KABUPATEN KEDIRI, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Di berbagai wilayah di Jawa Timur, kondisi krisis air bersih semakin memburuk, yang menjadi perhatian utama banyak pihak. Ratusan ribu warga kini terpaksa menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka, yaitu air bersih. Khususnya di kabupaten-kabupaten seperti Pasuruan, Tulungagung, Madiun, dan Sumenep, masyarakat merasakan dampak langsung dari fenomena kekeringan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Krisis air ini jelas terlihat pada sumur-sumur yang mulai mengering, pengurangan pasokan air dari sumber-sumber alami, serta peningkatan permintaan terhadap air bersih.
Hampir setiap tahun, masalah kekeringan di Jawa Timur terus berulang, membuat banyak warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih. Di daerah-daerah tersebut, berbagai kegiatan pertanian juga terhambat, mengingat air merupakan elemen vital dalam proses pertumbuhan tanaman. Peningkatan suhu rata-rata dan minimnya curah hujan semakin memperparah kondisi ini, sehingga masyarakat di pedesaan merasa terpinggirkan dalam memperoleh akses terhadap air bersih.
Usaha untuk mengatasi krisis ini tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa inisiatif sudah dicoba, namun tanpa dukungan infrastruktur yang baik serta kebijakan yang efektif, upaya tersebut sering kali menemui jalan buntu. Selain itu, tidak jarang ditemukan masalah dalam distribusi air bersih yang berkelanjutan. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah serta organisasi non-pemerintah untuk bersinergi dalam merumuskan solusi yang tidak hanya bersifat temporer, melainkan berkelanjutan, demi masa depan masyarakat yang lebih baik.
Abdul Latif, yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Sabdo Roso, memiliki kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sumber air bersih, khususnya di wilayah Jawa Timur. Melalui ajakannya, Guru Sabdo Roso menekankan pentingnya menghidupkan kembali rasa kepedulian terhadap lingkungan, terutama mengenai keberadaan sendang dan mata air yang kian terabaikan. Dalam kampanye yang dilakukannya, beliau tidak hanya menyoroti masalah krisis air bersih yang tengah dihadapi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk lebih menghargai sumber-sumber air di sekitarnya.
Beliau mengartikulasikan bahwa kesadaran terhadap vitalnya air tidak seharusnya muncul hanya ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, Guru Sabdo Roso mengajak semua elemen masyarakat untuk memperhatikan keberadaan air secara berkelanjutan. Dengan melakukan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan yang muncul akibat perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya air yang kurang bijaksana.
Lebih jauh, Guru Sabdo Roso mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam upaya menjaga kebersihan dan kelestarian sendang dan mata air. Dalam konteks ini, beliau menekankan pentingnya kolaborasi individu, kelompok masyarakat, dan pemerintah setempat. Dengan bekerja sama, diharapkan kita dapat menemukan solusi yang efektif dalam mengatasi masalah krisis air bersih, demi mencapai kesejahteraan bersama.
Melalui pendekatan yang holistik ini, Guru Sabdo Roso bertujuan tidak hanya untuk mendidik tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat agar mereka memiliki kesadaran yang mendalam mengenai nilai sumber air bersih. Dengan cara ini, semangat kolektif dalam menjaga dan merawat sumber daya air di Jawa Timur dapat kembali tumbuh, membantu mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh krisis air bersih.
Sendang, sebagai salah satu sumber air yang penting, mempunyai peranan sentral dalam kehidupan masyarakat desa di Jawa Timur. Tradisi merawat dan menjaga sendang telah berlangsung selama berabad-abad dan mencerminkan hubungan harmonis masyarakat dengan lingkungan alam sekitar. Masyarakat Jawa tempo dulu menjalin ikatan yang erat dengan sendang, tidak hanya sebagai sumber air bersih tetapi juga sebagai simbol kehidupan.
Praktik menjaga sendang sering kali melibatkan seluruh anggota masyarakat, menciptakan rasa kebersamaan dan tanggung jawab kolektif. Salah satu tradisi yang umum dilakukan adalah bersih desa, di mana masyarakat berkumpul untuk membersihkan mata air dan area sekitarnya. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial anggota komunitas. Melalui kegiatan bersih desa, masyarakat diajarkan untuk menghargai dan melestarikan sumber daya alam yang ada sebagai salah satu cara untuk memastikan pasokan air bersih di masa depan.
Selain bersih desa, terdapat pula ritual dan upacara yang dilakukan untuk menghormati sendang. Upacara ini sering kali diikuti dengan doa agar sumber air tetap bersih dan mengalir deras. Keterlibatan baik pemimpin masyarakat maupun tokoh adat dalam upacara ini menunjukkan betapa pentingnya sendang dalam budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, sendang bukan sekadar sumber air, tetapi juga merupakan bagian integral dari identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Dengan semakin berkurangnya sumber air bersih, tradisi merawat sendang menjadi semakin penting. Penguatan tradisi ini tidak hanya akan membantu menjaga keberlanjutan sumber daya air tetapi juga mendidik generasi mendatang tentang pentingnya menjaga lingkungan. Keberlanjutan dalam praktik-praktik pelestarian air yang telah dilakukan oleh masyarakat Jawa seharusnya menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi isu krisis air bersih.
Upaya untuk mengatasi krisis air bersih di Jawa Timur tidak hanya melibatkan pengelolaan sumber daya air, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah melalui kegiatan bersih desa, di mana anggota masyarakat bersama-sama membersihkan sumber air. Kegiatan ini, selain bermanfaat untuk meningkatkan kualitas air, juga berfungsi sebagai cara untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pentingnya menjaga hubungan baik dengan lingkungan terletak pada kesadaran bahwa keberlangsungan mata air sangat bergantung pada kondisi ekosistem yang mendukungnya. Dalam banyak kasus, kerusakan lingkungan seperti penebangan hutan secara liar atau pencemaran air dapat langsung berdampak pada ketersediaan air bersih untuk masyarakat. Oleh karena itu, penanaman pohon dalam kegiatan bersih desa menjadi salah satu langkah yang krusial. Pohon berfungsi sebagai penyangga tanah dan penyimpan air tanah, sehingga dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan memperbaiki kondisi sumber air di area sekitar.
Selain itu, kegiatan ini juga menguatkan ikatan sosial antar warga desa. Dengan bekerja bersama dalam membersihkan dan melestarikan lingkungan, masyarakat dapat membangun komunikasi dan kerjasama yang lebih baik. Hal ini penting dalam menciptakan kesadaran bersama tentang pentingnya air bersih dan upaya kolektif untuk melestarikannya. Latif, seorang aktivis lingkungan, menekankan bahwa menjaga hubungan baik dengan lingkungan tidak hanya menjamin keberlangsungan mata air tetapi juga menciptakan komunitas yang lebih solid dan responsif terhadap tantangan yang ada.
Melalui interaksi yang positif dengan lingkungan, masyarakat dapat belajar lebih banyak tentang siklus air dan kepentingannya bagi kehidupan sehari-hari. Aktivitas edukatif, seperti seminar dan lokakarya, bisa menjadi bagian dari program ini, sehingga masyarakat semakin peduli dan proaktif dalam menjaga sumber-sumber air bersih. Dari upaya kolektif ini, harapannya adalah tercipta generasi yang lebih bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ketersediaan air bersih bagi kepentingan bersama.














