banner 728x250

Bobby Nasution Soroti Tingginya Penyalahgunaan Narkoba di Sumatera Utara

Bobby Nasution Soroti Tingginya Penyalahgunaan Narkoba di Sumatera Utara
banner 120x600
banner 468x60

Kota Medan | Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyampaikan kepada Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto bahwa peredaran narkoba di wilayah Sumatera Utara kian masif. Ia juga menyoroti tingginya angka penyalahgunaan narkoba di provinsi tersebut, yang menurutnya masih menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan aparat penegak hukum.

Bobby mengatakan Sumatera Utara telah lima tahun berturut-turut berada di peringkat pertama penyalahgunaan narkoba tingkat nasional. Posisi itu, menurutnya, menunjukkan bahwa persoalan narkoba di daerah tersebut belum dapat ditangani secara tuntas. Karena itu, upaya pemberantasan perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, kepolisian, serta masyarakat.

banner 325x300

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers terkait pengungkapan 1,16 ton ketamine di perairan Selat Malaka. Kegiatan itu dilanjutkan dengan deklarasi polisi bersama masyarakat Sumatera Utara untuk menolak narkoba. Rangkaian acara berlangsung di Terminal Bandar Deli Belawan, Kota Medan, Jumat (23/10).

Dalam kesempatan itu, Bobby menyampaikan kondisi yang dihadapi Sumatera Utara langsung kepada Kapolri. Pengungkapan ketamine dalam jumlah besar menjadi salah satu gambaran ancaman peredaran narkotika yang perlu mendapat perhatian bersama. Wilayah perairan Selat Malaka juga menjadi konteks penting dalam penanganan kasus tersebut, seiring perlunya pengawasan dan kerja sama untuk mencegah masuk serta beredarnya narkoba.

Adapun deklarasi penolakan narkoba menjadi bagian dari ajakan agar masyarakat turut mengambil peran dalam menghadapi persoalan ini. Keterlibatan warga dinilai penting untuk memperkuat upaya kepolisian dan pemerintah, baik melalui kepedulian terhadap lingkungan maupun dukungan terhadap langkah pencegahan. Penyampaian kondisi Sumut kepada Kapolri sekaligus menegaskan perlunya perhatian dan koordinasi berkelanjutan dalam menangani peredaran serta penyalahgunaan narkoba di provinsi tersebut.

Harapan Bobby Nasution untuk Sumatera Utara tidak berhenti pada pengakuan bahwa penyalahgunaan dan peredaran narkoba merupakan persoalan serius. Ia menginginkan adanya perubahan nyata sehingga provinsi tersebut tidak lagi dikenal melalui tingginya angka kasus atau berada di jajaran teratas dalam pemeringkatan terkait narkoba. Harapan itu menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat. Penekanan terhadap pencegahan, penindakan, dan perhatian bersama diperlukan agar risiko penyalahgunaan dapat ditekan. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat bahwa persoalan ini ditangani secara sungguh-sungguh, sementara langkah-langkah yang ditempuh tetap diarahkan pada tujuan jangka panjang: mengurangi dampak narkoba terhadap kehidupan warga Sumatera Utara.

Secara khusus, Bobby berharap Sumatera Utara tidak lagi menempati peringkat pertama dalam daftar daerah dengan persoalan narkoba. Ia bahkan menyebut keinginan agar provinsi itu tidak berada di tiga besar maupun lima besar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan yang diinginkan bukan hanya keluar dari posisi teratas, melainkan menjauh sejauh mungkin dari kelompok daerah dengan beban persoalan paling tinggi. Ia juga berharap Sumut dapat berada di posisi terbawah dalam daftar tersebut. Pernyataan itu merupakan aspirasi, bukan gambaran bahwa kondisi tersebut telah tercapai. Untuk mendekati tujuan itu, diperlukan komitmen berbagai pihak dan perhatian berkesinambungan terhadap upaya menekan penyalahgunaan serta peredaran narkoba.

Harapan Bobby juga mencakup lingkup yang lebih luas daripada Sumatera Utara. Ia menginginkan narkoba dapat diberantas di seluruh Indonesia, sehingga upaya mengatasi persoalan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab satu daerah. Cita-cita tersebut dikaitkan dengan dukungan bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045. Generasi yang sehat dan terlindungi dari dampak narkoba dipandang penting bagi masa depan bangsa dan pembangunan nasional. Namun, pemberantasan narkoba masih merupakan tujuan yang diharapkan, bukan hasil yang sudah dipastikan. Karena itu, harapan tersebut menggarisbawahi perlunya kerja bersama yang konsisten di tingkat daerah maupun nasional. Dengan komitmen dan langkah yang terus diperkuat, cita-cita menekan persoalan narkoba dapat menjadi bagian dari ikhtiar menuju Indonesia yang lebih siap menyongsong 2045.

Bobby Nasution kembali mengingat sikap tegas yang pernah ia tunjukkan saat masih menjabat Wali Kota Medan. Ia mengaku geram melihat penyalahgunaan narkoba yang marak, terutama ketika aktivitas tersebut berlangsung terbuka dan mengganggu rasa aman masyarakat. Menurutnya, persoalan narkoba tidak dapat dipandang hanya sebagai pelanggaran hukum, sebab dampaknya juga berkaitan dengan tindak kriminal dan ketertiban di lingkungan warga. Pengalaman memimpin Medan membuatnya menyaksikan langsung keresahan yang muncul ketika peredaran narkoba dan kejahatan jalanan terus terjadi. Karena itu, ia pernah mendorong agar aparat mengambil langkah yang tegas terhadap pelaku yang beraksi di jalanan.

Pernyataan Bobby ketika itu turut menyinggung pelaku pembegalan dan tindakan kriminal lain yang meresahkan. Ia menyampaikan bahwa tindakan tembak di tempat dapat dilakukan bila diperlukan, dengan konteks penanganan pelaku yang membahayakan dan sesuai ketentuan aparat. Pernyataan keras tersebut sempat menuai sorotan publik. Perhatian terhadap ucapannya tidak terlepas dari pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan kebijakan penegakan hukum, terutama ketika berkaitan dengan penggunaan kekuatan. Meski demikian, Bobby menekankan bahwa kekhawatirannya berangkat dari situasi keamanan yang ia nilai mendesak, serta kebutuhan melindungi warga dari kejahatan yang terjadi di ruang publik. Ia mengingatkan bahwa respons terhadap masalah itu perlu dilakukan secara serius.

Bobby juga memberi konteks mengenai Belawan, salah satu wilayah di Kota Medan yang menurutnya menghadapi masalah penyalahgunaan narkoba secara masif. Di kawasan tersebut, persoalan narkoba berjalan beriringan dengan berbagai kasus kriminal lainnya, sehingga penanganannya membutuhkan perhatian dan koordinasi yang berkelanjutan. Ia berharap kehadiran Kapolri dapat membantu menekan peredaran narkoba, memperkuat upaya penegakan hukum, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. Harapannya, langkah bersama aparat dan pihak terkait dapat membuat Belawan lebih bersih dari narkoba. Upaya tersebut juga diharapkan mendorong lingkungan yang lebih tertib, sekaligus mengurangi ruang bagi tindak kejahatan yang merugikan warga setempat.

Menanggapi paparan Bobby Nasution mengenai tingginya penyalahgunaan narkoba di Sumatera Utara, Kapolri Suyudi Ario Seto mengakui bahwa provinsi tersebut berada di peringkat pertama dalam tingkat permasalahan narkoba. Namun, ia juga mengingatkan bahwa posisi itu perlu dibaca bersama dengan capaian penegakan hukum di wilayah yang sama. Menurut Suyudi, pengungkapan kasus narkoba di Sumatera Utara juga tercatat paling banyak. Hal tersebut menunjukkan bahwa aparat terus bekerja mengidentifikasi dan menindak tindak pidana terkait narkotika, meskipun besarnya kasus tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat.

Suyudi menekankan bahwa penanganan narkoba tidak cukup mengandalkan operasi penindakan setelah barang terlarang beredar. Upaya harus berlanjut melalui langkah nyata yang dimulai dari pencegahan, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyalahgunaan di lingkungan masyarakat. Pada saat bersamaan, aparat perlu menindak jaringan pengedar agar pasokan narkotika dapat diputus dan pelaku tidak leluasa menjalankan kegiatan. Peningkatan kesadaran publik juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang bahaya narkoba dan cara mengenali ancamannya, masyarakat diharapkan dapat mengambil peran dalam melindungi keluarga serta lingkungan sekitarnya.

Kapolri turut menegaskan bahwa pemberantasan narkoba merupakan pekerjaan berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kejahatan narkotika memiliki karakter transnasional dan dapat melibatkan jaringan lintas wilayah maupun lintas negara. Karena itu, tidak ada satu institusi yang mampu bekerja sendiri untuk menghadapinya. Tantangan tersebut semakin nyata pada jalur laut, yang dapat dimanfaatkan untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Pengawasan dan penindakan di jalur tersebut memerlukan koordinasi antarlembaga, disertai pertukaran informasi serta tindakan yang saling mendukung. Suyudi menegaskan perlunya sinergi agar upaya pencegahan berjalan lebih kuat dan barang terlarang dapat dicegah masuk ke Indonesia.

Baca juga: Penangkapan Kurir Narkoba Jaringan Internasional di Bogor | Modus Baru Peredaran Narkoba di Jakarta

banner 325x300