banner 728x250

Dukungan Intelijen BIN Disebut Berperan dalam Operasi TNI di Maybrat

Dukungan Intelijen BIN Disebut Berperan dalam Operasi TNI di Maybrat
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Maybrat | Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menyebut dukungan intelijen memiliki peran penting dalam pelaksanaan operasi keamanan di wilayah Maybrat, Papua. Menurut dia, informasi yang akurat mengenai situasi lapangan membantu aparat memahami pergerakan kelompok bersenjata, termasuk lokasi, pola aktivitas, serta potensi ancaman yang mungkin muncul. Data tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi satuan operasi dalam menyusun langkah penindakan secara lebih terarah.

Lucky menjelaskan, informasi mengenai keberadaan kelompok bersenjata menjadi dasar untuk menentukan sasaran operasi. Dengan dukungan informasi yang memadai, aparat dapat memusatkan tindakan pada titik atau pihak yang telah diidentifikasi, sehingga operasi tidak dilakukan secara serampangan. Pendekatan berbasis informasi itu juga dinilai dapat menekan potensi bahaya bagi masyarakat sipil yang tinggal di sekitar wilayah operasi. Perlindungan terhadap warga menjadi pertimbangan penting karena aktivitas keamanan berlangsung di kawasan yang memiliki permukiman dan akses masyarakat.

banner 325x300

Dalam konteks tersebut, keterpaduan Badan Intelijen Negara (BIN) dan satuan operasi TNI dipandang sebagai unsur penting untuk menghadapi ancaman kekerasan bersenjata. Koordinasi antarlembaga memungkinkan informasi yang dihimpun dan dianalisis dapat diteruskan kepada unsur pelaksana secara tepat waktu. Aparat di lapangan selanjutnya dapat menyesuaikan tindakan dengan perkembangan situasi, sekaligus mengantisipasi kemungkinan perubahan pola gerak kelompok bersenjata. Dukungan intelijen bukan hanya berkaitan dengan penentuan sasaran, tetapi juga membantu perencanaan operasi agar berlangsung lebih terukur, efektif, dan tetap memperhatikan keselamatan warga. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan operasi keamanan tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan satuan, melainkan juga oleh kualitas informasi serta koordinasi yang mendasari setiap keputusan.

Operasi di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, menjadi salah satu contoh yang disampaikan Lucky untuk menggambarkan peran dukungan intelijen BIN dalam operasi TNI. Operasi tersebut menyasar kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya. Penindakan dilakukan oleh pasukan gabungan yang terdiri atas Satgas Yonif Marinir 9 dan Denkulf 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema.

Berdasarkan informasi operasi yang disampaikan, pasukan gabungan bergerak untuk melakukan tindakan terhadap kelompok bersenjata tersebut di wilayah Kabupaten Maybrat. Kegiatan itu merupakan operasi yang melibatkan unsur satuan TNI sebagaimana disebutkan dalam keterangan mengenai peristiwa tersebut. Sasaran operasi ditetapkan pada kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, yang disebut beraktivitas di kawasan Sorong Raya.

Dalam penjelasan mengenai operasi itu, keberhasilan penindakan disebut didukung oleh informasi intelijen dari BIN. Informasi tersebut disebut memiliki nilai A1. Keterangan ini menempatkan dukungan intelijen sebagai salah satu unsur yang berperan dalam membantu pasukan gabungan melaksanakan operasi di lapangan, tanpa mengubah pihak, satuan, maupun lokasi yang tercantum dalam laporan.

Dengan demikian, rangkaian operasi di Maybrat memperlihatkan keterkaitan informasi intelijen dan tindakan pasukan gabungan TNI. Satgas Yonif Marinir 9 bersama Denkulf 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema menjadi unsur yang disebut melakukan penindakan terhadap TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya. Berdasarkan informasi yang disampaikan, dukungan informasi intelijen bernilai A1 dari BIN turut mendukung keberhasilan operasi tersebut di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Pasukan gabungan yang menjalankan operasi di wilayah Maybrat dilaporkan menemukan tempat persembunyian Manfret Fatem, yang disebut sebagai Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya. Di lokasi tersebut, Manfret disebut bersama dua komandan batalyon, yakni Anton Fatem, Komandan Batalyon Ayosami, dan Yesias Fatem, Komandan Batalyon Mosata. Informasi mengenai penemuan itu disampaikan oleh Lucky, yang memberikan keterangan terkait perkembangan operasi kepada pihak terkait.

Menurut keterangan tersebut, ketiga orang itu disebut melakukan perlawanan ketika pasukan TNI tiba di sekitar lokasi. Mereka dilaporkan menembaki personel TNI, sehingga terjadi kontak senjata. Situasi itu kemudian diikuti tindakan pengejaran dan penyisiran oleh pasukan gabungan di kawasan sekitar tempat persembunyian. Rangkaian peristiwa tersebut masih menjadi bagian dari laporan operasi yang disampaikan secara bertahap, sementara detail mengenai waktu dan kondisi lapangan belum seluruhnya dijelaskan.

Manfret Fatem dilaporkan tewas di lokasi setelah kontak senjata tersebut. Sementara itu, Anton Fatem dan Yesias Fatem disebut tewas ketika berusaha melarikan diri menuju kawasan Sungai Frambu. Kedua jenazah itu dilaporkan tenggelam di sungai, sehingga pencarian dan upaya penelusuran masih berlangsung. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan keberadaan keduanya serta memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai kejadian di sekitar aliran sungai.

Dari lokasi yang disebut sebagai tempat persembunyian, pasukan gabungan juga dilaporkan mengamankan sejumlah barang. Barang tersebut terdiri atas satu pucuk senjata api jenis AK-101, puluhan butir amunisi tajam, dan satu lembar bendera Bintang Kejora. Seluruh temuan itu menjadi bagian dari barang bukti yang diamankan setelah operasi. Keterangan mengenai temuan dan korban masih bersumber pada laporan lapangan, sehingga verifikasi dari pihak berwenang tetap diperlukan untuk memastikan seluruh detail peristiwa.

Lucky menegaskan bahwa TNI akan terus menjalankan pengamanan wilayah dan penegakan hukum terhadap setiap ancaman kekerasan bersenjata di Papua secara profesional, tegas, dan terukur. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga ketertiban, mencegah meluasnya gangguan keamanan, serta memastikan aktivitas masyarakat dapat berlangsung dengan aman. Dalam pelaksanaannya, tindakan aparat harus didasarkan pada penilaian situasi yang cermat dan tujuan operasi yang jelas, bukan semata-mata pendekatan kekuatan.

Personel yang berada di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III atau Kogabwilhan III diwajibkan mengedepankan rules of engagement (ROE) sebagai pedoman dalam setiap tahapan operasi. Selain itu, seluruh tindakan harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan menjunjung tinggi penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kepatuhan terhadap aturan tersebut penting untuk membedakan tindakan penegakan hukum yang sah dari penggunaan kekuatan yang berlebihan, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Lucky juga menyebut prinsip salus populi suprema lex esto sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. Ungkapan Latin tersebut bermakna bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Prinsip ini menempatkan keselamatan masyarakat sipil, perlindungan warga, dan pemeliharaan stabilitas keamanan di Papua sebagai prioritas utama. Karena itu, setiap keputusan operasional perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap penduduk, termasuk kelompok rentan dan masyarakat yang berada di sekitar wilayah kegiatan.

Operasi di Maybrat disebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan TNI dalam menjaga keamanan di Papua Barat Daya. Dukungan informasi intelijen dari BIN serta koordinasi antarsatuan diharapkan dapat memperkuat efektivitas pelaksanaan tugas, terutama dalam memahami perkembangan ancaman dan menentukan respons yang proporsional. Namun, peningkatan efektivitas tersebut tetap harus berjalan seiring dengan akuntabilitas, kepatuhan hukum, dan perlindungan masyarakat. Dengan kerangka itu, pengamanan diharapkan mampu menjaga stabilitas tanpa mengabaikan hak serta keselamatan warga.

banner 325x300