banner 728x250

BMKG Jelaskan Perbedaan Dry Ice dan Garam dalam Penanganan Asap Karhutla

BMKG Jelaskan Perbedaan Dry Ice dan Garam dalam Penanganan Asap Karhutla
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | BMKG menggunakan penyemaian dry ice sebagai salah satu upaya untuk menangani asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terperangkap di sejumlah wilayah Indonesia. Metode ini memiliki tujuan berbeda dari penyemaian yang dilakukan untuk memicu hujan. Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsyo, menjelaskan bahwa dry ice dimanfaatkan untuk menstabilkan profil suhu atmosfer, sehingga kondisi udara yang menahan asap diharapkan berubah dan kepekatannya dapat berkurang.

Penjelasan tersebut disampaikan Budi dalam konferensi pers mengenai perkembangan bencana di Indonesia, yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB pada Jumat, 23 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa sasaran utama penggunaan dry ice bukan mendatangkan hujan. Dalam penanganan asap, pendekatan ini diarahkan pada kondisi atmosfer di sekitar lapisan tempat asap berkumpul, bukan pada proses pembentukan hujan seperti yang menjadi tujuan penyemaian bahan tertentu dalam operasi modifikasi cuaca.

banner 325x300

Asap karhutla dapat bertahan dan terkumpul ketika profil suhu atmosfer membuat pergerakan udara vertikal terbatas. Dengan menstabilkan profil tersebut, penyemaian dry ice diharapkan membantu mengurai kondisi yang membuat asap terkonsentrasi. Dampak yang dituju adalah berkurangnya kepekatan asap, sehingga kualitas udara di kawasan terdampak dapat membaik. Namun, penggunaan metode ini tidak berarti asap langsung hilang dari udara atau sumber kebakaran otomatis tertangani.

Karena itu, dry ice perlu dipahami sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak asap, bukan solusi tunggal untuk memadamkan karhutla. Asap yang telah terbentuk masih dapat berada di atmosfer, dan hasil upaya penguraiannya bergantung pada kondisi cuaca serta dinamika udara setempat. Penjelasan BMKG tersebut membantu membedakan fungsi dry ice dari garam yang digunakan dalam konteks modifikasi cuaca lainnya. Fokusnya adalah membantu mengurai asap yang terperangkap melalui penyesuaian profil suhu, bukan secara langsung menciptakan hujan ataupun menghapus polutan. Dengan penjelasan ini, masyarakat dapat memahami bahwa penyemaian dry ice merupakan langkah untuk mengurangi konsentrasi asap, sementara penanganan kebakaran tetap memerlukan langkah lain yang menyasar sumber api dan dampak lanjutan bagi warga.Penggunaan dry ice untuk penanganan asap karhutla diarahkan pada kondisi atmosfer tertentu, terutama ketika terjadi inversi suhu. Dalam keadaan normal, udara dekat permukaan yang lebih hangat dapat naik dan membantu mencampurkan udara. Sebaliknya, saat inversi, udara yang lebih hangat berada di atas lapisan udara dingin dekat permukaan. Susunan ini menghambat pergerakan udara vertikal dan membuat atmosfer lebih stabil.

Akibatnya, asap, partikel, dan polutan lain yang dilepaskan di permukaan dapat sulit terangkat. Zat-zat tersebut berpotensi menumpuk di lapisan bawah, sehingga kualitas udara di wilayah terdampak memburuk. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyebut bahwa dalam kondisi tertentu, asap pekat dapat terjebak dekat permukaan hingga ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki atau lebih. Kedalaman lapisan yang terdampak dapat berbeda-beda, bergantung pada keadaan atmosfer setempat.

BMKG memaparkan bahwa karbon dioksida dalam bentuk padat atau dry ice dapat disebarkan dari pesawat pada lapisan inversi yang menjadi sasaran. Ketika terpapar lingkungan, dry ice menyublim, yakni berubah langsung dari padat menjadi gas. Proses perubahan wujud tersebut menyerap panas dari udara di sekitarnya dan diharapkan menimbulkan pendinginan setempat pada lapisan yang dituju.

Pendinginan ini diharapkan mengubah kestabilan atmosfer dan melemahkan pemisahan udara dingin di bawah dengan udara lebih hangat di atasnya. Jika pengaruhnya memadai, kondisi tersebut berpeluang membantu membuka kembali aliran konveksi, yaitu gerakan udara vertikal. Udara yang bergerak naik dapat membawa sebagian asap keluar dari lapisan dekat permukaan, lalu memungkinkan asap menyebar pada ruang atmosfer yang lebih luas.

Namun, mekanisme tersebut merupakan proses yang diharapkan, bukan jaminan bahwa asap akan langsung terangkat atau hilang. Efeknya bergantung pada ketebalan dan kekuatan lapisan inversi, keadaan cuaca, serta sebaran material. Karena itu, pemantauan atmosfer dan kualitas udara tetap diperlukan untuk menilai perubahan yang terjadi setelah penyebaran dry ice dilakukan.

Dalam penjelasan Budi, dry ice dan garam atau natrium klorida (NaCl) digunakan untuk sasaran yang berbeda dalam penanganan dampak karhutla. Dry ice diterapkan ketika lapisan inversi atmosfer menahan asap dekat permukaan, sehingga asap sulit menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi. Pada kondisi tersebut, awan yang berpotensi disemai untuk menghasilkan hujan mungkin terbatas. Karena itu, penggunaan dry ice bukanlah upaya memicu hujan, melainkan bagian dari penanganan asap melalui proses penyebaran vertikal.

Dry ice yang disemai dalam kondisi sesuai membantu mendorong pergerakan udara dan penyebaran asap ke arah vertikal. Tujuan operasionalnya adalah mengurangi konsentrasi asap di dekat permukaan, bukan membentuk hujan untuk membasahi lahan. Hasilnya bergantung pada keadaan atmosfer, termasuk keberadaan inversi serta dinamika angin dan udara. Dengan demikian, bahan ini tidak dapat disamakan dengan garam, sebab sasaran dan mekanisme yang diharapkan dari masing-masing penyemaian berbeda.

Sementara itu, garam disemai ke awan yang berdasarkan pemantauan dinilai berpotensi mendukung pembentukan hujan. Partikel NaCl membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan, sehingga diharapkan dapat mendukung terjadinya hujan. Apabila hujan turun, airnya dapat membantu membasahi lahan yang terdampak karhutla. Namun, penyemaian garam bukan jaminan bahwa hujan akan terjadi; keberhasilannya tetap dipengaruhi kondisi awan dan atmosfer. Perbedaan ini penting dipahami saat menjelaskan teknologi modifikasi cuaca: dry ice diarahkan untuk membantu mengurangi penumpukan asap di dekat permukaan melalui penyebaran vertikal, sedangkan garam digunakan pada awan potensial untuk mendukung proses hujan. Keduanya merupakan pendekatan dengan tujuan tersendiri, sehingga tidak tepat menyebut dry ice sebagai bahan pemicu hujan atau menganggap garam berfungsi menyebarkan asap.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa dalam operasi modifikasi cuaca, dry ice disemai secara akurat dari pesawat pada area di atas lapisan inversi. Penempatan bahan tersebut dimaksudkan untuk membantu mengatasi kondisi atmosfer yang menahan asap dekat permukaan. Melalui pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak, asap diharapkan dapat bergerak naik dan terurai di atmosfer. Dengan demikian, partikulat yang sebelumnya terkumpul pada lapisan bawah berpeluang terdispersi secara vertikal. Penjelasan ini menggambarkan tujuan intervensi cuaca, bukan kepastian bahwa perubahan kondisi udara akan langsung terjadi di setiap lokasi terdampak.

Pendinginan atmosfer tersebut juga diharapkan meningkatkan peluang pertumbuhan awan. Jika awan terbentuk, kondisi itu dapat menjadi sasaran penyemaian berikutnya dalam rangkaian operasi modifikasi cuaca. Budi menyampaikan bahwa berkurangnya kepekatan asap dan terdispersinya sebagian partikulat secara vertikal dapat diikuti oleh perbaikan jarak pandang serta penurunan indeks PM2.5. Kedua indikator tersebut penting untuk memantau kondisi udara, tetapi perbaikan yang diharapkan tetap bergantung pada keadaan atmosfer dan perkembangan penanganan di lapangan. Karena itu, penyemaian dry ice merupakan salah satu langkah pendukung untuk membantu mengurangi dampak asap, bukan pengganti penanganan sumber kebakaran.

Upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan serta Kalimantan juga berjalan melalui pemadaman dari darat dan pengerahan helikopter untuk water bombing. Langkah-langkah tersebut melengkapi operasi modifikasi cuaca: pemadaman diarahkan pada titik kebakaran, sementara penyemaian ditujukan untuk memengaruhi kondisi atmosfer dan membantu mengurangi kepekatan asap. BMKG berharap rangkaian penanganan karhutla dapat diselesaikan sehingga masyarakat di wilayah terdampak bisa kembali menjalankan aktivitas seperti biasa. Harapan tersebut disampaikan tanpa memastikan hasil tertentu, sebab proses pemadaman dan perubahan cuaca masih bergantung pada kondisi yang dihadapi di lapangan.

banner 325x300