Kabupaten Ogan Komering Ilir | Kabut asap kembali menyelimuti Palembang pada Minggu pagi, 18 Oktober 2026, setelah kondisi udara sempat terlihat lebih baik dan asap menipis sehari sebelumnya. Pada pagi itu, lapisan asap kembali tampak di sejumlah bagian kota, membuat suasana terlihat lebih kelabu dibandingkan hari sebelumnya. Kemunculan kembali kabut tersebut menjadi perhatian warga, terutama mereka yang beraktivitas di luar rumah sejak pagi. Perubahan kondisi dalam waktu singkat juga menunjukkan bahwa keadaan udara dapat memburuk kembali, meskipun sebelumnya sempat membaik. Warga diminta tetap memperhatikan situasi sekitar dan mengikuti informasi terbaru mengenai kualitas udara serta kondisi lalu lintas.
Asap mengganggu kegiatan sehari-hari warga dan membatasi jarak pandang di sejumlah ruas jalan. Pengguna jalan perlu lebih berhati-hati ketika melintas, khususnya pada pagi hari saat kabut tampak lebih jelas. Jarak pandang yang berkurang dapat menyulitkan pengendara melihat kendaraan lain maupun kondisi jalan di depan. Aktivitas luar ruang juga dapat terganggu karena suasana berkabut mengurangi kenyamanan dan membuat warga perlu menyesuaikan rencana perjalanan. Sejumlah warga mungkin memilih membatasi kegiatan di luar rumah hingga kondisi dinilai lebih aman, sementara pengendara diharapkan mengurangi kecepatan dan menjaga jarak. Meski dampak yang dirasakan dapat berbeda di tiap wilayah, kemunculan asap kembali menimbulkan kewaspadaan di tengah masyarakat.
Sumber utama yang diduga berkaitan dengan kondisi kabut asap di Palembang berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Di wilayah tersebut terdeteksi ratusan titik panas, yang menjadi salah satu indikator untuk memantau potensi kebakaran lahan. Namun, keberadaan titik panas tidak dengan sendirinya memastikan penyebab langsung kabut yang terlihat di Palembang. Pergerakan asap dan keadaan udara dapat dipengaruhi berbagai faktor, sehingga keterkaitan titik panas di OKI dan kondisi di kota perlu dipahami secara hati-hati. Pemantauan lebih lanjut terhadap titik panas, arah angin, serta kualitas udara diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas. Untuk sementara, warga dapat mengantisipasi gangguan jarak pandang dan membatasi paparan asap sesuai kondisi masing-masing.
Didik Suprijono, Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, menyampaikan bahwa 473 titik panas masih terpantau di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada Minggu pagi. Data tersebut menunjukkan aktivitas panas yang tersebar di wilayah itu masih perlu dipantau, terutama karena sebagian titik telah masuk kategori dengan tingkat kepercayaan tinggi. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi di lapangan dan mendukung langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Dari total titik panas yang terdeteksi di OKI, sebanyak 16 titik tercatat berkategori high confidence. Menurut Didik, kategori ini berarti tingkat kepercayaannya berada di atas 80 persen. Dengan tingkat keyakinan tersebut, titik panas dinilai sebagai titik api aktif, bukan sekadar anomali panas yang terdeteksi oleh sistem pemantauan. Artinya, temuan itu menunjukkan adanya lokasi kebakaran hutan dan lahan yang masih menyala. Pembedaan kategori penting agar data pemantauan dapat dibaca secara tepat dan tidak menyamakan seluruh titik panas sebagai kebakaran yang telah dipastikan. Meski demikian, informasi satelit menjadi dasar pemantauan dan perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan serta penanganan di lokasi.
Besarnya jumlah temuan di OKI juga terlihat dalam catatan akumulatif Sumatera Selatan. Untuk periode 1–16 Oktober 2026, provinsi tersebut mencatat 33.425 titik panas. OKI menjadi penyumbang terbanyak, dengan 20.367 titik selama periode yang sama. Angka itu memperlihatkan bahwa kabupaten tersebut menyumbang bagian besar dari keseluruhan titik panas yang tercatat di Sumatera Selatan. Data akumulatif ini memberi konteks terhadap 473 titik yang masih terpantau pada Minggu pagi: jumlah tersebut merupakan kondisi pemantauan saat itu, sedangkan angka bulanan mencakup temuan dalam rentang waktu lebih panjang. Tingginya catatan di OKI menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap kebakaran lahan yang berpotensi terus berlangsung, sekaligus pentingnya pemantauan dan respons di wilayah-wilayah yang terindikasi memiliki titik api aktif.
Kabut asap yang kembali menyelimuti Palembang mulai mengganggu kegiatan warga, terutama di sekitar Stadion Jakabaring dan Perumahan Albarian, Gandus. Sejumlah warga mengeluhkan mata terasa perih, napas sesak, serta bau asap yang tercium saat berada di luar rumah. Kondisi udara yang tidak nyaman membuat aktivitas harian perlu dibatasi. Di kawasan Stadion Jakabaring, jarak pandang yang terbatas juga menghambat warga yang hendak berolahraga. Mereka kesulitan beraktivitas seperti biasa karena lingkungan tertutup kabut dan pandangan ke depan tidak leluasa. Warga berharap keadaan segera membaik agar kegiatan di luar ruangan dapat kembali dilakukan dengan aman.
Arinita mengatakan asap kembali menebal setelah cuaca sempat cerah. Perubahan tersebut membuat warga khawatir, terlebih ketika asap datang lagi dan mengganggu kenyamanan di sekitar tempat tinggal. Ia berharap penanganan terhadap kebakaran dan kabut asap dapat ditingkatkan agar kondisi tidak terus berulang. Perhatiannya juga tertuju pada anak-anak yang mengikuti sekolah secara daring serta warga yang sedang sakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menurutnya, mereka termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk. Paparan asap dapat menambah kekhawatiran keluarga, sehingga warga berharap langkah pengendalian dilakukan lebih serius dan kondisi udara dipantau.
Medi turut menyoroti perlunya penambahan kegiatan penyemaian awan menggunakan dry ice sebagai salah satu upaya penanganan. Ia berharap kegiatan tersebut dapat ditingkatkan untuk membantu mengatasi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Sementara itu, Yana menceritakan bahwa asap terasa tebal ketika ia hendak keluar rumah untuk berjualan. Pengalaman tersebut menunjukkan dampak kabut asap bukan hanya dirasakan saat berolahraga, tetapi juga ketika warga harus menjalankan pekerjaan sehari-hari. Bau asap dan pandangan yang terbatas membuat perjalanan keluar rumah terasa kurang nyaman. Warga di kawasan terdampak berharap penanganan berjalan lebih intensif, sehingga kesehatan, kegiatan belajar, dan mata pencaharian masyarakat tidak terus terganggu oleh asap yang menyelimuti lingkungan mereka.
Yudi mengatakan jarak pandang di wilayahnya hanya sekitar 100 meter ketika kabut asap menyelimuti kawasan tersebut. Jarak yang terbatas ini membuat keadaan sekitar sulit terlihat dengan jelas, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar rumah. Keterangan itu menggambarkan kondisi setempat pada saat kabut asap terasa pekat. Namun, angka jarak pandang tersebut merujuk pada wilayah yang disampaikan Yudi, sehingga tidak serta-merta mewakili seluruh Palembang ataupun daerah lain. Situasi kabut dapat berbeda menurut lokasi dan waktu, sementara informasi yang tersedia hanya menjelaskan kondisi di wilayahnya.
Data pemantauan kualitas udara di Gandus pada Minggu dini hari hingga pagi menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) sebesar 163. Angka tersebut berada dalam kategori tidak sehat, dengan kondisi yang tercatat sebagai smoke atau asap. Pada rentang pemantauan itu, suhu tercatat 27 derajat Celsius dan kelembapan mencapai 83 persen. Kecepatan angin terukur 2 kilometer per jam. Data ini memberikan gambaran mengenai keadaan udara di Gandus selama periode pengamatan tersebut, bukan penilaian untuk lokasi atau waktu yang berbeda. Pembacaan AQI, kondisi asap, suhu, kelembapan, dan angin perlu dipahami sebagai rangkaian catatan pemantauan yang spesifik pada tempat dan waktunya.
Kecepatan angin yang rendah membuat asap cenderung mengendap dan tidak banyak bergerak, sebagaimana tercantum dalam keterangan sumber. Dalam kondisi seperti itu, asap dapat bertahan di sekitar area pemantauan, alih-alih segera terbawa menjauh oleh aliran udara.













