Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) diadakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, merupakan sebuah momen yang sangat penting dalam sejarah organisasi ini. Acara yang berlangsung dengan penuh semangat dan kekompakan ini menunjukkan komitmen anggota NU untuk merespons tantangan dan perubahan di masyarakat. Muktamar ini dihadiri oleh ribuan peserta, termasuk perwakilan dari berbagai daerah, yang semuanya bersatu untuk membahas arah dan tujuan organisasi ke depan.
Agenda utama dalam muktamar ini meliputi penetapan pemimpin baru untuk periode 2026-2031, serta diskusi tentang berbagai isu yang dihadapi oleh masyarakat. Dalam konteks ini, pemilihan pemimpin NU yang baru dinilai sangat krusial, mengingat peran organisasi ini yang tidak hanya sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya di Indonesia. Untuk itu, proses pemilihan diharapkan dapat berlangsung secara transparan dan demokratis, mencerminkan nilai-nilai yang diemban oleh NU.
Selain pemilihan pemimpin, muktamar ini juga menjadi ajang untuk menyampaikan berbagai pemikiran dan pandangan yang konstruktif dari para ilmuwan, ulama, dan tokoh masyarakat. Diskusi yang berlangsung dalam muktamar diyakini akan memberikan kontribusi positif bagi kebangkitan organisasi ke depan, serta meneguhkan posisi NU sebagai organisasi yang relevan dan responsif terhadap dinamika yang terjadi di masyarakat. Dengan semangat persatuan, diharapkan hasil dari muktamar ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi langkah-langkah NU dalam menghadapi tantangan yang akan datang.
Dalam sebuah momen yang penuh makna, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan ucapan selamat kepada pemimpin baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yaitu Gus Kikin dan Miftahul Achyar. Ucapan tersebut disampaikan dalam konteks muktamar yang baru saja berlangsung, di mana proses pemilihan pemimpin baru ditandai dengan suasana yang rukun dan damai.
Prabowo Subianto mengapresiasi jalannya kegiatan muktamar sebagai refleksi dari etos kebersamaan dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai organisasi. Dalam pidato yang disampaikannya, Presiden tidak hanya menekankan pentingnya silaturahmi antar kader, tetapi juga menyampaikan harapan besar terhadap kinerja PBNU ke depan. Beliau menggarisbawahi peran Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang memiliki pengaruh signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan semangat yang kuat, Prabowo berharap agar Gus Kikin dan Miftahul Achyar dapat membawa Nahdlatul Ulama menuju arah yang lebih baik. Harapan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari penguatan ukhuwwah atau persaudaraan hingga peningkatan kontribusi NU dalam bidang sosial dan keagamaan. Menurutnya, kepemimpinan yang baru ini diharapkan dapat terus menjaga tradisi dan warisan luhur organisasi sambil membuka diri terhadap inovasi demi kemaslahatan umat.
Ucapan selamat dari Presiden Prabowo ini menggambarkan harapan kolektif rakyat Indonesiadalam mendukung kepemimpinan baru yang diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi seluruh anggota NU dan masyarakat luas. Dengan momentum ini, diharapkan Nahdlatul Ulama akan terus berkiprah dan berkontribusi dalam menjaga stabilitas sosial serta kebhinekaan yang menjadi karakteristik penting bangsa Indonesia.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung pada tahun ini bukan hanya sekadar acara rutin, tetapi juga menjadi momen yang sangat penting dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi. Dalam setiap muktamar, proses pemilihan pimpinan NU selalu menjadi sorotan utama, terutama mengingat peran strategis yang dimiliki NU dalam masyarakat Indonesia. Pemilihan ini tidak hanya melibatkan jajaran pengurus, tetapi juga melibatkan seluruh muktamirin yang berkumpul untuk memberikan suara dalam memilih pemimpin mereka.
Pada muktamar kali ini, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Terpilihnya Gus Kikin tidak terlepas dari dukungan mayoritas suara yang berasal dari muktamirin. Hal ini mencerminkan adanya kepercayaan dan harapan yang tinggi terhadap kepemimpinan yang akan diemban oleh Gus Kikin. Proses pemilihan berlangsung melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), yang merupakan metode yang diakui di dalam lingkungan NU dan dianggap sebagai cara yang tepat untuk menentukan siapa yang akan memimpin organisasi ini ke depan.
Keberadaan AHWA dalam proses pemilihan ini dilakukan agar pemilihan dapat berjalan akurat dan demokratis. Dengan adanya mekanisme ini, diharapkan pemilihan tidak hanya mengedepankan aspek legalitas, tetapi juga aspek moral dan spiritual. Selain itu, pemilihan juga mendapatkan restu dari Rais Aam terpilih, yang menambah legitimasi pemilihan Gus Kikin. Tentunya, semua ini menjadikan proses pencarian dan penetapan kepemimpinan di Nahdlatul Ulama berlangsung secara transparan dan akuntabel. Hal ini juga merupakan bagian penting dari tradisi organisasi NU yang mengedepankan nilai-nilai musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.
Dalam muktamar penutup, Prabowo Subianto mengungkapkan harapannya yang mendalam terhadap peran Nahdlatul Ulama (NU) di masa depan. Beliau menekankan bahwa NU, sebagai organisasi keagamaan yang berpengaruh di Indonesia, memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara. Prabowo menyoroti pentingnya NU untuk terus mengembangkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kerja sama antar umat beragama, terutama dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era modern.
Prabowo menyampaikan keyakinannya bahwa Nahdlatul Ulama dapat berperan sebagai pendorong perubahan sosial yang lebih baik, melalui program-program yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beliau mendorong agar NU tetap berkomitmen dalam menjalankan misi dakwah, yang tidak hanya terfokus pada aspek spiritual tetapi juga mencakup aspek sosial dan ekonomi. Melalui kontribusi tersebut, diharapkan NU dapat menjadi garda terdepan dalam menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Lebih jauh, Prabowo juga berharap agar para pemimpin baru NU dapat melanjutkan tradisi keberagaman dan inklusivitas yang telah menjadi ciri khas organisasi ini. Dalam pandangannya, kolaborasi NU dengan berbagai elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat sipil, sangat penting untuk mencapai tujuan bersama dalam membangun bangsa yang adil dan makmur. Beliau mengajak semua pihak untuk bersinergi demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat, sehingga NU dapat terus berkontribusi secara maksimal dalam menciptakan Indonesia yang lebih baik.















