banner 728x250

Survei DEN-BPS: Penerima MBG Masih Didominasi Wilayah Kota dan Siswa Mampu

Survei DEN-BPS: Penerima MBG Masih Didominasi Wilayah Kota dan Siswa Mampu
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Temuan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menunjukkan bahwa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) masih lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan di pedesaan. Survei tersebut juga mencatat bahwa siswa dari keluarga mampu tercatat lebih banyak menerima program daripada siswa dari keluarga miskin. Gambaran ini menyoroti dua hal dalam sebaran penerima, yakni perbedaan wilayah kota dan desa serta perbedaan kondisi ekonomi keluarga siswa. Dengan demikian, capaian jumlah penerima perlu dibaca bersama informasi mengenai kelompok yang telah terjangkau program.

Temuan itu berasal dari survei DEN yang dilakukan bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), dengan data hingga September 2026. Anggota DEN M. Firman Hidayat menyampaikan paparan mengenai hasil survei tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Paparan itu memuat kondisi sebaran penerima MBG berdasarkan wilayah dan latar belakang ekonomi keluarga. Informasi yang disampaikan berfokus pada hasil yang tercatat dalam survei, tanpa menguraikan rincian metode yang digunakan.

banner 325x300

Perbedaan distribusi tersebut menjadi konteks penting dalam menilai jangkauan program. Dominasi penerima di perkotaan mengindikasikan bahwa jumlah siswa penerima di wilayah desa belum setara dengan yang tercatat di kota. Sementara itu, lebih banyaknya penerima dari keluarga mampu dibandingkan keluarga miskin menunjukkan bahwa kelompok yang secara ekonomi lebih rentan belum menjadi bagian terbesar dari penerima yang terdata. Temuan ini tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab kesenjangan, tetapi memperlihatkan komposisi penerima hingga periode data yang digunakan.

Karena itu, hasil survei DEN dan BPS memberi gambaran mengenai siapa yang saat ini telah menerima MBG dan di wilayah mana penerima lebih terkonsentrasi. Data hingga September 2026 tersebut dapat menjadi bahan bagi pemerintah dalam memahami cakupan program, terutama ketika membandingkan keterjangkauan di perkotaan dan pedesaan serta berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga. Paparan DEN kepada Presiden menempatkan temuan itu sebagai informasi mengenai kondisi pelaksanaan program, dengan perhatian pada sebaran penerima yang belum merata kelompok-kelompok tersebut.

Penilaian terhadap sebaran penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan perlunya penajaman sasaran dalam pelaksanaan program. Firman menilai bahwa penyaluran perlu memberi perhatian lebih besar kepada kelompok masyarakat miskin, warga di wilayah pedesaan, serta penduduk di daerah terpencil dan tertinggal. Kelompok dan wilayah tersebut membutuhkan dukungan pemenuhan gizi, sehingga prioritas program dinilai perlu lebih berpihak kepada mereka.

Catatan ini muncul di tengah temuan bahwa penerima MBG masih didominasi wilayah perkotaan dan siswa dari keluarga mampu. Ketimpangan dalam sebaran wilayah maupun komposisi penerima menjadi alasan penting untuk meninjau kembali arah distribusi. Penajaman sasaran bukan sekadar memperluas jangkauan secara umum, melainkan memastikan manfaat program menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan asupan bergizi.

Firman menekankan bahwa daerah 3T, kawasan pedesaan, dan masyarakat miskin perlu memperoleh prioritas yang lebih baik. Dengan demikian, pelaksanaan MBG perlu memperhatikan kebutuhan penerima serta kondisi wilayah, agar akses terhadap program tidak terkonsentrasi pada kelompok atau kawasan tertentu. Perhatian khusus terhadap daerah terpencil dan tertinggal juga penting dalam merancang jangkauan layanan, karena sasaran program mencakup masyarakat dengan kebutuhan gizi yang perlu dipenuhi.

Penataan prioritas tersebut dapat menjadi bagian dari evaluasi berkala terhadap penerima dan cakupan MBG. Data mengenai lokasi penerima dan latar belakang sosial-ekonomi dapat membantu melihat apakah distribusi telah menjangkau kelompok sasaran secara lebih seimbang. Evaluasi semacam itu juga dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi wilayah yang masih membutuhkan perhatian lebih, tanpa mengabaikan penerima yang telah terlayani.

Fokus pada pemerataan bukan berarti mengurangi tujuan program, tetapi memperjelas siapa yang perlu didahulukan. Jika distribusi lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat miskin dan keterbatasan akses di pedesaan maupun wilayah 3T, dukungan gizi dapat diarahkan dengan lebih tepat. Karena itu, temuan tentang dominasi penerima di kota dan dari keluarga mampu perlu dibaca sebagai sinyal untuk memperbaiki ketepatan sasaran, sekaligus mendorong penyaluran MBG yang lebih merata dan sesuai kebutuhan.

Temuan lain dalam survei yang disampaikan Firman menunjukkan bahwa siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program. Perbedaan tingkat kehadiran itu disebut cukup besar, sehingga menjadi salah satu hasil yang menonjol dari pengamatan terhadap kelompok siswa dalam survei. Temuan tersebut memberi gambaran mengenai pola kehadiran yang terlihat pada saat data dikumpulkan, bukan kesimpulan bahwa program dengan sendirinya telah menyebabkan perubahan perilaku hadir di sekolah.

Perbedaan itu terutama tampak pada siswa yang berada di desil 1, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Dalam kelompok ini, siswa penerima MBG lebih jarang tercatat tidak masuk sekolah dibandingkan siswa yang tidak menerima manfaat program. Firman menyampaikan perbandingan tersebut sebagai hasil survei, tanpa menyertakan angka persentase kehadiran. Karena itu, besarnya perbedaan dapat dijelaskan secara kualitatif sebagai cukup besar, tetapi tidak perlu diterjemahkan menjadi nilai numerik yang tidak tersedia dalam keterangan sumber.

Hasil tersebut dapat menjadi petunjuk awal bahwa kehadiran sekolah dan penerimaan MBG memiliki keterkaitan dalam data yang diamati. Namun, perbandingan penerima dan bukan penerima belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat. Faktor lain, seperti kondisi keluarga, jarak ke sekolah, kesehatan siswa, maupun karakteristik sekolah, mungkin turut berkaitan dengan absensi. Survei ini menunjukkan adanya perbedaan pola, bukan membuktikan bahwa MBG merupakan satu-satunya penyebab siswa hadir lebih rutin. Pembacaan yang hati-hati penting agar temuan tidak ditafsirkan melampaui informasi yang disampaikan. Meski demikian, catatan mengenai kelompok desil 1 relevan bagi evaluasi pelaksanaan program, karena kelompok tersebut menghadapi keterbatasan ekonomi paling berat. Penelitian lanjutan dengan data yang lebih rinci dapat membantu menguji faktor-faktor yang berhubungan dengan kehadiran sekaligus menilai apakah perubahan pola bertahan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, hasil survei dapat menjadi dasar pertanyaan kebijakan dan pemantauan berikutnya, sementara kesimpulan tentang dampak perlu menunggu bukti yang lebih kuat. Pendekatan ini menjaga perbedaan pengamatan lapangan dan klaim kausal.Survei DEN-BPS mencatat bahwa kualitas menu menjadi alasan utama yang berkaitan dengan meningkatnya semangat belajar di kalangan siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 95 persen siswa penerima menyatakan semangat belajarnya lebih tinggi ketika menu yang diberikan berkualitas baik. Angka ini menggambarkan jawaban siswa mengenai pengalaman mereka, khususnya saat makanan yang disediakan dinilai memenuhi harapan. Dengan demikian, temuan survei tidak hanya memotret penerimaan terhadap program, tetapi juga mencatat kaitan mutu sajian dan dorongan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Hasil tersebut menempatkan kualitas makanan sebagai bagian penting dari pengalaman penerima MBG. Pernyataan 95 persen itu merujuk secara khusus pada siswa yang mengatakan semangat belajar mereka lebih tinggi ketika memperoleh menu berkualitas baik; angka tersebut bukan ukuran nilai akademik atau hasil belajar. Survei juga tidak menyatakan bahwa setiap siswa mengalami perubahan yang sama. Penyajian angka secara terukur membantu membedakan laporan mengenai motivasi belajar dari indikator lain, sekaligus menunjukkan bahwa penilaian siswa terhadap menu merupakan konteks utama dalam temuan ini.

Temuan mengenai semangat belajar tersebut sejalan dengan keterangan Firman tentang fungsi praktis program di lingkungan sekolah. Ia menyebut MBG dapat membantu mengurangi rasa lapar siswa ketika berada di sekolah.

banner 325x300