JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Caroline Tirtajasa menjelaskan bahwa keputihan merupakan keluhan yang umum dialami perempuan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan adanya masalah kesehatan. Pernyataan itu disampaikan Caroline kepada Kesehatan di sela peluncuran buku Sebelum Terlambat di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa munculnya cairan dari vagina perlu dipahami secara tepat, bukan langsung dianggap sebagai tanda penyakit.
Secara alami, tubuh perempuan memproduksi cairan vagina untuk membantu menjaga kebersihan dan kelembapan jaringan organ intim. Karena itu, keputihan dapat menjadi bagian dari kondisi fisiologis tubuh. Keputihan fisiologis perlu dibedakan dari keputihan yang patut dicurigai sebagai tanda gangguan. Pemahaman mengenai perbedaan tersebut penting agar perempuan dapat mengenali kondisi tubuhnya secara lebih baik dan tidak mengabaikan perubahan yang memerlukan perhatian.
Pengenalan terhadap kesehatan organ intim juga perlu dibangun sejak dini. Kebersihan tubuh, termasuk area genital, penting untuk diajarkan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Edukasi tersebut membantu anak dan perempuan memahami fungsi alami tubuh serta mengenali kondisi yang berbeda dari biasanya. Dengan pengetahuan yang memadai, keputihan tidak langsung dipandang sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan, tetapi juga tidak disepelekan ketika menunjukkan perubahan yang perlu dicermati. Pemahaman yang seimbang menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan reproduksi dan mendukung perhatian yang lebih baik terhadap kondisi tubuh.
Keputihan merupakan cairan yang secara alami diproduksi oleh vagina dan leher rahim. Menurut penjelasan Caroline, keputihan yang masih normal umumnya bersifat bening atau putih bening, tidak menimbulkan bau menyengat, serta tidak disertai rasa gatal maupun sensasi panas. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa cairan vagina dapat menjadi bagian dari proses fisiologis tubuh, bukan selalu tanda adanya gangguan.
Inti penjelasan Caroline adalah bahwa keputihan normal bersifat bening, tidak gatal, dan tidak berbau. Teksturnya dapat tampak lebih encer atau sedikit licin, bergantung pada kondisi tubuh. Perubahan kecil pada warna, kekentalan, atau jumlah cairan tidak selalu berarti adanya masalah, karena setiap perempuan dapat memiliki pola keputihan yang berbeda. Pengamatan sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi yang menyertai, seperti rasa tidak nyaman, perubahan bau, atau iritasi.
Jumlah dan kemunculan cairan vagina dapat mengikuti kondisi fisiologis masing-masing perempuan. Salah satu contohnya adalah pertengahan siklus menstruasi, ketika tubuh memasuki masa subur. Pada waktu tersebut, cairan dapat menjadi lebih banyak, bening, dan licin. Perubahan ini berkaitan dengan proses alami tubuh menjelang ovulasi dan dapat terjadi tanpa menandakan kelainan.
Cairan vagina juga dapat keluar secara alami saat terjadi rangsangan seksual. Peningkatan cairan pada keadaan ini berfungsi membantu menjaga kelembapan dan mengurangi gesekan. Karena itu, keputihan yang muncul dalam konteks tersebut perlu dibedakan dari cairan yang disertai keluhan lain. Bau yang menyengat, gatal, sensasi panas, nyeri, atau perubahan yang menetap merupakan tanda yang patut diperhatikan dan dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Penilaian lebih lanjut diperlukan untuk memahami penyebabnya, tanpa menyimpulkan diagnosis hanya berdasarkan tampilan cairan.
Keputihan tidak selalu menandakan gangguan kesehatan. Pada kondisi normal, cairan vagina dapat muncul dalam jumlah yang berubah-ubah, terutama mengikuti siklus menstruasi, dan biasanya tidak disertai keluhan yang mengganggu. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila keputihan mengalami perubahan, khususnya ketika muncul aroma yang tidak sedap atau rasa gatal pada area genital. Gatal yang menetap, terasa intens, atau disertai iritasi merupakan tanda bahwa kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian medis, bukan sekadar dianggap sebagai perubahan biasa.
Berdasarkan keterangan Caroline, warna cairan juga patut diperhatikan. Keputihan berwarna putih seperti kepala susu, kuning, atau hijau kekuningan dapat menunjukkan adanya kondisi yang berbeda dari keputihan normal, terlebih jika perubahan warna tersebut muncul bersamaan dengan bau tidak sedap, gatal, rasa perih, atau keluhan lain. Perempuan yang mengalami tanda-tanda tersebut dianjurkan segera memeriksakan diri kepada dokter kandungan. Pemeriksaan diperlukan untuk membantu mengetahui penyebabnya secara tepat dan menentukan penanganan yang sesuai. Mengabaikan keluhan atau menundanya terlalu lama dapat membuat gangguan semakin berlarut-larut serta berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi.
Caroline juga menjelaskan bahwa pemberian obat saja terkadang belum cukup apabila area genital belum dibersihkan dengan benar. Dalam penanganan yang ia jelaskan, area tersebut dapat dibersihkan terlebih dahulu melalui prosedur yang disebut vaginal toilet. Setelah proses pembersihan dilakukan oleh tenaga kesehatan, obat kemudian diberikan agar penanganannya dapat bekerja lebih efektif. Prosedur dan terapi tersebut perlu ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, sehingga perempuan tidak dianjurkan melakukan pembersihan khusus ataupun menggunakan obat secara mandiri tanpa arahan dokter. Konsultasi medis membantu memastikan langkah yang diambil aman, tepat sasaran, dan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Keputihan abnormal yang diabaikan tidak hanya menimbulkan rasa gatal, perih, bau tidak sedap, atau rasa tidak nyaman dalam aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya infeksi yang berisiko menyebar ke organ reproduksi. Jika penyebaran berlangsung dan tidak ditangani dengan tepat, infeksi dapat mengganggu fungsi organ yang berperan dalam proses pembuahan. Karena itu, perubahan pada warna, bau, jumlah, atau konsistensi cairan vagina perlu diperhatikan, terutama apabila disertai keluhan lain.
Risiko tersebut dapat berkaitan dengan infertilitas. Infertilitas adalah kondisi ketika pasangan mengalami kesulitan mendapatkan kehamilan. Hubungan infeksi dan kesuburan tidak selalu muncul secara langsung, tetapi infeksi yang menyebar ke bagian reproduksi dapat menyebabkan gangguan pada jaringan serta saluran yang diperlukan agar sperma dan sel telur dapat bertemu. Dengan demikian, keputihan yang tampak sepele tidak sebaiknya terus diabaikan ketika menunjukkan karakteristik yang tidak normal.
Menurut Caroline, infeksi yang bermula di area genital dapat masuk ke vagina dan menyebabkan vaginitis. Dari vagina, infeksi tersebut dapat bergerak menuju leher rahim, kemudian rahim, hingga saluran telur atau tuba falopi. Penyebaran ini penting dipahami karena tuba falopi memiliki peran dalam perjalanan sel telur. Apabila organ-organ reproduksi mengalami infeksi, proses reproduksi dapat terganggu dan pada akhirnya berkaitan dengan kesulitan memperoleh kehamilan.
Menjaga kebersihan area genital merupakan bagian penting untuk membantu mengurangi risiko infeksi. Area tersebut perlu dibasuh dengan cara yang tepat, yaitu dari arah depan ke belakang. Membasuh dari belakang ke depan dapat memindahkan kuman dari anus ke vagina dan berpotensi menyebabkan infeksi berulang. Kebiasaan sederhana dalam arah membasuh perlu diperhatikan karena perpindahan kuman dapat memperburuk gangguan pada area genital serta meningkatkan kemungkinan infeksi menyebar ke organ reproduksi.






