banner 728x250

Aktivis Pro-Palestina Gelar Aksi Die-In di Pusat Kota Seoul

Aktivis Pro-Palestina Gelar Aksi Die-In di Pusat Kota Seoul
banner 120x600
banner 468x60

KABUPATEN SERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 September 2026, Ratusan aktivis pro-Palestina menggelar aksi die-in di pusat kota Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Dalam aksi tersebut, para peserta berbaring berjajar di jalan sekitar Kedutaan Besar Israel. Aksi itu menjadi bentuk solidaritas terhadap warga Palestina serta simbol untuk menggambarkan korban konflik yang berlangsung di Gaza.

Dengan mengambil posisi berbaring secara serentak, para aktivis menghadirkan gambaran mengenai tubuh para korban konflik. Jalan di sekitar Kedutaan Besar Israel menjadi lokasi penyampaian pesan tersebut. Aksi die-in dipilih sebagai bentuk pernyataan visual yang menempatkan perhatian publik pada dampak kemanusiaan konflik di Gaza.

banner 325x300

Kehadiran ratusan peserta membuat aksi solidaritas itu terlihat jelas di kawasan pusat kota Seoul. Mereka berjajar di jalan sekitar kompleks kedutaan, menjadikan ruang publik tersebut sebagai tempat untuk menyampaikan sikap pro-Palestina. Posisi tubuh para peserta menjadi unsur utama aksi dan secara langsung merujuk pada korban yang terdampak konflik.

Peristiwa pada Sabtu itu memperlihatkan bagaimana aktivis pro-Palestina di Korea Selatan menggunakan aksi publik untuk menyuarakan solidaritas. Tanpa beranjak dari posisi berbaring, para peserta menyampaikan simbol perlawanan dan kepedulian terhadap situasi di Gaza. Aksi di sekitar Kedutaan Besar Israel tersebut berfokus pada penggambaran korban konflik melalui barisan peserta yang terbaring di jalan.

Aksi die-in di Seoul itu menjadi bentuk penyampaian pesan yang mengandalkan simbol visual. Ratusan aktivis menghadirkan gambaran korban konflik di Gaza melalui tubuh mereka sendiri, sementara lokasi di sekitar Kedutaan Besar Israel menegaskan konteks politik dan kemanusiaan dari solidaritas tersebut. Kegiatan itu berlangsung di pusat kota pada 3 Oktober 2026.

Aksi die-in di pusat kota Seoul berlangsung dengan suasana hening dan penuh kesungguhan. Ratusan peserta membentuk formasi di badan jalan, lalu berbaring dalam posisi diam untuk menarik perhatian terhadap penderitaan warga sipil di Gaza. Kehadiran mereka tidak hanya menunjukkan keberanian untuk menggunakan ruang publik, tetapi juga menghadirkan gambaran visual yang kuat tentang tubuh-tubuh korban konflik. Ketika para demonstran tidak bergerak, suasana aksi terasa lebih tenang, namun pesan yang disampaikan menjadi semakin jelas dan mendalam.

Berbaring di jalan merupakan inti dari simbolisasi dalam aksi tersebut. Posisi itu menggambarkan keadaan orang-orang yang menjadi korban kekerasan, kehilangan keselamatan, serta tidak lagi mampu menyampaikan kesaksian mereka secara langsung. Dengan menempatkan tubuh di permukaan jalan, para peserta berusaha membuat penderitaan tersebut terlihat dan dirasakan oleh masyarakat yang melintas. Jalan yang biasanya digunakan untuk aktivitas sehari-hari berubah menjadi ruang peringatan, tempat solidaritas terhadap korban konflik di Gaza disampaikan melalui bahasa tubuh dan keheningan.

Formasi para peserta juga memperlihatkan bahwa aksi tersebut bukan sekadar penyampaian pendapat, melainkan upaya membangun empati publik. Setiap tubuh yang terbaring menjadi representasi simbolis dari kehidupan yang terdampak konflik, tanpa membedakan usia, latar belakang, atau keadaan masing-masing korban. Keserentakan dalam posisi berbaring memperkuat kesan bahwa penderitaan tersebut memiliki dampak luas dan membutuhkan perhatian kemanusiaan. Melalui die-in itu, para demonstran menyatakan dukungan kepada warga Gaza sekaligus menyerukan agar korban konflik tidak dilupakan. Suasana yang tercipta memadukan keheningan, kesedihan, dan keteguhan dalam menyampaikan solidaritas.

Aksi die-in yang digelar aktivis pro-Palestina di Seoul merupakan bagian dari rangkaian unjuk rasa yang berlangsung dalam beberapa bentuk. Selain melakukan aksi dengan berbaring di ruang publik sebagai simbol keprihatinan terhadap korban konflik, para peserta juga mengikuti long march di kawasan pusat kota. Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan tidak terpusat pada satu lokasi, melainkan bergerak melewati sejumlah ruang publik yang menjadi bagian penting dari lanskap perkotaan Seoul.

Dalam long march itu, rombongan melintasi beberapa kawasan di pusat kota Seoul. Pergerakan massa membawa pesan solidaritas dan seruan kemanusiaan ke ruang-ruang yang ramai dilalui masyarakat. Salah satu titik yang dilewati adalah Paviliun Lonceng Bosingak, bangunan bersejarah yang berada di kawasan Jongno dan dikenal sebagai salah satu penanda penting pusat kota. Kehadiran rombongan di sekitar lokasi tersebut menempatkan isu yang disuarakan dalam konteks ruang publik yang memiliki nilai historis dan simbolis bagi warga Seoul.

Long march dan aksi die-in saling melengkapi dalam rangkaian unjuk rasa tersebut. Jika long march menampilkan penyampaian aspirasi melalui perpindahan dari satu kawasan ke kawasan lain, aksi die-in menghadirkan bentuk protes yang lebih teatrikal dan reflektif di ruang terbuka. Perpaduan kedua kegiatan itu membuat pesan solidaritas disampaikan melalui lebih dari satu cara, sekaligus menunjukkan keluasan area yang menjadi tempat berlangsungnya aksi. Dengan melewati sejumlah kawasan pusat Seoul, rombongan tidak hanya berkumpul di satu titik, tetapi membawa tuntutan dan kepedulian mereka ke berbagai ruang yang menjadi bagian dari aktivitas kota.

Setelah menyelesaikan long march di pusat kota Seoul, para peserta aksi berkumpul di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat. Konsentrasi massa di lokasi tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan sikap politik dan tuntutan terkait situasi di Gaza serta peran berbagai negara dalam konflik tersebut. Peserta membawa poster dan spanduk yang menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil Palestina, sementara sejumlah perwakilan menyampaikan pernyataan di hadapan massa.

Tuntutan utama yang disuarakan adalah pelaksanaan gencatan senjata segera. Para aktivis meminta penghentian serangan dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan bagi penduduk yang terdampak. Selain itu, mereka mendesak Korea Selatan menghentikan investasi pada obligasi Israel sebagai bentuk penolakan terhadap dukungan finansial yang dinilai dapat berkontribusi pada keberlanjutan operasi militer. Tuntutan tersebut juga mencakup peninjauan ulang hubungan ekonomi dan kebijakan luar negeri yang berkaitan dengan Israel.

Peserta aksi turut menolak pengerahan aset militer Korea Selatan untuk membantu operasi Amerika Serikat di kawasan. Penolakan itu mencakup penggunaan kapal, pesawat, maupun dukungan logistik yang berpotensi memperkuat operasi militer Amerika Serikat. Dalam orasi yang disampaikan di dekat kedutaan, mereka menyatakan keberatan terhadap dukungan militer dan diplomatik Washington kepada Israel. Sikap tersebut dipandang sebagai bagian dari seruan yang lebih luas agar pemerintah Amerika Serikat menghentikan bantuan persenjataan, tekanan politik, dan perlindungan diplomatik yang dianggap memungkinkan berlanjutnya tindakan militer terhadap Palestina. Aksi berakhir dengan penyampaian tuntutan secara terbuka kepada pemerintah Korea Selatan dan Amerika Serikat.

banner 325x300