banner 728x250
Berita  

Gibran Hadiri Sholat Idul Adha 2026 di Istiqlal, Pesan Kurban dan Krisis Kemanusiaan Jadi Sorotan

Gibran Hadiri Sholat Idul Adha 2026 di Istiqlal, Pesan Kurban dan Krisis Kemanusiaan Jadi Sorotan
banner 120x600
banner 468x60

Rabu pagi, 27 Mei 2026, suasana di kawasan Masjid Istiqlal, Sawah Besar, Jakarta Pusat, sudah tampak hidup bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Ribuan jemaah mulai memadati area pelataran masjid terbesar di Asia Tenggara itu sejak pukul 04.00 WIB untuk mengikuti pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah. Di tengah arus kedatangan jemaah yang terus mengalir, aparat gabungan melakukan pengamanan ketat karena Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, dijadwalkan hadir bersama keluarga.

Langit Jakarta yang masih gelap menjadi saksi bagaimana petugas pengamanan telah bersiaga di sejumlah titik strategis. Area pintu masuk utama, jalur VVIP, hingga lingkungan sekitar masjid dijaga ketat guna memastikan seluruh rangkaian ibadah berlangsung aman dan tertib. Meski pengamanan dilakukan secara maksimal, suasana religius tetap terasa hangat. Para jemaah datang dengan membawa sajadah, sebagian duduk bersila di selasar masjid sambil melantunkan takbir pelan menunggu waktu salat tiba.

banner 325x300

Sekitar pukul 04.09 WIB, arus jemaah mulai meningkat signifikan. Petugas keamanan dan panitia tampak mengatur jalur masuk agar tidak terjadi penumpukan massa. Hingga menjelang Subuh, jumlah jemaah diperkirakan telah mencapai sekitar 10 ribu orang. Mereka kemudian mengikuti salat Subuh berjamaah dengan suasana yang berlangsung khusyuk dan tertib.

Pelaksanaan Idul Adha tahun ini di Masjid Istiqlal mengusung tema “Meneguhkan Spirit Qurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan”. Tema tersebut terasa relevan dengan kondisi sosial saat ini yang dinilai menghadapi tantangan kemanusiaan, krisis lingkungan, hingga menurunnya kepedulian sosial di tengah masyarakat modern.

Sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional hadir dalam kegiatan tersebut. Selain Wakil Presiden RI dan istrinya, Selvi Ananda, tampak pula Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Sekjen Kementerian Agama Kamaruddin Amin, hingga sejumlah pejabat Kementerian Agama lainnya.

Menjelang matahari terbit, area utama Masjid Istiqlal sudah dipenuhi lautan jemaah berpakaian putih. Tak hanya di dalam ruangan utama, jemaah juga memadati pelataran hingga area luar masjid. Sekitar pukul 06.50 WIB, iring-iringan kendaraan Wakil Presiden tiba di kompleks Istiqlal. Kedatangan Gibran dan keluarga disambut pengamanan berlapis yang langsung mengawal rombongan menuju area utama ibadah.

Meski pengamanan VVIP dilakukan ketat, suasana tetap berlangsung kondusif. Beberapa jemaah tampak mengabadikan momen kedatangan Wakil Presiden menggunakan telepon genggam, namun aparat tetap mampu menjaga situasi tetap terkendali tanpa mengganggu jalannya ibadah.

Tepat pukul 07.00 WIB, Sholat Idul Adha 1447 H dimulai dengan jumlah jemaah diperkirakan mencapai sekitar 20 ribu orang. Salat dipimpin Imam H.M. Anshoruddin Ibrahim, M.Ag, sementara bilal dibawakan oleh H. Muh. Syawal Mubarak, S.Sos. Suasana masjid berubah hening ketika gema takbir menggema memenuhi ruang utama Istiqlal.

Usai pelaksanaan salat, kegiatan dilanjutkan dengan khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Prof. H. Hamdan Juhannis, MA., Ph.D., Rektor UIN Alauddin Makassar. Dalam khutbahnya, Hamdan menyampaikan pesan yang tidak sekadar berbicara tentang ritual kurban, tetapi juga menyentuh persoalan kemanusiaan, lingkungan hidup, hingga etika sosial di era modern.

Hamdan membuka khutbahnya dengan sebuah kisah sederhana tentang seorang profesor dan nelayan. Cerita itu menggambarkan bagaimana seorang profesor merasa lebih tinggi karena menguasai ilmu filsafat, fisika, dan bahasa asing, sementara nelayan dianggap tidak memiliki pengetahuan berarti. Namun situasi berubah ketika ombak besar datang dan sang profesor ternyata tidak bisa berenang.

Kisah tersebut menjadi pengantar khutbah mengenai pentingnya rendah hati dalam kehidupan. Menurut Hamdan, manusia kerap terjebak pada kesombongan intelektual dan status sosial, padahal setiap orang memiliki kelebihan masing-masing yang tidak bisa dipandang rendah.

“Kadang manusia terlalu sibuk mengukur orang lain dari apa yang terlihat di permukaan, tetapi lupa bahwa kehidupan memiliki ujian yang tidak selalu bisa ditaklukkan oleh gelar ataupun jabatan,” ujar Hamdan dalam khutbahnya.

Khutbah itu beberapa kali disambut lantunan takbir jemaah yang memenuhi area masjid. Hamdan kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan ibadah haji dan Idul Adha sebagai momentum penyucian diri serta penghapusan ego manusia.

Ia menjelaskan bahwa pakaian ihram yang digunakan jemaah haji menjadi simbol kesetaraan manusia di hadapan Tuhan. Tidak ada pembeda antara orang kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa. Semua berdiri sama sebagai hamba Allah.

Dalam bagian lain khutbahnya, Hamdan menyoroti persoalan lingkungan hidup yang menurutnya semakin memprihatinkan akibat kerakusan manusia. Ia mengingatkan bahwa spirit kurban sejatinya bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi tentang kesediaan manusia menahan ego dan rela berbagi demi kepentingan yang lebih besar.

Pesan mengenai kepedulian sosial menjadi salah satu poin yang paling ditekankan. Hamdan menyebut bahwa berbagi tidak hanya dilakukan ketika seseorang berada dalam kondisi lapang, tetapi justru memiliki nilai lebih ketika dilakukan saat keadaan sulit.

“Memberi ketika sedang kekurangan adalah bentuk pengorbanan yang sesungguhnya,” ucapnya di hadapan puluhan ribu jemaah.

Khutbah juga menyinggung fenomena maraknya hoaks dan polarisasi sosial yang dinilai semakin memecah masyarakat. Hamdan mengajak umat untuk membangun sikap sabar, tabayun, dan tidak mudah menghakimi pihak lain.

Menurutnya, kesabaran di era modern tidak lagi sekadar dimaknai sebagai bertahan menghadapi penderitaan, melainkan kemampuan menjaga akal sehat di tengah derasnya distraksi informasi dan kebisingan media sosial.

“Tabayun hari ini adalah bagian dari kesabaran. Tidak semua hal harus langsung dibalas. Tidak semua informasi harus langsung disebarkan,” katanya.

Suasana khutbah berlangsung penuh perhatian. Ribuan jemaah terlihat menyimak dengan tenang. Sebagian bahkan merekam isi khutbah menggunakan ponsel mereka.

Dalam bagian penutup, Hamdan menggunakan analogi manusia daun, manusia ranting, dan manusia akar untuk menggambarkan tingkat kebermanfaatan seseorang dalam kehidupan sosial.

Manusia daun disebutnya hanya hadir sesaat dan mudah gugur diterpa keadaan. Manusia ranting mampu menopang, tetapi bisa patah saat tekanan datang. Sedangkan manusia akar adalah pribadi yang diam namun kuat menopang kehidupan banyak orang.

“Ia mungkin tidak terlihat, tetapi keberadaannya menjadi penyangga bagi banyak manusia,” ujar Hamdan.

Khutbah ditutup dengan ajakan agar Idul Adha tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum memperkuat kepedulian terhadap sesama manusia dan alam. Ia juga mengutip pesan lingkungan yang kerap digunakan pegiat ekologi dunia, bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk generasi mendatang.

Di tengah pengamanan ketat, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Aparat keamanan terlihat tetap siaga hingga akhir acara. Setelah mengikuti seluruh rangkaian ibadah, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama istri meninggalkan Masjid Istiqlal sekitar pukul 07.47 WIB menuju kediaman di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Arus jemaah yang keluar dari area masjid berlangsung tertib. Petugas pengamanan dan panitia tampak membantu mengatur jalur kepulangan agar tidak terjadi kepadatan. Hingga kegiatan berakhir, situasi di sekitar Masjid Istiqlal dilaporkan aman dan kondusif.

Pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Istiqlal tahun ini tidak hanya menjadi momentum ibadah tahunan umat Islam, tetapi juga menghadirkan pesan kuat mengenai pentingnya kerendahan hati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab menjaga bumi di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *