuhan itu menjadi bagian dari area yang harus ditangani oleh tim gabungan. Keberadaan serasah kering dan vegetasi lainnya menambah bahan yang terbakar, sementara angin dan akses yang terbatas tetap menjadi kendala utama bagi petugas di lapangan.

Dengan demikian, penanganan di Karang Dinding bergantung pada kemampuan tim menjangkau lokasi serta kondisi angin pada saat pemadaman berlangsung. Keterangan MPA menekankan bahwa perjalanan kaki dari bawah memerlukan waktu dan tenaga, sedangkan angin yang lebih lemah pada malam hari membuka peluang penanganan yang lebih memungkinkan. Informasi tersebut menggambarkan tantangan operasional yang dihadapi petugas tanpa menyebutkan perkiraan luas kawasan terbakar maupun dampak lain. Tim gabungan tetap perlu menyesuaikan upaya pemadaman dengan keadaan medan dan cuaca yang ditemui di lokasi, terutama pada titik yang jauh dari akses bawah.Penanganan api di kawasan Gunung Ciremai dilakukan melalui dua metode, yakni water bombing menggunakan helikopter dan pemadaman secara manual. Penyiraman dari udara terutama diarahkan ke area yang sulit dijangkau petugas di darat, sehingga air dapat dijatuhkan pada titik-titik yang aksesnya terbatas. Menurut Indra, operasi water bombing telah dilakukan sebanyak dua kali. Ia berharap dukungan helikopter dapat dilanjutkan, baik untuk membantu memadamkan api yang masih aktif maupun melakukan pendinginan pada area yang berpotensi menyimpan bara.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, tim gabungan membagi penanganan ke dalam tiga sektor, yaitu Bukit Seribu Bintang (BSB), Karang Dinding, dan Bintangot. Pembagian sektor tersebut menjadi dasar pengaturan personel dan pekerjaan di lapangan. Petugas menjalankan pemadaman langsung sekaligus mengupayakan pencegahan agar api tidak merambat ke bagian lain. Kedua metode penanganan saling melengkapi: bantuan dari udara menyasar wilayah yang sulit dicapai, sementara tim di darat menangani titik api dan membuat penghalang secara manual.

Unsur yang terlibat dalam operasi mencakup TNGC, TNI, Polri, BPBD, brigade pengendalian kebakaran hutan dan lahan, damkar, Tagana, MPA, relawan, serta masyarakat sekitar. Asep menyebut MPA mengerahkan sekitar 177 personel untuk mendukung pekerjaan di lapangan. Salah satu fokus mereka adalah membuat sekat bakar, yakni jalur yang dibersihkan dari bahan mudah terbakar untuk membantu membatasi pergerakan api. Pembuatan jalur ini membutuhkan tenaga dan koordinasi, terutama pada medan yang tidak mudah dilalui kendaraan maupun peralatan berat.

Dalam pemadaman manual, petugas menggunakan peralatan konvensional yang dapat dibawa langsung ke lokasi, seperti arit, pacul, dan pemukul yang dibuat dari ranting. Alat-alat tersebut dimanfaatkan untuk membersihkan vegetasi, membangun sekat bakar, serta membantu menangani api di sekitar titik yang dijangkau personel. Menurut Asep, hampir 1.000 orang bergabung dalam upaya penanganan tersebut. Keterlibatan berbagai unsur dan warga memperkuat kerja tim gabungan di tiga sektor, sementara operasi udara diharapkan mendukung pemadaman serta pendinginan pada area yang sulit dijangkau.

Petugas belum dapat menyampaikan perkiraan luas area yang terbakar dalam peristiwa kebakaran di kawasan Gunung Ciremai. Hingga saat ini, upaya di lapangan masih diarahkan untuk menangani api sekaligus memetakan titik-titik yang terdampak. Tim gabungan perlu memperoleh gambaran kondisi secara lebih menyeluruh sebelum menyampaikan angka luasan. Karena penanganan masih berlangsung, informasi mengenai cakupan kebakaran belum dapat dipastikan dan sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai ukuran akhir dampak kejadian.

Indra menyampaikan bahwa penyebab kebakaran juga belum dapat disimpulkan. Petugas masih mengutamakan pengendalian api dan pendataan titik api, sehingga belum ada kesimpulan mengenai bagaimana kebakaran bermula. Ia menyebut titik awal diketahui berada di perbatasan zona tradisional dan zona rimba. Namun, keterangan mengenai lokasi tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab kebakaran maupun menunjukkan adanya pelanggaran. Penentuan sebab memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan bukti yang dapat mendukung kesimpulan.

Indra menegaskan, apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan pelanggaran atau unsur kesengajaan, temuan itu perlu ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Pernyataan tersebut bersifat bersyarat dan bukan penetapan bahwa kebakaran terjadi akibat tindakan tertentu. Sampai ada hasil pemeriksaan, belum tepat menunjuk pihak yang bertanggung jawab atau menyebarkan dugaan mengenai penyebabnya.

Baca juga: Cepat Tanggap, Babinsa Koramil Kesamben Bersama Tim Gabungan Berhasil Padamkan Kebakaran Lahan Di Desa Sukoanyar | Gerak Cepat Tim Gabungan Resmob Polresta Sorong Kota Tangkap Pelaku Pencurian di Kapal Pesiar WNA Jerman, Kerugian Capai Rp250 Juta | Aksi Cepat Tanggap Babinsa Bersama Warga Dan Tim Gabungan Padamkan Kebakaran Lahan Bambu Di Kesamben

banner 325x300