banner 728x250

Dua Embung Baru di Cipayung Tampung Air Hujan dan Jadi Ruang Publik

Dua Embung Baru di Cipayung Tampung Air Hujan dan Jadi Ruang Publik
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, pada Senin (19/10). Kedua embung tersebut memiliki kapasitas tampungan gabungan sebesar 36.550 meter kubik. Peresmian ini menandai penambahan fasilitas pengelolaan air di wilayah timur Jakarta, sekaligus menjadi bagian dari langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat pengendalian banjir dan konservasi air.

Embung berfungsi menampung air hujan agar aliran air dapat dikelola dengan lebih baik. Dengan menyediakan ruang tampung, fasilitas semacam ini dapat membantu mengurangi limpasan yang mengalir ke kawasan sekitar saat hujan. Kapasitas gabungan kedua embung memberi gambaran mengenai skala daya tampung yang disiapkan di Cipayung. Pengelolaan air hujan juga penting untuk mendukung upaya konservasi, sehingga air yang terkumpul dapat menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya air di perkotaan.

banner 325x300

Keberadaan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong mencerminkan pendekatan yang menggabungkan penanganan risiko banjir dengan pengelolaan air. Infrastruktur tampungan menjadi salah satu unsur dalam upaya pemerintah daerah menghadapi aliran air hujan, terutama ketika curah hujan meningkat. Peresmian dua fasilitas ini juga mempertegas perhatian terhadap kebutuhan pengelolaan air di kawasan Cipayung dan Jakarta Timur. Dengan kapasitas yang tersedia, keduanya diharapkan berperan dalam mendukung sistem pengendalian air setempat, sejalan dengan program Pemprov DKI Jakarta untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap genangan serta menjaga ketersediaan air.

Dua embung yang dibangun di Cipayung memiliki ukuran dan kapasitas tampungan berbeda, disesuaikan dengan kondisi lahan masing-masing. Embung Batu Bangkong menempati lahan seluas 1,3 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 0,58 hektare berupa badan air yang berfungsi menampung limpasan hujan. Embung ini mampu menampung hingga 20.300 meter kubik air. Kapasitas tersebut menjadikannya fasilitas penting untuk mengelola air hujan di kawasan sekitarnya, sekaligus mendukung upaya mengurangi aliran permukaan yang dapat membebani saluran drainase.

Sementara itu, Embung Bambu Hitam memiliki lahan sekitar 2,1 hektare, lebih luas daripada kawasan Embung Batu Bangkong. Luas badan airnya tercatat sekitar 0,50 hektare, dengan kapasitas tampungan mencapai 16.250 meter kubik. Perbedaan luas lahan dan kapasitas menunjukkan bahwa ukuran keseluruhan lokasi tidak selalu sebanding dengan volume air yang dapat ditampung. Bentuk, kedalaman, dan rancangan kolam turut menentukan kapasitas masing-masing fasilitas. Kedua embung menyediakan ruang untuk menahan air hujan, meskipun besaran tampungan dan komposisi lahannya tidak sama.

Keduanya dibangun oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada 2025 dengan pendekatan infrastruktur biru-hijau dan solusi berbasis alam. Pendekatan tersebut menggabungkan pengelolaan air dengan unsur lingkungan, sehingga embung dirancang bukan semata sebagai kolam penampung. Ruang terbuka di sekitarnya dapat memberi manfaat publik, sementara badan air membantu menyimpan limpasan ketika hujan. Dengan data luas dan kapasitas yang jelas, peran tiap embung dapat dipahami sebagai bagian dari upaya pengelolaan air di Cipayung. Perbedaan spesifikasi juga memperlihatkan bahwa perencanaan fasilitas dapat menyesuaikan kondisi tapak, tanpa mengabaikan tujuan bersama: menampung air hujan dan menghadirkan ruang yang bermanfaat bagi warga.

Dua embung baru di Cipayung dirancang untuk menahan dan menampung air hujan sebelum air tersebut mengalir ke saluran drainase maupun sungai. Dengan adanya ruang tampung di kawasan embung, aliran air hujan tidak langsung menambah beban pada jaringan drainase dan aliran sungai. Fungsi ini menjadi bagian penting dari pengelolaan air, terutama ketika curah hujan menghasilkan limpasan yang perlu ditangani secara terencana. Embung menyediakan tempat bagi air untuk terkumpul, sehingga perannya tidak hanya berkaitan dengan bentuk fisik kawasan, tetapi juga dengan cara air hujan dikelola.

Pramono menjelaskan bahwa air yang masuk ke embung ditampung dan meresap di kawasan tersebut. Proses penampungan dan peresapan itu mendukung konservasi sumber daya air. Air hujan tidak semata-mata dialirkan menjauhi lokasi, melainkan diberi ruang untuk tertahan dan meresap di area embung. Penjelasan ini menempatkan fasilitas tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan air melalui pengelolaan di tingkat kawasan. Dengan demikian, tujuan embung mencakup pengaturan aliran air hujan sekaligus dukungan terhadap konservasi, sesuai dengan fungsi yang disampaikan oleh Pramono.

Selain fungsi penampungan dan peresapan, embung juga dirancang sebagai sumber air baku, sebagaimana diterangkan Pramono. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa rancangan fasilitas mencakup peran terkait penyediaan air baku, di samping pengelolaan air hujan. Namun, informasi mengenai rancangan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan volume air yang dapat disediakan, cara pemanfaatannya, atau hasil yang telah dicapai. Karena itu, fungsi sumber air baku dapat dipahami sebagai bagian dari tujuan perancangan, tanpa menyimpulkan penggunaan atau capaian yang belum disebutkan. Secara keseluruhan, dua embung di Cipayung diarahkan untuk menahan air hujan, mengurangi aliran langsung menuju drainase dan sungai, mendukung peresapan, serta dirancang sebagai sumber air baku. Peran-peran tersebut memperlihatkan hubungan pengendalian limpasan dan konservasi sumber daya air dalam satu fasilitas.Kawasan di sekitar kedua embung di Cipayung tidak hanya dirancang untuk menampung air hujan, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Pendekatan ini membuat infrastruktur pengendalian air memiliki fungsi tambahan dalam mendukung kegiatan sosial dan rekreasi warga. Saat cuaca cerah, area embung dapat menjadi tempat beraktivitas, berolahraga, dan berkumpul, sehingga fasilitasnya tetap berguna dalam keseharian.

Sejumlah sarana disediakan untuk menunjang kebutuhan tersebut. Fasilitasnya mencakup instalasi pengolahan air limbah, jalur joging, taman bermain anak, balai warga, lapangan multifungsi, serta sunken plaza. Kehadiran berbagai fasilitas itu memungkinkan ruang di sekitar embung digunakan oleh kelompok usia dan kebutuhan yang berbeda. Warga dapat berolahraga, mengajak anak bermain, mengadakan kegiatan bersama, atau menggunakan lapangan untuk aktivitas komunitas.

Ruang publik tersebut dirancang agar dapat berfungsi sesuai kondisi. Ketika tidak terjadi hujan, area yang tersedia bisa digunakan untuk kegiatan warga. Sementara itu, saat hujan turun, bagian tertentu dapat berperan sebagai tampungan tambahan untuk menahan air. Dengan demikian, pemanfaatan kawasan tidak berhenti pada fungsi rekreasi, sekaligus mendukung upaya mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekitar ketika volume air meningkat.

Pramono menekankan bahwa penanganan banjir perlu mengutamakan pencegahan yang berkelanjutan, bukan hanya merespons saat hujan atau genangan sudah terjadi. Karena itu, upaya pengendalian air perlu dilakukan melalui pengembangan embung dan waduk, serta normalisasi sungai. Langkah-langkah tersebut diharapkan memperkuat kapasitas kawasan dalam menampung dan mengalirkan air, sekaligus menjadi bagian dari penanganan banjir yang direncanakan secara menyeluruh.

Ia juga meminta agar seluruh fasilitas dirawat dengan baik supaya tetap aman, bersih, dan berfungsi sebagaimana mestinya. Perawatan penting agar sarana publik tidak cepat rusak dan dapat dinikmati dalam jangka panjang. Masyarakat diharapkan tetap bisa menggunakan fasilitas tersebut secara gratis. Dengan pengelolaan yang konsisten, kedua embung dapat menjalankan fungsi pengendalian air sekaligus menyediakan ruang publik yang terbuka dan bermanfaat bagi warga.

Baca juga: Massa Menghukum Pelaku Pencurian Motor di Cipayung

banner 325x300