Jakarta | Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis telah mencapai tingkat tertinggi sepanjang catatan pengamatan modern. Kenaikan ini menjadi penanda penting bahwa El Niño tahun ini berkembang menjadi salah satu peristiwa terkuat dalam lebih dari setengah abad. Suhu harian di kawasan tersebut tercatat sekitar 6 derajat Fahrenheit, atau 3,3 derajat Celsius, lebih tinggi daripada kondisi normal. Anomali sebesar itu menunjukkan bahwa pemanasan di wilayah Pasifik bukan sekadar variasi musiman, melainkan bagian dari perubahan pola atmosfer dan laut yang berpotensi memengaruhi banyak kawasan di dunia.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memperbarui penilaiannya terhadap intensitas fenomena ini. Lembaga tersebut menaikkan peluang El Niño saat ini menjadi yang terkuat sejak 1950, dari sebelumnya 75 persen menjadi 83 persen. Pembaruan itu mencerminkan pengamatan terhadap suhu laut, pola angin, serta perubahan tekanan udara di Pasifik tropis. Para ilmuwan menilai kombinasi indikator tersebut semakin konsisten dengan El Niño ekstrem. Sejumlah peneliti bahkan memperkirakan dampaknya dapat melampaui rekor yang tercatat pada peristiwa-peristiwa kuat sebelumnya.
Daniel Swain dari University of California, Los Angeles, menggambarkan perkembangan ini sebagai situasi yang sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, seluruh tanda bahaya sedang menyala dan peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak luas secara global. Ia juga menekankan bahwa belum pernah ada fenomena sebesar ini yang berlangsung ketika kondisi iklim dunia terus memanas. Pemanasan global dapat memperkuat konsekuensi El Niño, mulai dari perubahan pola hujan, kekeringan dan banjir, hingga gelombang panas yang lebih intens. Karena itu, rekor suhu Pasifik tidak hanya menjadi catatan ilmiah, tetapi juga peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersiap menghadapi gangguan terhadap pangan, kesehatan, energi, serta perekonomian.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan bahwa El Niño akan mencapai puncaknya pada Desember 2026. Pada fase tersebut, suhu rata-rata permukaan laut diperkirakan berada sekitar 8,66 derajat Fahrenheit, atau 4,8 derajat Celsius, di atas tingkat normal. Jika proyeksi ini terwujud, angkanya akan menjadi yang tertinggi sejak pencatatan dimulai, sehingga fenomena tersebut berpotensi tercatat sebagai salah satu peristiwa iklim paling ekstrem dalam lebih dari setengah abad.
El Niño bermula dari perubahan hubungan atmosfer dan Samudra Pasifik tropis. Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat dan mendorong air permukaan yang hangat menuju wilayah Pasifik bagian barat, termasuk sekitar Indonesia. Ketika angin tersebut melemah atau bahkan berbalik arah, air hangat bergerak kembali ke timur. Perpindahan massa air ini meningkatkan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Pasifik, sekaligus mengubah tekanan udara serta sirkulasi atmosfer dalam wilayah yang luas.
Perubahan itu kemudian menggeser pola pembentukan awan dan curah hujan di berbagai belahan dunia. Indonesia dan sejumlah kawasan lain di Pasifik barat berpotensi mengalami musim kering yang lebih panjang, berkurangnya ketersediaan air, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut dapat mengganggu pertanian, terutama tanaman yang bergantung pada hujan, dan menekan pasokan pangan. Namun, dampaknya tidak seragam. Wilayah lain, khususnya di sekitar Pasifik tengah dan timur atau kawasan yang terhubung dengan perubahan sirkulasi global, dapat menerima hujan jauh lebih deras. Hujan ekstrem itu berisiko memicu banjir, longsor, kerusakan infrastruktur, serta gagal panen akibat lahan tergenang. Karena itu, proyeksi puncak pada Desember perlu diikuti pemantauan berkala dan kesiapan menghadapi risiko yang berbeda antarwilayah.
El Niño yang kuat tidak hanya memengaruhi pola cuaca dan ekosistem, tetapi juga menghadirkan risiko kemanusiaan berskala global. Ketika suhu meningkat dan pola curah hujan berubah, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap kekeringan, banjir, serta gelombang panas yang berbahaya. Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan karena tubuh mereka lebih mudah terdampak oleh panas ekstrem, kekurangan air, gangguan layanan dasar, dan perubahan kondisi lingkungan yang berlangsung cepat.
UNICEF memperkirakan lebih dari 347 juta anak dapat terkena dampak langsung kondisi iklim ekstrem yang berkaitan dengan El Niño. Dampak tersebut mencakup kekeringan, banjir, dan cuaca panas mematikan. Perkiraan ini menunjukkan bahwa fenomena iklim tersebut memiliki konsekuensi jauh melampaui persoalan meteorologis. Gangguan terhadap kesehatan, keselamatan, pendidikan, serta akses keluarga pada kebutuhan dasar dapat meningkatkan tekanan terhadap anak-anak dan masyarakat yang berada dalam situasi rentan.
Direktur Pelaksana UNICEF Catherine Russell menyerukan agar tindakan dilakukan segera untuk melindungi masyarakat dan anak-anak. Seruan itu menekankan pentingnya kesiapan sebelum dampak memburuk, termasuk perhatian terhadap kelompok yang menghadapi risiko lebih besar ketika layanan publik dan kondisi lingkungan mengalami tekanan. Perlindungan yang cepat dan terarah diperlukan agar ancaman cuaca ekstrem tidak berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Risiko tersebut juga tercermin dalam analisis Laboratorium Dampak Iklim University of Chicago. Lembaga itu memproyeksikan bahwa kenaikan suhu yang berkaitan dengan El Niño berpotensi menimbulkan 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia akibat panas ekstrem. Proyeksi ini menggambarkan besarnya konsekuensi peningkatan suhu bagi manusia dan memperkuat urgensi tindakan perlindungan. Angka tersebut merupakan perkiraan dampak kematian akibat panas ekstrem secara global, tanpa memperluasnya pada penyebab atau wilayah tertentu yang tidak disebutkan dalam sumber.
Bagi Indonesia, El Niño umumnya ditandai oleh curah hujan yang berada di bawah rata-rata serta musim kemarau yang berlangsung lebih panjang. Perubahan pola tersebut dapat dirasakan di berbagai wilayah, terutama ketika kebutuhan air meningkat sementara hujan datang lebih jarang. Kemarau yang berkepanjangan juga dapat memperbesar tekanan terhadap lingkungan dan masyarakat, karena sumber daya air semakin terbatas dan kondisi lahan menjadi lebih kering.
Sektor pertanian termasuk bidang yang berpotensi paling terdampak. Berkurangnya hujan dapat mengganggu ketersediaan air untuk lahan pertanian, memengaruhi jadwal tanam, dan menekan produktivitas. Pada saat yang sama, persediaan air bersih dapat berkurang atau mengalami tekanan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan ekonomi. Dampak tersebut dapat semakin terasa apabila periode kering berlangsung lama dan mencakup wilayah yang luas.
Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi serta tanah yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar, sedangkan api dapat menyebar dengan cepat ketika cuaca panas dan angin mendukung. Meski demikian, pengaruh El Niño tidak selalu seragam di seluruh Indonesia. Sejumlah wilayah tetap dapat mengalami hujan ekstrem secara tiba-tiba, sehingga masyarakat menghadapi perubahan cuaca yang sulit dipandang hanya dari satu pola.
Karena itu, ancaman El Niño tidak semata-mata berkaitan dengan peningkatan suhu. Para ahli mengingatkan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari perubahan mendasar pada sistem iklim, dengan dampak yang dapat muncul melalui kekeringan, keterbatasan air, gangguan pertanian, kebakaran, maupun hujan ekstrem. Besarnya kerugian yang dialami Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh kesiapan dalam menghadapi berbagai dampak tersebut, termasuk ketidakseragaman kondisi antardaerah.
Baca juga: Asap Karhutla Kalimantan Mengancam Kesehatan Warga Filipina








