banner 728x250

Kredit Digital dan Perempuan: Akses Pembiayaan untuk Membuka Peluang Ekonomi

Kredit Digital dan Perempuan: Akses Pembiayaan untuk Membuka Peluang Ekonomi
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Perempuan memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, termasuk melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Laporan Bank Dunia pada 2020 menyebut sekitar 60% UMKM di Indonesia dimiliki perempuan. Angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya terlibat dalam kegiatan usaha, tetapi juga menjadi bagian besar dari kelompok pelaku yang menopang aktivitas ekonomi. Usaha yang mereka jalankan beragam, mulai dari perdagangan dan produksi rumahan hingga penyediaan jasa. Namun, besarnya peran itu belum selalu diikuti kemudahan memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan usaha.

Akses pembiayaan masih menjadi tantangan bagi banyak perempuan pelaku UMKM. Salah satu hambatannya adalah keterbatasan agunan yang dapat diterima lembaga pemberi pinjaman. Pelaku usaha yang tidak memiliki aset atas nama sendiri atau aset yang memenuhi persyaratan dapat kesulitan mengajukan kredit. Persoalan lain berkaitan dengan riwayat kredit. Perempuan yang baru pertama kali mencari pembiayaan formal mungkin belum memiliki catatan transaksi pinjaman yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan kreditnya.

banner 325x300

Bukti pendapatan juga dapat menjadi kendala. Sebagian usaha mikro beroperasi secara informal, dan pencatatan pemasukan maupun pengeluaran belum dilakukan secara teratur. Kondisi ini dapat menyulitkan pemohon untuk menunjukkan kestabilan arus kas atau kemampuan membayar cicilan. Ketika persyaratan pembiayaan dirancang dengan asumsi bahwa pemohon memiliki dokumen usaha, aset, dan riwayat kredit lengkap, pelaku usaha yang belum memiliki bukti-bukti tersebut berisiko lebih sulit mengakses layanan. Hambatan ini bukan berarti usaha mereka tidak memiliki potensi, tetapi dapat mencerminkan kesenjangan praktik usaha sehari-hari dan persyaratan pembiayaan formal.

Akses kredit yang sesuai dapat memberi perempuan pilihan untuk memenuhi kebutuhan usaha, seperti menambah persediaan, membeli peralatan, atau membiayai kebutuhan operasional. Pembiayaan juga dapat mendukung keterlibatan mereka dalam kegiatan ekonomi dengan menyediakan sumber dana yang diperlukan untuk menjalankan dan mengembangkan usaha. Ketika perempuan dapat mengakses layanan keuangan atas dasar kebutuhan dan kemampuan mereka, hal tersebut dapat berkontribusi pada kemandirian finansial. Karena itu, memahami hambatan agunan, riwayat kredit, dan bukti pendapatan penting dalam membahas bagaimana layanan pembiayaan, termasuk kredit digital, dapat menjangkau pelaku usaha perempuan secara lebih relevan.

Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo mencatat bahwa jumlah masyarakat yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan 2019. Dalam laporan yang sama, perempuan mencakup 48% dari penerima akses kredit pertama tersebut. Angka ini menggambarkan temuan mengenai pengguna yang dijangkau Kredivo, bukan representasi seluruh pasar kredit atau kondisi akses pembiayaan di Indonesia secara keseluruhan. Meski demikian, data tersebut menunjukkan bahwa layanan kredit digital dapat menjadi salah satu jalur bagi masyarakat yang sebelumnya belum pernah menggunakan kredit.

Akses ke kredit formal masih dapat terkendala berbagai hal, termasuk persyaratan administrasi, kebutuhan akan riwayat kredit, serta proses pengajuan yang dirasa rumit atau memerlukan waktu. Hambatan tersebut dapat membuat sebagian orang sulit memperoleh pembiayaan melalui saluran konvensional. Kredit digital menawarkan alternatif yang lebih mudah dijangkau bagi sejumlah pengguna, dengan proses yang dapat dilakukan melalui perangkat digital. Kemudahan ini tidak menghapus kebutuhan untuk menilai kemampuan membayar dan memahami biaya serta ketentuan kredit. Namun, jika digunakan secara bertanggung jawab, pilihan pembiayaan digital dapat membantu memperluas kesempatan untuk mengakses layanan keuangan.

Temuan mengenai perempuan sebagai hampir separuh penerima akses kredit pertama juga relevan dalam pembahasan kesetaraan kesempatan ekonomi. Akses pembiayaan dapat mendukung kebutuhan rumah tangga, kegiatan produktif, maupun pengembangan usaha, meskipun dampaknya bergantung pada tujuan dan cara kredit digunakan. Momentum Bulan Inklusi Keuangan yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi kesempatan untuk menyoroti pentingnya layanan keuangan yang dapat dijangkau lebih luas. Sejalan dengan semangat tersebut, Kredivo mendorong perluasan akses keuangan secara setara bagi laki-laki dan perempuan. Upaya ini perlu disertai edukasi agar masyarakat memahami produk, risiko, dan kewajiban pembayaran, sehingga perluasan akses dapat berjalan berdampingan dengan penggunaan kredit yang bijak.

Data Kredivo pada 2025 menunjukkan bahwa kredit digital tidak hanya digunakan untuk membiayai belanja konsumtif. Sebanyak 54% kredit yang disalurkan Kredivo tercatat dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif. Kategori ini mencakup pembiayaan yang mendukung kegiatan ekonomi, termasuk kebutuhan terkait usaha. Temuan tersebut memberi gambaran bahwa bagi sebagian pengguna, akses pembiayaan dapat berperan sebagai sarana untuk menunjang aktivitas yang berpotensi menghasilkan pendapatan, bukan semata-mata untuk memenuhi pengeluaran sehari-hari.

Perubahan juga terlihat pada jumlah pengguna yang mengakses kredit sebagai modal usaha. Menurut laporan Kredivo, jumlahnya pada 2025 meningkat hingga 15 kali lipat dibandingkan 2019. Kenaikan ini menunjukkan bertambahnya pemanfaatan layanan tersebut untuk kebutuhan permodalan usaha. Bagi pelaku usaha, terutama usaha berskala kecil, pembiayaan dapat membantu memenuhi kebutuhan operasional atau mendukung kelangsungan aktivitas bisnis. Namun, kredit tetap merupakan kewajiban yang perlu dikelola dengan perhitungan kemampuan bayar dan tujuan penggunaan yang jelas.

Aspek gender turut menjadi bagian penting dari temuan tersebut. Hampir separuh penerima kredit usaha Kredivo adalah perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan tercatat sebagai bagian besar dari kelompok penerima pembiayaan usaha dalam data Kredivo. Akses terhadap modal dapat menjadi salah satu unsur yang mendukung perempuan dalam menjalankan atau mengembangkan kegiatan ekonomi. Meski demikian, data mengenai penerima kredit tidak dengan sendirinya menjelaskan besarnya dampak pembiayaan terhadap pendapatan, keberlanjutan usaha, maupun kesetaraan akses secara lebih luas.

Penting untuk membaca angka-angka ini sesuai cakupan sumbernya. Persentase kredit produktif, peningkatan jumlah pengguna yang meminjam untuk modal usaha, serta proporsi perempuan penerima kredit usaha merujuk pada informasi dalam laporan Kredivo. Data tersebut tidak mewakili seluruh penyedia layanan, seluruh peminjam, ataupun semua pengguna kredit di Indonesia. Karena itu, temuan ini sebaiknya dipahami sebagai gambaran pemanfaatan kredit di dalam ekosistem Kredivo, bukan sebagai kesimpulan umum tentang perilaku kredit masyarakat Indonesia. Batas tersebut membantu menjaga interpretasi tetap akurat, sekaligus menempatkan data sebagai satu contoh bagaimana pembiayaan digital digunakan untuk mendukung kebutuhan produktif dan usaha.

Temuan laporan menunjukkan adanya asosiasi positif akses perempuan terhadap kredit produktif dan penguatan daya tawar mereka dalam rumah tangga. Perempuan yang memiliki akses pembiayaan untuk kegiatan produktif cenderung memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan keluarga. Temuan ini menggambarkan keterkaitan, bukan bukti bahwa kredit secara langsung menyebabkan perubahan tersebut. Berbagai faktor lain, seperti kondisi ekonomi rumah tangga, kesempatan kerja, dan pembagian tanggung jawab, juga dapat berperan. Karena itu, akses pembiayaan perlu dipahami sebagai salah satu unsur dalam upaya memperluas peluang ekonomi perempuan, bukan sebagai satu-satunya penentu kemandirian.

Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, menyampaikan bahwa perusahaan yang berdiri pada 2016 meyakini pembiayaan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan dapat mendukung pengembangan usaha, kemandirian ekonomi, serta kesejahteraan keluarga. Dalam konteks usaha, akses dana berpotensi membantu perempuan memenuhi kebutuhan operasional atau mendukung langkah pengembangan yang terukur. Namun, manfaat tersebut bergantung pada tujuan penggunaan, kemampuan membayar, dan pemahaman terhadap kewajiban kredit. Pembiayaan yang tepat perlu selaras dengan kondisi peminjam agar dapat menjadi dukungan, bukan menambah tekanan keuangan.

Kredivo juga menyatakan komitmen untuk mendorong pemanfaatan kredit secara produktif dan bertanggung jawab. Pendekatan ini mencakup penerapan prinsip responsible lending, yaitu penyaluran kredit dengan mempertimbangkan kesesuaian produk serta kemampuan konsumen dalam memenuhi kewajibannya.

Baca juga: Pameran Kriyanusa 2026: Mendorong Kriya Sebagai Pilar Ekonomi Kreatif Indonesia | Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Masyarakat Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri | Kejadian Tragis: Remaja Perempuan Jadi Korban Pemerkosaan Berulang

banner 325x300