banner 728x250

Belanja Masyarakat Menguat pada Agustus 2026, Makanan dan Tembakau Jadi Penopang

Belanja Masyarakat Menguat pada Agustus 2026, Makanan dan Tembakau Jadi Penopang
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Aktivitas belanja masyarakat Indonesia menunjukkan penguatan pada Agustus 2026. Bank Indonesia mencatat penjualan eceran tumbuh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, tercermin dari perkembangan Indeks Penjualan Riil (IPR). Pada Agustus, IPR tercatat sebesar 226,5 dengan pertumbuhan tahunan 1,3 persen.

Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan capaian pada Juli 2026. Pada bulan sebelumnya, penjualan eceran tumbuh 1,1 persen secara tahunan. Dengan demikian, kinerja pada Agustus memperlihatkan adanya perbaikan laju pertumbuhan penjualan eceran dibandingkan Juli.

banner 325x300

Perbaikan juga terlihat dalam perkembangan secara bulanan. Penjualan eceran pada Agustus 2026 tumbuh 0,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini berbalik dari kondisi pada Juli, ketika penjualan eceran mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen secara bulanan.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas belanja masyarakat menguat pada Agustus 2026. Kenaikan pertumbuhan tahunan IPR dari 1,1 persen pada Juli menjadi 1,3 persen pada Agustus berjalan bersama dengan perubahan kinerja bulanan, dari kontraksi 0,1 persen menjadi pertumbuhan 0,8 persen. IPR yang mencapai 226,5 menjadi gambaran perkembangan penjualan eceran selama periode tersebut, sekaligus menandai peningkatan dibandingkan capaian bulan sebelumnya.

Penjualan eceran pada Agustus 2026 ditopang oleh beberapa kelompok barang yang menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kontributor utama penguatan penjualan. Kelompok ini mencatat indeks penjualan sebesar 323,5, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 2,6 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan konsumsi sehari-hari tetap menjadi penyangga penting bagi aktivitas perdagangan eceran.

Selain kebutuhan pangan dan produk tembakau, kelompok suku cadang dan aksesori juga mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Indeks penjualan kelompok ini berada pada level 141,5 dan tumbuh 3,9 persen secara tahunan. Perkembangan tersebut mencerminkan tetap berlangsungnya permintaan terhadap barang yang berkaitan dengan perawatan serta penggunaan kendaraan. Kinerja kedua kelompok itu turut memperkuat gambaran bahwa peningkatan penjualan tidak hanya bersumber dari satu jenis komoditas, melainkan tersebar pada sejumlah kebutuhan masyarakat.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa peningkatan penjualan terjadi karena adanya kenaikan pada sejumlah kelompok barang. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perbaikan kinerja perdagangan eceran pada Agustus berlangsung secara lebih luas, meskipun tingkat pertumbuhannya berbeda antar kelompok. Bank Indonesia mengaitkan membaiknya permintaan dengan daya beli masyarakat yang tetap terjaga selama periode peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum tersebut turut mendukung aktivitas konsumsi, baik melalui pemenuhan kebutuhan rumah tangga maupun pembelian barang untuk mobilitas dan kegiatan masyarakat. Dengan demikian, kelompok makanan, minuman, dan tembakau bersama suku cadang serta aksesori menjadi penggerak penting penguatan penjualan eceran pada periode tersebut.

Bank Indonesia memperkirakan kinerja penjualan eceran pada September 2026 tetap mencatat pertumbuhan apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perkiraan tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diproyeksikan mencapai 221,3, atau meningkat 1,4 persen secara tahunan. Proyeksi ini menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih memiliki daya tahan, meskipun perkembangan penjualan secara bulanan diperkirakan menghadapi tekanan.

Pertumbuhan tahunan tersebut terutama ditopang oleh sejumlah kelompok barang. Kelompok barang lainnya diperkirakan mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 7,8 persen dibandingkan September 2025. Kinerja positif juga diperkirakan berasal dari kelompok barang budaya dan rekreasi yang tumbuh 1,8 persen, serta kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya sebesar 1,0 persen. Pergerakan ketiga kelompok ini menjadi penyangga utama bagi kenaikan IPR secara tahunan pada September.

Namun, gambaran tahunan tersebut berbeda dengan perkembangan penjualan dibandingkan bulan sebelumnya. Bank Indonesia memprakirakan penjualan eceran September 2026 mengalami kontraksi 2,3 persen secara bulanan dari posisi Agustus. Penurunan ini mengindikasikan adanya pelemahan aktivitas belanja dalam jangka pendek, meskipun tingkat penjualan masih lebih tinggi daripada setahun sebelumnya.

Tekanan bulanan terutama diperkirakan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyusut 3,2 persen dibandingkan Agustus. Kelompok ini memiliki peran penting dalam struktur penjualan eceran, sehingga penurunannya dapat memengaruhi kinerja keseluruhan. Perbedaan pertumbuhan tahunan dan kontraksi bulanan memperlihatkan bahwa kondisi konsumsi perlu dibaca melalui dua perspektif: pemulihan dibandingkan tahun lalu belum sepenuhnya berarti peningkatan momentum belanja dari satu bulan ke bulan berikutnya.

Data pengeluaran konsumsi masyarakat dari Badan Pusat Statistik memberikan gambaran mengenai besarnya belanja rumah tangga pada berbagai kelompok komoditas. Informasi tersebut tercantum dalam laporan Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, yang diunggah pada 5 Oktober 2026. Laporan ini memuat data rata-rata pengeluaran penduduk menurut kelompok barang dan jasa, termasuk makanan, minuman, serta tembakau.

Berdasarkan laporan tersebut, rata-rata pengeluaran masyarakat mencapai Rp1.657.281 per kapita per bulan pada Maret 2026. Angka itu meningkat dibandingkan rata-rata pengeluaran pada Maret 2025 yang tercatat sebesar Rp1.569.088 per kapita per bulan. Perbandingan tersebut menunjukkan adanya kenaikan rata-rata belanja masyarakat dalam periode satu tahun berdasarkan data yang disajikan Badan Pusat Statistik.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang tercermin dalam pengeluaran konsumsi penduduk. Besarnya kontribusi kelompok ini dalam penjualan eceran dapat dilihat melalui rincian belanja yang disajikan dalam laporan tersebut. Data itu melengkapi gambaran mengenai peran kebutuhan konsumsi sehari-hari dalam struktur pengeluaran masyarakat.

Komoditas rokok dan tembakau juga mengalami kenaikan pengeluaran. Pada Maret 2026, rata-rata belanja untuk kelompok rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per kapita per bulan. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan pengeluaran pada Maret 2025, yang tercatat sebesar Rp91.708 per kapita per bulan. Dengan demikian, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran keseluruhan masyarakat maupun belanja untuk rokok dan tembakau sama-sama meningkat pada Maret 2026 dibandingkan periode sebelumnya.

banner 325x300