banner 728x250

Menerjemahkan Inovasi Digital Menjadi Nilai Tambah bagi Ekonomi Indonesia

Menerjemahkan Inovasi Digital Menjadi Nilai Tambah bagi Ekonomi Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Tantangan ekonomi digital Indonesia kini memasuki fase baru. Persoalan utamanya tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kemampuan menciptakan inovasi teknologi, melainkan bagaimana inovasi tersebut diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Pernyataan ini disampaikan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dalam Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta pada Senin, 12 Oktober 2026.

Indonesia memiliki basis pengguna internet yang besar, pelaku usaha rintisan yang terus berkembang, serta berbagai solusi digital di sektor perdagangan, keuangan, pendidikan, kesehatan, dan industri kreatif. Namun, keberadaan teknologi dan lahirnya gagasan baru belum otomatis meningkatkan produktivitas. Nilai tambah baru terbentuk apabila inovasi dapat menjawab kebutuhan masyarakat, memperluas akses, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan membantu usaha meningkatkan daya saing.

banner 325x300

Karena itu, agenda ekonomi digital perlu bergeser dari sekadar mendorong penemuan menuju penguatan penerapan. Integrasi data menjadi pekerjaan rumah penting agar informasi dari berbagai lembaga dapat digunakan secara aman, akurat, dan efisien untuk mendukung pengambilan keputusan. Tanpa konektivitas antarsistem, banyak layanan digital berisiko berjalan sendiri-sendiri dan menghasilkan manfaat yang terbatas.

Penguatan ekosistem digital juga harus berjalan bersamaan. Infrastruktur, regulasi, pembiayaan, perlindungan data, serta kolaborasi pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, dan komunitas perlu dirancang sebagai satu kesatuan. Ekosistem yang sehat akan memudahkan inovasi untuk diuji, dikembangkan, dan diperluas ke lebih banyak wilayah, termasuk daerah yang selama ini belum menikmati manfaat transformasi digital secara merata.

Di sisi lain, peningkatan kualitas talenta merupakan fondasi yang tidak dapat ditunda. Tenaga kerja membutuhkan keterampilan teknologi, kemampuan analitis, kreativitas, dan pemahaman terhadap kebutuhan industri. Dengan menghubungkan talenta, data, dan ekosistem yang kuat, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mengubah potensi teknologi menjadi produktivitas, pertumbuhan ekonomi, serta kesejahteraan yang dirasakan secara luas.

Ekosistem digital Indonesia masih menghadapi persoalan keterhubungan antarelemen. Berbagai inisiatif, platform, infrastruktur, dan sumber daya digital belum sepenuhnya terintegrasi dalam suatu sistem yang saling mendukung. Kondisi ini membuat proses pertukaran informasi, pemanfaatan layanan, serta pengembangan solusi berjalan secara terpisah. Ketika setiap elemen bekerja dengan mekanisme sendiri, potensi yang seharusnya dapat diperkuat melalui keterkaitan menjadi kurang optimal.

Persoalan tersebut semakin kompleks karena data masih terfragmentasi dan standar yang digunakan belum seragam. Perbedaan format, prosedur, serta acuan teknis dapat menyulitkan pertukaran dan pengolahan data secara konsisten. Di sisi lain, kolaborasi berbagai pihak dalam ekosistem digital belum berlangsung secara optimal. Keterbatasan keterhubungan ini bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga memengaruhi kemampuan untuk mengubah hasil pengembangan teknologi menjadi penerapan yang memberikan nilai tambah.

Akibatnya, perkembangan teknologi dapat berlangsung lebih cepat daripada implementasinya di lapangan. Inovasi mungkin telah tersedia secara teknis, tetapi penerapannya tertahan karena belum didukung data yang dapat diakses dan dipadukan, standar yang kompatibel, serta koordinasi yang memadai. Jarak tahap pengembangan dan penggunaan tersebut berisiko membuat inovasi berhenti sebagai gagasan atau produk yang belum menghasilkan dampak luas.

Riefky menekankan bahwa potensi digital perlu saling terhubung agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengembangan. Keterhubungan memungkinkan pengetahuan, data, teknologi, dan kapasitas dari berbagai elemen untuk saling memperkuat. Karena itu, pembangunan ekosistem digital perlu dipandang sama pentingnya dengan pengembangan teknologinya. Teknologi yang maju memerlukan lingkungan yang mendukung interoperabilitas, keseragaman standar, dan kolaborasi agar manfaatnya dapat diwujudkan secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, penguatan ekosistem menjadi bagian penting dari proses menerjemahkan inovasi digital menjadi nilai tambah bagi ekonomi Indonesia.

Perkembangan ekonomi digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh tersedianya infrastruktur dan teknologi. Keduanya memang menjadi fondasi penting, tetapi manfaat ekonomi baru dapat diwujudkan apabila manusia memiliki kemampuan untuk menggunakan, mengelola, dan mengembangkan teknologi secara tepat. Karena itu, kualitas sumber daya manusia perlu ditempatkan sebagai salah satu penentu utama dalam proses transformasi digital.

Riefky menekankan bahwa infrastruktur akan terus berkembang, sementara teknologi juga akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut menuntut kemampuan untuk beradaptasi, memahami peluang, serta menerapkan solusi digital sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Infrastruktur yang semakin luas tidak dengan sendirinya menghasilkan nilai tambah apabila tidak disertai kapasitas manusia yang mampu mengoptimalkannya.

Dalam konteks ini, talenta digital memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat atau aplikasi. Talenta digital diperlukan untuk menerjemahkan inovasi menjadi layanan, produk, dan proses yang memberikan manfaat nyata. Kemampuan tersebut mencakup pemahaman terhadap teknologi, kecakapan memecahkan masalah, kreativitas, serta kesanggupan melihat bagaimana teknologi dapat menjawab kebutuhan ekonomi dan sosial.

Pengembangan talenta digital dengan demikian perlu berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur. Fokusnya bukan hanya menyediakan akses dan konektivitas, melainkan juga memastikan bahwa masyarakat, pelaku usaha, dan organisasi memiliki kapasitas untuk memanfaatkan akses tersebut secara produktif. Pendekatan ini membantu mencegah teknologi berhenti sebagai fasilitas, tanpa menghasilkan perubahan berarti dalam kegiatan ekonomi.

Talenta yang berkualitas dapat mengoptimalkan teknologi agar menciptakan efisiensi, memperluas peluang usaha, dan mendorong lahirnya nilai tambah baru. Peran manusia tetap menjadi pusat, karena teknologi pada dasarnya merupakan sarana yang hasilnya bergantung pada cara teknologi itu digunakan. Oleh sebab itu, penguatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda ekonomi digital Indonesia, sejalan dengan perkembangan infrastruktur dan perubahan teknologi yang terus berlangsung.

Pemerintah Presiden Prabowo Subianto menempatkan transformasi digital sebagai salah satu fondasi penting untuk meningkatkan produktivitas nasional dan memperkuat daya saing Indonesia. Arah ini tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pemerintahan atau bisnis, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat dan pelaku usaha mengembangkan gagasan menjadi produk, layanan, serta karya yang bernilai ekonomi. Dalam kerangka tersebut, penguatan ekonomi kreatif menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan dan memastikan inovasi dapat memberi manfaat bagi lebih banyak kelompok.

Pengembangan sektor ekonomi kreatif diarahkan melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif atau Rindekraf. Rencana ini berfungsi sebagai pedoman untuk membangun sektor ekonomi kreatif agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, perkembangan teknologi, dan dinamika kebutuhan pasar. Keberadaan pedoman tersebut membantu menyelaraskan kebijakan, program, serta dukungan bagi para pelaku kreatif, sehingga pengembangan subsektor tidak berjalan secara terpisah. Rindekraf juga menempatkan penguatan kapasitas pelaku dan ekosistem sebagai bagian dari agenda yang perlu dilaksanakan secara berkelanjutan.

Strategi yang disebut dalam penguatan ekonomi kreatif mencakup pendidikan, pendanaan, pengembangan infrastruktur, dan pemasaran. Pendidikan diperlukan untuk meningkatkan keterampilan serta kesiapan sumber daya manusia dalam memanfaatkan teknologi dan menciptakan karya yang kompetitif. Pendanaan dapat membantu pelaku mengembangkan usaha, sedangkan infrastruktur mendukung proses produksi, distribusi, dan kolaborasi. Pada saat yang sama, pemasaran membuka akses yang lebih luas terhadap konsumen dan pasar. Kebijakan tersebut diperkuat setiap tiga tahun agar tetap menyesuaikan perkembangan zaman. Dengan kerangka ini, transformasi digital dan Rindekraf saling mendukung dalam mengubah potensi inovasi menjadi produktivitas, kesempatan usaha, dan nilai tambah yang lebih luas bagi ekonomi Indonesia.

Baca juga: Meningkatkan Nilai Tambah Pariwisata untuk Ekonomi Bali | Inovasi Navigasi pada Motor: Tanpa HP di Stang | Menjelang PON Pantai Ancol 2026: Peluang Ekonomi untuk Jakarta

banner 325x300