banner 728x250

Karhutla Lawu Menyisakan Satu Titik Api, Pemadaman Berlanjut

Karhutla Lawu Menyisakan Satu Titik Api, Pemadaman Berlanjut
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Karanganyar. Meski | Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu mulai terkendali, tetapi proses penanganan belum dapat dihentikan karena api masih terpantau di satu lokasi. Kondisi tersebut membuat tim gabungan tetap melanjutkan pemadaman dan pemeriksaan lapangan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi menyala kembali. Meski sebagian besar area terdampak telah ditangani, titik api yang tersisa perlu diawasi secara saksama.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut satu titik api masih aktif di atas Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Lokasi di kawasan lereng itu menjadi perhatian petugas karena penanganan yang tidak tuntas dapat memungkinkan api menjalar atau memunculkan titik-titik baru. Karena itu, upaya pemadaman terus diarahkan ke lokasi tersebut, disertai penyisiran menyeluruh di area sekitarnya.

banner 325x300

Ahmad Luthfi mengimbau seluruh unsur yang terlibat agar tetap bersiaga di pos masing-masing. Kesiagaan diperlukan supaya personel dapat segera merespons apabila ditemukan bara atau kobaran baru, sekaligus menjaga koordinasi selama operasi berlangsung. Tim gabungan juga diminta menyisir kawasan terdampak dengan cermat, sehingga titik panas yang mungkin tersembunyi tidak terlewat dalam pemeriksaan.

Dalam penanganan kebakaran, Gubernur berkoordinasi dengan Bupati Karanganyar dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Koordinasi tersebut mencakup pemantauan kondisi lapangan serta dukungan terhadap langkah pemadaman. Selain upaya dari darat, direncanakan pengerahan satu sortie tambahan helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari Lanud Adi Soemarmo. Dukungan udara ini diharapkan membantu operasi pada area yang perlu dijangkau atau dipantau dari udara.

Penanganan satu titik api tersisa dinilai penting untuk mencegah kobaran meluas dan memicu titik-titik baru di kawasan Gunung Lawu. Dengan tetap menjaga kesiagaan, melakukan penyisiran menyeluruh, dan memperkuat koordinasi antarpihak, tim gabungan berupaya memastikan api benar-benar padam. Status yang mulai terkendali belum berarti seluruh pekerjaan selesai; pemantauan perlu berlanjut sampai kondisi di lokasi dinyatakan aman.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, menerangkan bahwa kondisi kebakaran di kawasan Lawu sempat menunjukkan keadaan yang lebih terkendali. Pada Minggu, 25 Oktober 2026, api dilaporkan padam sepenuhnya. Keterangan tersebut menggambarkan situasi ketika tidak ada lagi titik api yang terpantau pada hari itu. Namun, kondisi itu kemudian berubah setelah pemantauan kembali dilakukan. Informasi mengenai api yang sempat padam menjadi bagian penting untuk memahami perkembangan penanganan kebakaran, sekaligus menunjukkan bahwa keadaan di lapangan dapat kembali berubah dan perlu terus dicermati.

Pada pemantauan Senin pagi, petugas mendapati satu titik api baru di atas kawasan Gondosuli. Temuan tersebut menandai munculnya kembali api setelah kebakaran sebelumnya dinyatakan padam sepenuhnya pada Minggu. Sugiharto menyampaikan perubahan kondisi ini sebagai perkembangan terbaru dalam penanganan karhutla Lawu. Dengan ditemukannya titik api itu, situasi tidak lagi sama seperti saat api dinyatakan padam. Keterangan yang disampaikan berfokus pada perbedaan kondisi pada Minggu dan hasil pemantauan pada Senin pagi, tanpa mengubah urutan kejadian tersebut.

Keberadaan satu titik api baru menjadi alasan pemadaman masih berlanjut. Meski sebelumnya api sempat padam seluruhnya, temuan di atas Gondosuli menunjukkan perlunya perhatian terhadap perkembangan kondisi kebakaran. Informasi dari Sugiharto menegaskan bahwa pemantauan pada Senin pagi menemukan titik api, bukan bahwa api terus menyala tanpa jeda sejak Minggu. Karena itu, perubahan situasi tersebut perlu dipahami sesuai urutan yang disampaikan: api padam sepenuhnya pada Minggu, lalu titik api baru ditemukan dalam pemantauan Senin pagi. BPBD Kabupaten Karanganyar menyampaikan perkembangan ini sebagai bagian dari penanganan kebakaran yang masih berlangsung.

Sugiharto menjelaskan bahwa kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu. Di sejumlah bagian, permukaan tanah tertutup ilalang tebal dengan ketinggian mencapai sekitar 30 sentimeter. Vegetasi yang rapat membuat akses menuju titik kebakaran lebih sulit dan menyulitkan petugas memastikan api benar-benar padam hingga ke bagian bawah lapisan tumbuhan.

Karakter lahan tersebut disebut menyerupai lahan gambut. Meski kebakaran tidak selalu tampak menyala besar di permukaan, panas dan bara dapat bertahan di bawah ilalang atau di material kering. Kondisi ini menuntut pemeriksaan yang cermat, sebab titik api yang terlihat kecil masih berpotensi menyebar kembali ketika tertiup angin atau kondisi sekitar mengering. Karena itu, penanganannya memerlukan upaya ekstra dan perlakuan khusus, bukan hanya penyiraman dari permukaan.

Petugas perlu menyesuaikan cara pemadaman dengan kondisi vegetasi dan karakter tanah di lokasi. Lapisan ilalang yang tebal dapat menghalangi air mencapai sumber bara secara langsung, sehingga penyiraman perlu dilakukan dengan tepat dan disertai pemantauan lanjutan. Tantangan tersebut juga menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan, terutama ketika masih terdapat titik api yang harus ditangani agar tidak meluas.

Upaya dari udara telah dilakukan melalui water bombing sebanyak 34 kali. Dalam setiap penyiraman, helikopter membawa dan menjatuhkan sekitar 2.000 liter air, sehingga total air yang telah digunakan mencapai 68.000 liter. Angka tersebut menunjukkan besarnya dukungan pemadaman udara, meskipun kondisi medan tetap memerlukan penanganan di lapangan dan pengawasan setelah penyiraman.

Operasi lanjutan melalui udara akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di puncak Gunung Lawu. Cuaca di kawasan pegunungan dapat memengaruhi jarak pandang, keselamatan penerbangan, serta ketepatan pesawat atau helikopter saat menjangkau area kebakaran. Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, petugas akan menentukan waktu dan kebutuhan penerbangan berikutnya. Penyesuaian ini penting agar water bombing dapat dilakukan secara aman dan efektif, sambil tetap memperhatikan karakter lahan yang tertutup ilalang serta kemungkinan bara tersembunyi.

Sebagai upaya jangka panjang setelah kebakaran di Gunung Lawu, Ahmad Luthfi meminta Dinas PUPR Jawa Tengah, Dinas PUPR Kabupaten Karanganyar, dan Perhutani menyusun rencana pembangunan tandon atau embung air di kawasan tersebut. Fasilitas penyimpanan air ini diharapkan menjadi bagian dari kesiapsiagaan, bukan hanya dibangun setelah terjadi keadaan darurat. Perencanaan perlu mempertimbangkan kondisi medan, sumber air, akses petugas, serta lokasi yang dapat dijangkau tanpa menambah risiko bagi lingkungan hutan.

Keberadaan tandon atau embung ditujukan agar pasokan air dapat dimanfaatkan dengan cepat ketika kebakaran kembali terjadi. Dengan cadangan air yang tersedia di titik strategis, petugas diharapkan lebih mudah melakukan penanganan awal sebelum api meluas. Rencana tersebut memerlukan koordinasi antarlembaga, termasuk pembahasan mengenai pembangunan, pemeliharaan, dan mekanisme penggunaan fasilitas. Perhutani dan pemerintah daerah juga perlu menyesuaikan rancangan dengan karakter kawasan, sehingga sarana yang disiapkan benar-benar mendukung upaya pemadaman dan tidak mengganggu kelestarian hutan.

Selain menyiapkan infrastruktur, Luthfi menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran yang dipicu kelalaian. Warga dan pengunjung perlu diingatkan agar tidak membakar sampah di sekitar hutan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak menyalakan api di kawasan hutan. Perilaku yang tampak kecil dapat berisiko ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran api. Karena itu, penyampaian informasi secara berulang dan mudah dipahami penting dilakukan, terutama kepada orang yang beraktivitas di sekitar kawasan Gunung Lawu.

Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan juga membutuhkan keterlibatan warga, yang sehari-hari mengenali kondisi wilayahnya. Pengetahuan serta kearifan lokal dapat membantu menjaga kawasan, mengenali tanda bahaya, dan mendorong pelaporan lebih awal kepada petugas. Kerja bersama masyarakat, pemerintah daerah, dan pengelola hutan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus melindungi lingkungan. Sementara itu, penyebab pasti kebakaran yang terjadi masih diselidiki kepolisian.

Baca juga: Dampak Positif Pemadaman Lampu dalam Rangka Hari Ozon Sedunia | Rerata Kualitas Udara Jambi Terpuruk Akibat Karhutla | Pemadaman Serentak Lampu Jakarta Malam Ini

banner 325x300