Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, yang diadakan di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, merupakan acara penting dalam sejarah organisasi ini. Acara tersebut berlangsung pada tanggal 20 hingga 22 November 2023, di mana ribuan peserta berkumpul dari berbagai daerah untuk membahas isu-isu krusial yang dihadapi masyarakat serta untuk memperkuat komitmen Nahdlatul Ulama terhadap keberagaman dan toleransi.
Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh anggota, tetapi juga tokoh-tokoh terkemuka, pejabat pemerintah, serta elemen masyarakat sipil. Partisipasi yang luas ini mencerminkan pentingnya muktamar ini sebagai forum dialog dan refleksi bagi umat Islam di Indonesia. Nahdlatul Ulama sendiri dikenal sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, dengan 10 juta anggota, dan memiliki peranan strategis dalam pembangunan sosial dan keagamaan.
Pada penutupan Muktamar ke-35, Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Republik Indonesia, memberikan sambutannya, menekankan peran serta Nahdlatul Ulama dalam memperkuat persatuan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan latar belakang sejarah yang kaya dan visi yang progresif, Muktamar ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi-rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi umat, serta menjadi landasan untuk tindakan kolektif di masa mendatang.
Sekaligus, acara ini juga menjadi momentum bagi Nahdlatul Ulama untuk mengedepankan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-alamin, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Akhir kata, penutupan Muktamar ke-35 diharapkan menjadi trigger untuk meningkatkan kolaborasi ormas Islam dengan pemerintah serta masyarakat luas, demi terciptanya keadaan yang lebih baik di Indonesia.
Pada penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang penuh makna dan materi yang relevan. Dalam orasinya, Prabowo menggarisbawahi pentingnya konsolidasi umat dalam menghadapi tantangan global dan nasional saat ini. Ia menekankan perlunya persatuan dan kesatuan di para kader Nahdlatul Ulama sebagai landasan untuk menghadapi berbagai dinamika yang ada.
Dalam pidatonya, Prabowo mencatat beberapa poin penting yang menjadi perhatian utama. Pertama, ia menekankan pentingnya nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Nahdlatul Ulama, yang berakar pada ajaran Islam yang moderat. Menurutnya, akar nilai tersebut harus dipertahankan dan terus ditransformasikan untuk sejalan dengan perkembangan zaman. Poin ini menunjukkan komitmen Prabowo terhadap keberlanjutan nilai-nilai tersebut di tengah masyarakat yang semakin modern.
Kedua, Prabowo berbicara tentang peran aktif Nahdlatul Ulama dalam kontribusi terhadap pembangunan bangsa. Ia mengajak seluruh elemen organisasi untuk tidak hanya berperan serta dalam aspek spiritual tetapi juga dalam memajukan aspek ekonomi dan sosial. Dengan menyentuh integrasi agama dan kemajuan, pidato ini menciptakan kesan bahwa Nahdlatul Ulama harus menjadi pionir dalam perubahan sosial yang positif.
Selanjutnya, Presiden Prabowo menyampaikan harapan agar Muktamar kali ini dapat menjadi momentum untuk membangun arah yang lebih jelas bagi Nahdlatul Ulama dalam menjawab berbagai tantangan yang ada. Pidato ini bukan hanya sekadar penutupan, tetapi juga momen penting untuk merenungkan kembali peran Nahdlatul Ulama di tingkat nasional dan global, dengan menegaskan kembali bahwa organisasi ini menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan dan kerukunan bangsa.
Pada penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat kepada Gerakan Nahdlatul Ulama atas terpilihnya Gus Kikin dan Kiai Miftah sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru. Momen penting ini tidak hanya mengukuhkan kepemimpinan mereka, tetapi juga menandakan harapan baru bagi organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam berkontribusi terhadap masyarakat dan bangsa.
Prabowo menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan yang visioner dan penuh integritas dalam melanjutkan misi dan visi NU. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa Gus Kikin dan Kiai Miftah akan membawa semangat baru untuk memajukan organisasi dan mengatasi tantangan yang ada di masa depan. Ucapan selamat tersebut mencerminkan pengakuan atas kapasitas mereka untuk mengelola dan mengembangkan organisasi, serta meningkatkan peran NU di kancah nasional.
Lebih jauh, Prabowo menyampaikan harapan agar kepemimpinan baru ini mampu memperkuat persatuan di anggota NU, serta mengambil langkah-langkah strategis untuk mengembangkan program-program yang pro rakyat. Ia mengingatkan pentingnya kolaborasi dan sinergi PBNU dan berbagai elemen masyarakat, untuk membangun bangsa yang lebih inklusif dan sejahtera. Dalam konteks ini, harapannya adalah untuk melihat NU berperan aktif dalam mengatasi isu-isu sosial, pendidikan, dan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini.
Dengan demikian, pernyataan Prabowo pada penutupan muktamar ini tidak hanya mengedepankan ucapan selamat kepada kepemimpinan baru, tetapi juga membawa pesan yang lebih luas tentang harapan untuk masa depan Nahdlatul Ulama di Indonesia. Ucapan selamat yang disampaikan Prabowo menjadi sinyal positif bagi para anggota NU untuk terus bekerja keras dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diresmikan oleh Prabowo Subianto mengundang beragam reaksi dari peserta dan tokoh-tokoh penting di lingkungan NU. Banyak di mereka memberikan tanggapan positif terhadap acara tersebut, menganggapnya sebagai momentum penting untuk memperkuat solidaritas dan persatuan di dalam organisasi. Peserta muktamar merasa terinspirasi oleh visi dan misi yang dipaparkan oleh para pemimpin baru, yang diharapkan dapat membawa Nahdlatul Ulama ke arah yang lebih progresif dan inklusif.
Tokoh-tokoh NU, yang memiliki pengaruh signifikan terhadap basis massa, juga menyatakan optimisme terhadap kepemimpinan baru ini. Salah seorang tokoh menyampaikan harapan bahwa kehadiran Prabowo dalam acara ini dapat menjadi sinyal positif bagi kebangkitan NU dalam memainkan peran yang lebih besar di panggung nasional. Diharapkan, dengan pemimpin yang baru, NU akan mampu menjalankan kontribusinya secara lebih efektif, terutama dalam menghadapi tantangan dan perubahan sosial yang tengah berlangsung.
Masyarakat luas pun memberikan perhatian terhadap apa yang terjadi di dalam muktamar tersebut. Banyak yang mengharapkan agar Nahdlatul Ulama, di bawah kepemimpinan baru ini, dapat lebih responsif terhadap isu-isu yang berkembang dalam masyarakat, termasuk yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Ada keyakinan bahwa kepemimpinan yang baru ini mampu menciptakan inovasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman dan menopang peran NU sebagai organisasi yang membawa misi keagamaan sekaligus kemasyarakatan.
Secara keseluruhan, reaksi terhadap penutupan muktamar menunjukkan semangat kolektif dan harapan yang tinggi. Dengan kepemimpinan baru diharapkan NU akan semakin solid dan relevan dalam melanjutkan misi yang diembannya. Perubahan dalam kepemimpinan ini diharapkan menginspirasi anggota NU untuk lebih aktif dan berperan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.












