banner 728x250
Sosial  

Pesan tentang Karhutla Menggema di Panggung Synchronize Fest 2026

Pesan tentang Karhutla Menggema di Panggung Synchronize Fest 2026
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Sejumlah musisi menyampaikan keprihatinan atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam penampilan mereka di Synchronize Fest 2026. Isu yang mencakup Kalimantan, Sumatra, dan Papua hadir lewat beragam cara, mulai dari ucapan di sela pertunjukan hingga ajakan untuk berdoa, lagu, dan visual yang ditampilkan di panggung. Pesan-pesan tersebut membuat festival tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga tempat seniman menyuarakan perhatian terhadap persoalan lingkungan. Namun, tidak setiap penampil membahas seluruh wilayah tersebut. Rujukan geografis muncul secara berbeda dalam pesan masing-masing musisi, sehingga penting untuk memahami pernyataan mereka sesuai konteks penampilan.

Melalui ucapan langsung, sebagian musisi mengajak penonton memberi perhatian pada dampak kebakaran serta kondisi warga dan alam yang terdampak. Ajakan berdoa menjadi salah satu bentuk ungkapan solidaritas, sementara lagu menghadirkan pesan dengan bahasa yang lebih emosional dan mudah diterima. Di beberapa penampilan, elemen visual turut menguatkan suasana dan menyampaikan keprihatinan tanpa menggantikan pesan lisan. Bentuk-bentuk ini menunjukkan bahwa kepedulian dapat disampaikan dengan cara yang beragam, sesuai karakter musisi dan pertunjukan masing-masing. Penyebutan Kalimantan, Sumatra, atau Papua perlu dibaca berdasarkan ucapan dan materi yang benar-benar disampaikan oleh penampil terkait.

banner 325x300

Karena itu, rangkaian pesan di Synchronize Fest 2026 lebih tepat dipahami sebagai sejumlah respons individual terhadap karhutla, bukan satu pernyataan bersama yang merangkum semua daerah. Ada musisi yang menyoroti lokasi tertentu, sementara bentuk ekspresi lainnya menekankan solidaritas dan perhatian terhadap bencana secara lebih luas. Perbedaan tersebut penting agar pemberitaan tidak menggeneralisasi isi seluruh penampilan maupun mengaitkan setiap musisi dengan semua wilayah yang disebut dalam festival. Di tengah pertunjukan musik, pesan tentang kebakaran hutan dan lahan mengingatkan penonton bahwa dampak krisis lingkungan melampaui panggung. Suara para musisi membuka ruang percakapan, sekaligus mengajak publik memberi perhatian pada keadaan di daerah terdampak.

Pesan tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya hadir sebagai latar pemberitaan, tetapi juga disampaikan langsung kepada penonton dari panggung Synchronize Fest 2026. Dalam pembukaan festival, Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, mengajak pengunjung mendoakan korban serta warga yang terdampak kebakaran di Kalimantan. Ia menggambarkan situasi di wilayah tersebut sebagai sangat parah, sekaligus mengingatkan bahwa perhatian publik tidak seharusnya berhenti pada satu seruan singkat. Ajakan itu menempatkan pengalaman warga terdampak sebagai perhatian bersama, meskipun mereka berada jauh dari lokasi festival. Di tengah suasana pertunjukan, penonton diajak menyisihkan perhatian untuk krisis yang sedang berlangsung.

Cholil juga mendorong publik mengikuti perkembangan situasi dan tetap menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi dampak kebakaran. Pesan tersebut menegaskan pentingnya mencari informasi lanjutan, bukan menganggap persoalan selesai setelah disinggung dari atas panggung. Seruan serupa disampaikan Melly Goeslaw. Ia mengajak para pengunjung berdoa bagi daerah yang dilanda karhutla, dengan perhatian khusus kepada Kalimantan. Doa menjadi cara sederhana untuk menyatakan solidaritas, sementara ajakan tersebut turut mengingatkan bahwa bencana berdampak langsung pada kehidupan warga. Kehadiran pesan-pesan ini di penampilan musik memperluas ruang festival menjadi tempat untuk menyuarakan kepedulian sosial.

Di Dynamic Stage, Tria Ramadhani menyampaikan harapan agar kebakaran segera berakhir dan wilayah terdampak dapat pulih. Ia kemudian melontarkan kritik keras kepada pihak yang sengaja membakar hutan. Pernyataannya agar para pelaku ikut “hilang” disampaikan dalam makna tuntutan supaya mereka bertanggung jawab atas tindakannya, bukan sebagai ajakan untuk mencederai siapa pun. Kritik tersebut memberi tekanan pada pentingnya pertanggungjawaban, selain doa dan dukungan bagi warga. Berbagai seruan dari para penampil menunjukkan bahwa perhatian terhadap karhutla mencakup lebih dari rasa prihatin: publik juga diajak mengikuti kabar, mendukung pemulihan, dan menuntut tindakan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, pesan dari panggung menghubungkan solidaritas penonton dengan nasib masyarakat yang terdampak di Kalimantan.

Pesan tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya disampaikan melalui ucapan di atas panggung. Sejumlah musisi memanfaatkan visual pada videotron dan komentar di sela lagu untuk mengajak penonton memperhatikan krisis lingkungan yang masih berlangsung. Cara tersebut membuat keresahan mereka hadir sebagai bagian dari pertunjukan, sekaligus menghubungkan musik dengan dampak yang dirasakan masyarakat di wilayah terdampak.

Vokalis Iga Massardi menampilkan gambar kepungan api dan asap kebakaran pada videotron. Visual itu memperlihatkan situasi yang menjadi sorotan, sementara Iga menyampaikan bahwa persoalan lingkungan tersebut membuatnya sesak napas. Ia juga berharap para pelaku pembakaran hutan segera diadili. Pernyataan itu menegaskan tuntutan agar kerusakan tidak berhenti menjadi kabar atau gambar, tetapi diikuti pertanggungjawaban terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran.

Di sela penampilan sebuah band asal Bogor, isu karhutla di Kalimantan turut dibawa ke hadapan penonton. Nama band tersebut tidak disebutkan dalam bahan informasi, tetapi pesan yang mereka tampilkan berbunyi “dont lose focus on karhutla”. Mereka mengingatkan bahwa kabut asap bukan sekadar gangguan pada lingkungan. Dampaknya menjangkau kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat, termasuk orang-orang yang harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kualitas udara yang buruk. Dengan mengangkat sisi tersebut, band itu mendorong perhatian agar tidak cepat beralih dari warga yang menanggung akibatnya.

Pada hari pertama Synchronize Fest 2026, Polka Wars juga mengingatkan penonton mengenai keadaan hutan Indonesia. Pesan itu disampaikan di Forest Stage, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Dega, pemain bas Polka Wars, mengatakan bahwa Indonesia dan hutannya sedang tidak baik-baik saja. Ucapan tersebut menjadi pengingat singkat, tetapi tegas, tentang kondisi hutan dan pentingnya menjaga perhatian publik terhadap karhutla.

Rangkaian pesan dari para musisi memperlihatkan beragam cara menyuarakan keprihatinan: melalui gambar api dan asap, seruan untuk mengadili pelaku, hingga ajakan agar fokus pada karhutla tetap terjaga. Di tengah suasana festival, pesan-pesan itu membawa persoalan hutan, kabut asap, serta keselamatan masyarakat ke ruang percakapan yang lebih luas.

Di tengah rangkaian penampilan Synchronize Fest 2026, Efek Rumah Kaca menyampaikan pesan yang mengajak penonton memberi perhatian kepada warga terdampak kebakaran hutan dan lahan. Ajakan itu hadir melalui momen ketika band tersebut meminta penonton mendoakan masyarakat yang menghadapi dampak karhutla. Pesan tersebut memperluas makna penampilan musik, dengan mengarahkan perhatian penonton pada situasi yang dialami warga di luar area festival.

Efek Rumah Kaca juga mengingatkan penonton pada aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib. Band itu membawakan “Di Udara”, lagu yang lekat dengan ingatan terhadap Munir dan perjuangan penegakan HAM. Kehadiran lagu tersebut memberi ruang bagi penghormatan dan refleksi di tengah suasana festival. Penonton tidak hanya menyimak sebuah repertoar, tetapi juga diajak mengingat sosok serta isu yang terus menjadi bagian dari percakapan publik.

Selain “Di Udara”, Efek Rumah Kaca membawakan “Mosi Tidak Percaya”. Lagu tersebut menambah lapisan pesan sosial dalam penampilan mereka. Bersama ajakan mendoakan warga terdampak karhutla dan penghormatan kepada Munir, pilihan lagu itu memperlihatkan bagaimana panggung dapat menjadi tempat bagi musisi untuk menyampaikan perhatian terhadap persoalan sosial dan politik. Pesan-pesan tersebut muncul melalui ucapan maupun karya yang dibawakan, tanpa menghilangkan karakter pertunjukan musiknya.

Pesan sosial lain tampak melalui penampilan The Jansen, meski dengan tema berbeda. Para personelnya memajang ijazah mereka sambil menyentil sulitnya mencari kerja.

Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun

banner 325x300