Jakarta | PT Pertamina (Persero) menghadirkan 30 UMKM binaan dalam gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelaku usaha lokal dengan masyarakat dan pengunjung ajang olahraga internasional melalui ruang promosi yang terintegrasi dengan rangkaian kegiatan di kawasan sirkuit.
Para pelaku UMKM menempati area bazar di Festival Energizing Indonesia, Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bazar tersebut berlangsung selama tiga hari, yaitu pada 9–11 Oktober 2026, bersamaan dengan penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Kehadiran berbagai usaha binaan Pertamina memberikan pilihan produk yang dapat dikenali secara langsung oleh masyarakat yang berada di lokasi acara.
Keterlibatan 30 UMKM ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap suasana gelaran balap motor internasional. Area bazar juga menjadi ruang bagi usaha lokal untuk memperkenalkan produk, membangun perhatian terhadap merek, dan menjangkau calon konsumen dari wilayah yang lebih luas. Kesempatan tersebut penting bagi UMKM karena interaksi langsung dapat membantu pelaku usaha menyampaikan karakter, kualitas, serta keunggulan produk kepada pengunjung.
Melalui partisipasi dalam Festival Energizing Indonesia, UMKM binaan Pertamina memperoleh pengalaman tampil dalam kegiatan berskala besar dengan latar penyelenggaraan yang menarik perhatian publik. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dapat menjadi wadah yang menghubungkan olahraga, pariwisata, dan pengembangan usaha lokal. Selain memperluas jangkauan pemasaran, keterlibatan ini diharapkan mendukung peningkatan pendapatan pelaku UMKM melalui peluang penjualan selama kegiatan berlangsung.
Bazar UMKM binaan Pertamina dalam rangkaian GP Indonesia 2026 menghadirkan beragam produk lokal kepada pengunjung. Jenis produk yang ditawarkan mencakup makanan, minuman, kerajinan tangan, serta produk perawatan tubuh. Keragaman tersebut memperlihatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengembangkan produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari sekaligus memiliki karakter khas daerah. Pengunjung dapat menemukan pilihan kuliner dan minuman, produk kerajinan dengan nilai kreativitas, serta perawatan tubuh yang dibuat oleh usaha mikro, kecil, dan menengah binaan.
Manager SMEPP Pertamina, Fety, menyampaikan bahwa 26 dari total 30 UMKM yang berpartisipasi bergerak di sektor makanan dan minuman. Komposisi ini menunjukkan kuatnya peran sektor kuliner dalam keikutsertaan UMKM pada kegiatan tersebut. Meski demikian, kehadiran pelaku usaha kerajinan tangan dan produk perawatan tubuh turut memperkaya pilihan yang tersedia selama bazar. Setiap peserta memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan identitas usaha, menjelaskan karakter produk, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat yang hadir.
Pelaksanaan bazar di tengah perhelatan internasional memberikan ruang promosi bagi UMKM untuk menampilkan produk mereka dalam suasana yang lebih luas dan beragam. Momentum ini memungkinkan pelaku usaha memperkenalkan kualitas, kemasan, serta keunikan produk kepada pengunjung yang mungkin belum mengenal usaha tersebut sebelumnya. Interaksi langsung juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun perhatian dan ketertarikan terhadap produk lokal.
Selain berfungsi sebagai etalase, bazar tersebut membuka akses pasar bagi UMKM dengan mempertemukan produk binaan Pertamina dan khalayak dalam satu lokasi. Kesempatan tampil pada agenda berskala internasional dapat membantu memperluas jangkauan pengenalan merek dan menjadi pengalaman penting bagi peserta dalam memasarkan produknya. Namun, manfaat kegiatan ini terutama terletak pada tersedianya ruang promosi dan akses perkenalan, tanpa menyimpulkan adanya ekspor, kontrak bisnis, atau kenaikan omzet tertentu yang belum didukung oleh informasi.
Pertamina menempatkan pelibatan masyarakat sebagai bagian penting dalam kehadiran UMKM binaannya di gelaran GP Indonesia 2026. Fokus tersebut tidak hanya diarahkan pada perluasan pasar, tetapi juga pada terciptanya ruang yang inklusif bagi kelompok yang selama ini berperan dalam kegiatan usaha, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas. Melalui kesempatan tampil di ajang berskala luas, para pelaku UMKM dapat memperkenalkan produk sekaligus menunjukkan proses pemberdayaan yang berlangsung di lingkungan mereka.
Salah satu contohnya adalah Lokal Kreatif, usaha kerajinan anyaman bambu milik Agus Hartadi dari Desa Loyok. Dalam menjalankan usahanya, Agus melibatkan perempuan, termasuk penyandang disabilitas, dalam proses pengembangan kerajinan anyaman khas desanya. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa produk lokal dapat menjadi sarana untuk membuka partisipasi yang lebih luas, sekaligus menjaga keberlanjutan keterampilan dan identitas kerajinan masyarakat.
Agus menyampaikan kebanggaannya karena memperoleh booth dan kesempatan menjadikan kerajinan anyaman bambu khas Desa Loyok sebagai suvenir atau merchandise dalam gelaran GP Indonesia 2026. Baginya, kesempatan tersebut memberikan ruang untuk memperkenalkan karya daerah kepada pengunjung yang lebih beragam. Kehadiran produk di ajang itu juga mempertemukan kerajinan tradisional dengan kebutuhan pasar yang lebih luas, tanpa menghilangkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatannya.
Fety menegaskan bahwa UMKM yang terlibat tidak hanya berusaha untuk kepentingan masing-masing, tetapi juga memberdayakan orang-orang di sekitarnya dan membangun kolaborasi. Pernyataan ini menekankan bahwa pengembangan UMKM dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat peran komunitas. Dengan demikian, partisipasi dalam GP Indonesia 2026 tidak semata-mata menjadi kesempatan promosi, melainkan juga wadah untuk memperlihatkan nilai sosial, kerja bersama, serta kontribusi UMKM bagi masyarakat di sekitarnya.
Kolaborasi dalam penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 tidak hanya terlihat melalui kehadiran UMKM yang memasarkan produk, tetapi juga lewat layanan yang memberikan pengalaman langsung bagi pengunjung. Salah satunya adalah layanan pijat refleksi yang dijalankan oleh terapis lokal. Layanan tersebut menggunakan minyak pijat dan produk perawatan tubuh yang disediakan oleh UMKM Bali Ayu Nature, sehingga mempertemukan keahlian masyarakat setempat dengan produk usaha lokal dalam satu rangkaian kegiatan.
Kehadiran layanan pijat refleksi memperlihatkan bahwa keterlibatan UMKM dapat dikembangkan dalam bentuk yang beragam. Pengunjung tidak sekadar melihat atau membeli produk, tetapi juga dapat merasakan manfaatnya melalui layanan yang disediakan selama acara. Bagi terapis lokal dan Bali Ayu Nature, kolaborasi ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kemampuan serta produk mereka kepada khalayak yang lebih luas, termasuk wisatawan dan penonton yang datang ke kawasan Mandalika.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan bahwa Pertamina Grand Prix of Indonesia tidak semata-mata ditujukan untuk memperkuat branding produk Pertamina. Menurutnya, ajang tersebut juga membawa aspek performance, inovasi, dan sustainability. Ketiga aspek itu menjadi bagian dari cara Pertamina memandang penyelenggaraan acara, termasuk bagaimana kegiatan berskala internasional dapat terhubung dengan potensi daerah dan masyarakat di sekitarnya.
Aspek keberlanjutan diarahkan untuk memperkuat daya tarik Mandalika sebagai destinasi wisata. Dengan demikian, dampak yang diharapkan tidak berhenti selama perlombaan berlangsung, melainkan dapat mendukung perhatian yang lebih panjang terhadap kawasan tersebut. Mandalika disebut sebagai salah satu destinasi unggulan, sekaligus etalase bagi produk unggulan yang dibangun Pertamina. Baron menilai keberadaan etalase itu dapat mendorong pergerakan ekonomi lokal, tanpa menyatakan bahwa hasil tersebut telah menjadi kepastian.







