banner 728x250

Karhutla Belum Padam, Ribuan Hektare Terdampak di Kalimantan

banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Kotabaru | Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di tiga provinsi di Kalimantan. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekitar 3.392 hektare lahan dan hutan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan masih dalam proses penanganan. Angka tersebut menunjukkan bahwa api belum sepenuhnya padam dan petugas masih bekerja untuk mengendalikan kebakaran di wilayah-wilayah terdampak.

Rincian luas area yang terdampak berbeda di setiap provinsi. Kalimantan Tengah mencatat area terbesar, yakni 2.458 hektare. Di Kalimantan Barat, luas terdampak mencapai 884 hektare, sedangkan di Kalimantan Selatan tercatat 52 hektare. Data tersebut menggambarkan kondisi di ketiga provinsi yang disebut dalam laporan BNPB; tidak berarti wilayah Kalimantan lainnya mengalami keadaan serupa. Luas yang dilaporkan juga menjadi dasar untuk memantau perkembangan penanganan dan menentukan kebutuhan operasi di lapangan.

banner 325x300

Informasi itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, melalui keterangan resmi pada Senin, 26 Oktober. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah berkoordinasi dalam upaya pemadaman, dengan dukungan relawan. Penanganan dilakukan melalui berbagai langkah untuk menjangkau titik api dan menekan risiko kebakaran meluas, sementara perkembangan di masing-masing provinsi terus dipantau. Kolaborasi tersebut penting mengingat luas area yang masih ditangani dan kondisi lapangan dapat berubah.

Selain pengerahan upaya pemadaman, pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca dengan menggunakan dry ice. Langkah ini menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla yang dilakukan bersama operasi di darat. BNPB menyampaikan bahwa pekerjaan masih berlangsung di area terdampak, sehingga koordinasi lintas tingkat pemerintahan dan keterlibatan relawan tetap diperlukan. Data luas kebakaran menjadi gambaran skala penanganan saat laporan disampaikan, bukan pernyataan bahwa seluruh area telah terbakar atau bahwa kondisi di provinsi lain sama. Pemantauan dan pemadaman terus dilakukan di tiga provinsi tersebut.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan dilakukan melalui jalur darat dan udara untuk menjangkau titik api serta mendukung upaya pemadaman di wilayah terdampak. Sebanyak 57.050 personel disiagakan di enam provinsi. Penempatan tersebut mencakup 16.387 personel di Kalimantan Tengah, 14.458 di Kalimantan Barat, 12.285 di Sumatera Selatan, 7.927 di Kalimantan Selatan, 5.984 di Jambi, dan sembilan personel di Lampung. Kesiapsiagaan lintas provinsi ini menjadi bagian dari pengerahan sumber daya untuk menangani kebakaran yang masih berlangsung. Personel ditempatkan sesuai kebutuhan wilayah dan bekerja melalui mekanisme koordinasi yang telah ditetapkan.

Untuk operasi darat, koordinasi personel dilakukan melalui satuan tugas yang berada di bawah pos komando provinsi. Pengaturan tersebut mendukung komunikasi antarpetugas dan membantu mengarahkan kegiatan pemadaman di lapangan. Peralatan yang disiapkan meliputi selang pemadam dan selang hisap, nozel, sepatu bot, pompa portabel, serta pompa punggung. Petugas juga dibekali pemukul api dan radio komunikasi. Perlengkapan tersebut digunakan untuk mendukung upaya mengendalikan api, memindahkan air, menjaga keselamatan personel, serta menyampaikan informasi antartim. Ketersediaan alat dan koordinasi lapangan menjadi unsur penting ketika petugas menghadapi titik api yang tersebar dan kondisi medan yang beragam.

Dukungan udara melibatkan total 61 armada. Sebanyak 24 unit digunakan untuk patroli, mencakup pesawat CASA, serta mendukung operasi modifikasi cuaca. Sementara itu, 37 helikopter disiapkan untuk pengeboman air. Pemantauan dari udara dapat membantu melihat kondisi area kebakaran dan mendukung penentuan kebutuhan penanganan, sedangkan helikopter pengebom air membawa air untuk dijatuhkan di lokasi yang memerlukan bantuan pemadaman. Penggunaan armada udara berjalan berdampingan dengan kerja personel darat, bukan menggantikannya. Perpaduan kedua jalur operasi ini memungkinkan dukungan menjangkau area yang sulit dicapai sekaligus memperkuat respons di lapangan. Dengan personel, peralatan, dan armada yang disiagakan, penanganan dilakukan secara terkoordinasi di enam provinsi tersebut.

Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 990 hektare lahan terdampak kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera. Rinciannya meliputi 889 hektare di Sumatera Selatan, 89 hektare di Jambi, serta 12 hektare di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Angka tersebut menggambarkan luasan yang dilaporkan terdampak di lokasi-lokasi tersebut. Sementara itu, dalam pemantauan yang disampaikan, tidak ada pemadaman karhutla yang terpantau di Provinsi Riau.

Upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) juga dilaporkan berlangsung di beberapa wilayah. Hingga 23 Oktober 2026, total pelaksanaan tercatat sebanyak 15 sortie dengan penggunaan 14.300 kilogram bahan semai. Di Kalimantan Tengah, terdapat delapan sortie dengan total 7.200 kilogram bahan, terdiri atas 5.200 kilogram dry ice dan 2.000 kilogram natrium klorida. Hingga laporan tersebut disampaikan, hujan belum terjadi di wilayah sasaran operasi di provinsi itu.

Di Sumatera Selatan, operasi dilaksanakan dalam tujuh sortie dengan 7.100 kilogram bahan semai. Hasil pemantauan yang dilaporkan menunjukkan jarak pandang membaik menjelang siang. Informasi tersebut dicatat sebagai perkembangan kondisi pemantauan, tanpa mengaitkannya secara langsung dengan pelaksanaan penyemaian. Secara keseluruhan, jumlah sortie dan bahan semai yang digunakan mencakup kegiatan di Kalimantan Tengah serta Sumatera Selatan pada periode pelaporan tersebut.

Untuk Kalimantan Barat, sasaran operasi mencakup Kabupaten Sekadau, Ketapang, dan Sintang. Hujan ringan hingga sedang dilaporkan turun di tujuh kabupaten, termasuk tiga wilayah yang menjadi sasaran. Di Kalimantan Selatan, hujan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Kotabaru. Laporan tersebut menyebutkan kondisi cuaca di sejumlah lokasi, tetapi tidak menyatakan bahwa operasi menjadi penyebab turunnya hujan.

Pelaksanaan OMC menyesuaikan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah. Karena itu, kegiatan serta pemantauan dilaporkan berdasarkan situasi setempat, termasuk perkembangan hujan dan jarak pandang. Data luasan terdampak, pelaksanaan sortie, jumlah bahan semai, serta kondisi cuaca memberikan gambaran perkembangan penanganan dan pemantauan karhutla di Sumatera dan Kalimantan. Rincian tersebut merujuk pada catatan yang tersedia hingga 23 Oktober 2026, dan dapat berubah seiring pembaruan pemantauan maupun penyesuaian operasi di lapangan.

Di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, penanganan kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung. Petugas mencatat 34 titik api dengan area sekitar 16 hektare yang belum padam. Kondisi ini memerlukan pemantauan berkelanjutan, terutama karena sebagian titik berada di lahan gambut. Bara yang tertutup permukaan atau berada di bawah lapisan gambut dapat sulit terlihat, tetapi berpotensi menyala kembali dan memicu penjalaran api. Karena itu, tim perlu memastikan perkembangan setiap titik terpantau dan menentukan lokasi yang harus ditangani lebih dahulu.

Pemantauan dilakukan dengan memadukan penggunaan drone termal dan pos pantau darat. Drone membantu mengidentifikasi indikasi panas dari udara, termasuk bara tersembunyi yang tidak selalu tampak secara visual, sedangkan petugas di pos darat mengawasi kondisi lapangan dan mendukung pemeriksaan langsung. Untuk menjangkau titik api kritis, upaya pemadaman juga ditunjang pompa jinjing serta instalasi selang air dengan panjang hampir tiga kilometer. Jalur selang tersebut membantu mengalirkan air ke lokasi yang membutuhkan penanganan, sehingga petugas dapat memusatkan upaya pada area berisiko. Pemantauan dan penentuan prioritas pemadaman tetap diperlukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi api serta mengurangi risiko kebakaran meluas.

Penanganan kebakaran juga masih dilakukan di kawasan Arjuno-Welirang, Jawa Timur. Di wilayah ini, langkah yang ditempuh mencakup koordinasi antarpihak dan penyisiran area terdampak untuk mengetahui kondisi lapangan serta perkembangan kebakaran. Pemeriksaan wilayah membantu mengidentifikasi bagian yang masih memerlukan perhatian dan mendukung penentuan langkah berikutnya.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Dalam Waktu Sepekan, Kodim Bojonegoro Salurkan 800 Ribu Liter Air Bersih ke Warga di 34 Desa Terdampak Kekeringan | Pentingnya Kepatuhan Korporasi dalam Penanganan Karhutla

banner 325x300