banner 728x250
Berita  

Sungai Ciherang dan Balong Tua Ancam Produktivitas, Petani Bekasi Utara Temui Kementan

Sungai Ciherang dan Balong Tua Ancam Produktivitas, Petani Bekasi Utara Temui Kementan
banner 120x600
banner 468x60

Bekasi, 04 Juni 2026 — Sekitar pukul 07.30 WIB, suasana di SPBU Warung Satu, Desa Karang Sentosa, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, tampak berbeda dari hari biasanya. Puluhan petani dari wilayah utara Kabupaten Bekasi berkumpul dengan semangat, membawa berbagai dokumen dan spanduk kecil. Mereka bersiap untuk keberangkatan menuju Gedung Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan, dalam rangka menggelar audensi penting.

Dipimpin oleh Ustadz Jejen Zaenudin, sebanyak ±50 orang petani menempati dua unit ELF dan dua mobil pribadi yang telah disiapkan sebelumnya. Kontak pimpinan, yang bisa dihubungi melalui nomor 0813.8876.9953, mempermudah koordinasi dan memastikan semua peserta hadir tepat waktu.

banner 325x300

Keberangkatan massa ini bukan tanpa alasan. Para petani menyoroti kondisi sungai di wilayah mereka yang telah mengganggu produktivitas pertanian selama lebih dari satu dekade. Sungai Ciherang, Sungai BBO/Piket, dan Balong Tua disebutkan mengalami sedimentasi, pendangkalan, dan kerusakan fungsi irigasi yang menyebabkan ribuan hektar lahan pertanian tidak optimal. Diperkirakan ±5000 hektar terdampak langsung oleh kondisi ini, sehingga hasil panen pun menurun drastis.

“Saya mewakili teman-teman petani datang ke Jakarta untuk menyampaikan kondisi darurat ini. Ini masalah yang sudah berlangsung lebih dari 15 tahun, dan kami berharap ada solusi konkret dari pemerintah pusat,” ujar Jejen Zaenudin saat ditemui di lokasi keberangkatan.

Rute yang dilalui oleh rombongan pun telah direncanakan dengan matang. Dari SPBU Warung Satu, mereka menempuh Jalan Raya Pantura menuju Pintu Tol Cibitung, masuk Tol Japek, kemudian melintasi Tol Lingkar Luar Jakarta, hingga keluar di Pintu Tol Cilandak sebelum mencapai Gedung Kementerian Pertanian, Jl. Harsono RM No. 3, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Rangkaian keberangkatan berlangsung lancar. Pada pukul 08.00 WIB, para petani mulai menata barang bawaan dan memastikan semua kendaraan siap jalan. Tepat pukul 08.15 WIB, rombongan meninggalkan titik kumpul dengan aman dan kondusif. Tidak ada kendala berarti selama perjalanan, dan para peserta tampak tetap tenang meskipun jalanan mulai padat di beberapa titik tol.

Selama perjalanan, para petani sesekali berbincang mengenai agenda audensi yang akan dilaksanakan. Mereka menekankan urgensi penanganan sungai, tidak hanya untuk kesejahteraan mereka, tetapi juga untuk keberlanjutan pertanian di Kabupaten Bekasi. Diskusi berlangsung hangat namun tertib, menunjukkan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap masa depan sektor pertanian.

Kondisi sungai yang menjadi sorotan para petani memang memerlukan perhatian serius. Sungai Ciherang, misalnya, telah mengalami pendangkalan parah sehingga air tidak bisa mengalir optimal ke lahan persawahan. Begitu pula dengan Sungai BBO/Piket dan Balong Tua yang selama bertahun-tahun tidak mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Akibatnya, sistem irigasi alami terganggu, tanah menjadi kurang subur, dan produktivitas pertanian menurun signifikan.

Jejen Zaenudin menambahkan, “Kami berharap kementerian dapat segera menindaklanjuti laporan ini. Sudah banyak lahan yang terdampak, dan jika dibiarkan, bukan hanya hasil pertanian yang rugi, tapi juga mata pencaharian ribuan keluarga petani akan terancam.”

Beberapa peserta rombongan menekankan bahwa audensi kali ini bersifat mendesak. Mereka menegaskan bahwa selama lebih dari 15 tahun, pemerintah daerah dan instansi terkait belum mampu memberikan solusi efektif. Dengan hadir langsung ke Jakarta, para petani berharap dapat menemui pihak kementerian dan mendapatkan jawaban yang konkret, bukan sekadar janji.

Keberangkatan ini juga menjadi momentum bagi petani Bekasi Utara untuk menyatukan suara mereka. Meskipun jumlah massa sekitar ±50 orang, representasi yang mereka bawa mewakili ribuan hektar lahan pertanian yang terancam. Pendekatan ini dianggap lebih strategis dibandingkan sekadar mengirim surat resmi, karena dapat menekankan urgensi situasi di lapangan.

Selama perjalanan, tidak ada laporan insiden yang menonjol. Situasi tetap aman dan kondusif. Hal ini menunjukkan kesiapan dan disiplin para peserta, yang telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Pihak kepolisian dan petugas lalu lintas juga memastikan perjalanan berlangsung lancar, terutama saat melintasi ruas tol yang padat.

Kedatangan rombongan ke Gedung Kementerian Pertanian direncanakan untuk dilakukan pada pukul 10.00 WIB. Di sana, mereka akan langsung bertemu dengan pejabat terkait dan menyampaikan laporan lengkap mengenai kondisi sungai yang berdampak pada pertanian. Dokumen pendukung, foto kondisi sungai, dan data luas lahan terdampak turut dibawa untuk memperkuat permintaan mereka.

Sejumlah petani menyampaikan harapan mereka kepada media. Mereka ingin pemerintah pusat melihat kondisi nyata di lapangan, bukan hanya mendengar laporan dari pihak lokal. Hal ini dianggap penting agar langkah penanganan dapat lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah baru.

Rombongan juga membawa catatan pengalaman bertahun-tahun dalam menghadapi permasalahan ini. Beberapa anggota menyoroti bagaimana ketidaktersediaan air irigasi mengurangi hasil panen, dan bagaimana biaya tambahan harus dikeluarkan untuk menyiasati kekurangan air. Masalah ini, menurut mereka, seharusnya bisa diatasi dengan perbaikan sungai dan penataan ulang sistem irigasi, namun hingga kini belum ada tindakan signifikan.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memerlukan perhatian serius dari pemerintah pusat, khususnya terkait infrastruktur irigasi dan pengelolaan sumber daya air. Kehadiran para petani Bekasi Utara ke Jakarta juga mengingatkan publik bahwa petani tidak hanya bergantung pada musim atau alam, tetapi juga pada dukungan kebijakan yang tepat.

Sebagai catatan, seluruh rangkaian keberangkatan berlangsung tanpa gangguan. Tidak ada kericuhan, tidak ada hambatan berarti, dan semua peserta tetap menjaga ketertiban selama perjalanan. Hal ini menjadi bukti bahwa aspirasi rakyat bisa disampaikan dengan cara tertib dan damai, namun tetap tegas dan jelas.

Dengan audensi ini, para petani berharap akan ada tindak lanjut dari Kementerian Pertanian. Harapan mereka sederhana: sungai yang selama ini menjadi sumber masalah harus segera ditangani, agar ribuan hektar lahan pertanian bisa kembali produktif, dan kesejahteraan petani Bekasi Utara bisa terjaga.

Dari pantauan langsung, semangat para petani tetap tinggi meskipun perjalanan cukup panjang. Percakapan mengenai kondisi pertanian, strategi perbaikan sungai, dan pengalaman pribadi bercampur dalam suasana yang hangat namun serius. Mereka tampak kompak, dan setiap anggota memahami pentingnya keberangkatan ini bagi masa depan sektor pertanian wilayah mereka.

Rombongan petani ini menjadi contoh nyata bahwa aksi lapangan bisa menjadi sarana komunikasi efektif antara masyarakat dengan pemerintah. Dengan persiapan matang, sikap tertib, dan dokumen lengkap, aspirasi mereka lebih mungkin didengar dan ditindaklanjuti.

Seiring keberangkatan massa dari Bekasi Utara menuju Jakarta, banyak pihak yang berharap audensi ini menjadi titik awal perubahan. Penanganan sungai yang tepat dan efektif tidak hanya akan menguntungkan petani, tetapi juga meningkatkan kualitas pertanian secara keseluruhan di Kabupaten Bekasi. Jika langkah konkret segera dilakukan, ribuan hektar lahan yang selama ini tidak produktif bisa kembali memberikan hasil optimal bagi masyarakat.

Dengan demikian, perjalanan pagi ini bukan sekadar mobilisasi massa. Ini adalah representasi dari suara rakyat yang ingin didengar, bukti ketekunan petani dalam memperjuangkan hak mereka, dan pengingat bagi pemerintah bahwa sektor pertanian memerlukan perhatian nyata, bukan sekadar janji.

📚 Artikel Terkait:
banner 325x300

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *