Kabupaten Landak | PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BRI Peduli menyalurkan 270 unit mesin pompa air atau alkon untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Bantuan ini ditujukan untuk membantu petugas menghadapi kebutuhan pemadaman di lapangan, terutama ketika sumber air perlu dialirkan menuju titik kebakaran. Penyaluran peralatan tersebut menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap upaya penanganan karhutla bersama para pemangku kepentingan di daerah.
Dalam pelaksanaannya, BRI berkoordinasi dengan satuan tugas (satgas) karhutla, pemerintah daerah, serta instansi terkait. Koordinasi dilakukan agar bantuan dapat disalurkan sesuai kebutuhan dan menjangkau wilayah yang memerlukan dukungan. Sejumlah daerah penerima mencakup Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau. Keterlibatan pihak-pihak tersebut juga membantu memastikan mesin pompa dapat dimanfaatkan oleh petugas yang menjalankan tugas penanganan kebakaran di wilayah masing-masing.
Selain 270 unit alkon, bantuan yang disalurkan mencakup perlengkapan pendukung berupa selang hisap sepanjang lima meter, selang air, dan nosel. Peralatan tersebut dapat digunakan petugas sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan. Selang hisap membantu menghubungkan pompa dengan sumber air, sementara selang air dan nosel mendukung penyaluran air menuju area yang perlu ditangani. Ketersediaan perlengkapan yang sesuai menjadi salah satu unsur penting dalam penggunaan pompa secara efektif.
Dukungan peralatan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan petugas dan membantu kelancaran penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Penyaluran melalui koordinasi dengan satgas dan pemerintah daerah memungkinkan bantuan disesuaikan dengan kebutuhan wilayah penerima. Dengan demikian, mesin pompa dan perlengkapannya dapat menjadi sarana pendukung bagi upaya pemadaman yang dilakukan petugas, sekaligus melengkapi langkah-langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan yang dilaksanakan oleh instansi terkait.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan luas wilayah, tetapi juga kondisi lapangan yang beragam. Titik api dapat tersebar di sejumlah lokasi, sehingga petugas perlu mengatur respons pada beberapa area sekaligus. Sebaran tersebut membuat upaya pemadaman membutuhkan kesiapan untuk bergerak dan menyesuaikan penanganan dengan keadaan di setiap lokasi. Ketika kebakaran muncul di tempat yang berjauhan, waktu dan kemampuan menjangkau titik api menjadi pertimbangan penting dalam pengerahan personel.
Akses menuju kawasan kebakaran juga dapat sulit dilalui kendaraan. Kondisi ini membatasi mobilitas petugas dan peralatan, khususnya ketika lokasi kejadian berada di wilayah yang tidak mudah dijangkau. Selain itu, ketersediaan sumber air yang terbatas menambah kendala dalam mendukung pemadaman. Petugas harus menghadapi dua kebutuhan yang saling berkaitan: mencapai area terdampak dan memperoleh dukungan untuk menangani api. Karena itu, perencanaan respons perlu memperhatikan karakteristik geografis serta hambatan yang mungkin ditemui di lapangan.
Beragam kondisi tersebut menuntut kesiapan personel dan ketersediaan peralatan yang memadai. Peralatan perlu mendukung petugas dalam menghadapi titik api tanpa mengabaikan keterbatasan akses maupun sumber air. Kesiapan tidak hanya berarti memiliki perlengkapan, tetapi juga memastikan perlengkapan dapat dibawa dan digunakan sesuai kebutuhan penanganan. Dengan mempertimbangkan perbedaan kondisi antarwilayah, dukungan yang tersedia dapat membantu petugas merespons secara lebih terarah, terutama saat beberapa titik memerlukan perhatian dalam waktu berdekatan.
Dalam situasi yang membutuhkan respons cepat, pompa yang praktis dan mudah dimobilisasi dapat menjadi bagian dari dukungan bagi personel. Kemudahan pemindahan membantu perlengkapan mengikuti kebutuhan di lokasi, termasuk ketika kendaraan tidak dapat melintasi akses tertentu dengan mudah. Fungsi tersebut relevan bagi upaya menjangkau titik api yang tersebar, tanpa mengabaikan keterbatasan sumber air. Pompa bukan pengganti kesiapan petugas maupun kebutuhan dukungan lainnya, melainkan salah satu peralatan yang dapat menunjang penanganan sesuai kondisi lapangan. Ketersediaan peralatan yang tepat dan kesiapan personel bersama-sama mendukung respons terhadap karhutla di wilayah Kalimantan Barat yang memiliki kondisi geografis beragam.
Dandim 1204/Sanggau-Sekadau Letkol Inf Nurrachman Gindha Dradhizya menyampaikan apresiasi atas bantuan pompa air dari BRI untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Menurutnya, dukungan peralatan tersebut memiliki arti penting bagi personel yang bertugas langsung di lapangan, terutama ketika menghadapi kondisi yang menuntut upaya pemadaman dilakukan dengan sigap.
Tambahan sarana seperti pompa air dapat membantu pelaksanaan tugas di lokasi karhutla, termasuk saat personel perlu merespons titik api yang membutuhkan penanganan cepat. Dalam situasi tersebut, kesiapan peralatan menjadi salah satu unsur pendukung bagi petugas untuk menjalankan langkah penanggulangan sesuai keadaan di lapangan. Bantuan ini juga memberi dukungan praktis bagi personel yang berupaya mengendalikan api dan mengurangi dampak kebakaran.
Dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Nurrachman menyatakan bahwa bantuan itu berarti bagi tugas personel di lapangan. Ia juga mengapresiasi kepedulian BRI dalam mendukung penanggulangan dampak asap karhutla di Kalimantan Barat. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya dukungan berbagai pihak terhadap upaya yang dilakukan petugas, terutama ketika kebakaran menimbulkan asap dan mengganggu lingkungan maupun aktivitas masyarakat.
Apresiasi itu sekaligus mencerminkan kebutuhan akan kerja sama dalam menghadapi karhutla. Penanganan di lapangan melibatkan kesiapan personel serta ketersediaan sarana yang sesuai dengan kebutuhan. Pompa air yang disalurkan BRI diharapkan dapat menunjang tugas tersebut, sehingga petugas memiliki tambahan peralatan untuk membantu menghadapi titik api dan kondisi yang berubah. Dukungan seperti ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk merespons kebakaran dan menekan dampak asap bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Dengan adanya bantuan tersebut, personel dapat memperoleh dukungan tambahan dalam melaksanakan tugas penanggulangan. Apresiasi Dandim juga menjadi pengakuan atas kepedulian BRI terhadap kebutuhan di lapangan. Kolaborasi pihak yang mendukung dan petugas yang menangani kejadian diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, sekaligus membantu memastikan respons terhadap karhutla dapat dilakukan secara lebih cepat dan terarah sesuai situasi yang dihadapi.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Paparan asap berpotensi mengganggu kesehatan, terutama ketika warga harus berada di lingkungan dengan kualitas udara yang menurun. Pada saat yang sama, jarak pandang yang terbatas dapat menghambat mobilitas, termasuk perjalanan untuk bekerja, bersekolah, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gangguan terhadap aktivitas tersebut juga dapat berimbas pada kegiatan ekonomi masyarakat, khususnya bagi warga yang mengandalkan pekerjaan di luar ruangan.
Untuk membantu mengurangi paparan asap, BRI Peduli menyalurkan masker kepada warga terdampak. Masker dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan saat masyarakat perlu beraktivitas di luar rumah, meskipun penggunaannya tidak menghilangkan seluruh risiko akibat asap. Bantuan ini menjadi salah satu bentuk dukungan praktis di tengah situasi karhutla, terutama bagi warga yang tetap harus bepergian atau bekerja ketika kondisi udara belum sepenuhnya membaik.
Selain masker, BRI Peduli juga memberikan vitamin untuk membantu mendukung daya tahan tubuh masyarakat. Dukungan kesehatan tersebut ditujukan bagi warga terdampak, termasuk mereka yang tetap menjalankan aktivitas di luar ruangan. Penyaluran bantuan ini melengkapi dukungan berupa peralatan penanganan karhutla, sehingga perhatian tidak hanya diberikan kepada proses pemadaman, tetapi juga kepada kebutuhan masyarakat yang menghadapi dampak asap dalam keseharian.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa dukungan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) diarahkan untuk memenuhi kebutuhan penanganan di lapangan sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah.
Baca juga: Dukungan Pemprov Jakarta dalam Penanganan Penyulundupan Kacang Tanah | Tujuh Jenazah Tiba Melalui Jalur Udara, Lanud Sjamsudin Noor Teguhkan Dukungan SAR KM Virgo | Panen Padi Bersama Petani, Babinsa Perkuat Dukungan Terhadap Ketahanan Pangan














