Di tengah langit yang dipenuhi suara angin dan deru mesin pesawat militer, sebuah keputusan dalam hitungan detik mengubah nasib dua prajurit berbeda negara. Tidak ada aba-aba panjang, tidak ada waktu berpikir ulang. Yang tersisa hanya insting, keberanian, dan pilihan antara menyelamatkan diri sendiri atau mempertaruhkan nyawa demi orang lain.
Momen itu kini menjadi perhatian luas setelah aksi heroik prajurit Kopassus, Serma Edi Sutono, terungkap dalam rangkaian latihan gabungan Indonesia dan Filipina. Namanya mendadak ramai dibicarakan setelah berhasil menyelamatkan seorang personel Pasukan Khusus Filipina yang kehilangan kesadaran saat terjun bebas dari ketinggian ribuan kaki.
Peristiwa tersebut terjadi dalam agenda Latihan Bersama Dolphine-XVII/2025 yang mempertemukan prajurit elite kedua negara. Latihan itu sejatinya berlangsung seperti prosedur biasa. Sejumlah personel diterjunkan dari pesawat militer pada ketinggian sekitar 10 ribu kaki untuk menjalani skenario freefall atau terjun bebas.
Di awal penerjunan, seluruh tahapan berjalan normal. Para penerjun membentuk formasi di udara sambil menjaga jarak aman satu sama lain. Situasi masih terkendali ketika mereka memasuki area ketinggian sekitar 5.000 hingga 4.500 kaki. Tidak ada tanda-tanda masalah maupun gangguan teknis.
Namun kondisi berubah drastis beberapa detik kemudian.
Serma Edi Sutono yang berada tidak jauh dari prajurit Filipina bernama SSg Jonathan Sabado mulai melihat sesuatu yang janggal. Tubuh Sabado terlihat tidak merespons pergerakan udara sebagaimana penerjun aktif pada umumnya. Dalam posisi meluncur bebas dengan kecepatan tinggi, prajurit Filipina itu tampak kehilangan kendali.
Saat itu ketinggian sudah menyentuh sekitar 3.000 kaki, titik yang sangat krusial bagi seorang penerjun untuk segera membuka parasut utama. Keterlambatan sepersekian detik saja bisa berakibat fatal.
Di tengah situasi genting tersebut, Serma Edi menyadari Sabado diduga mengalami blackout atau pingsan di udara. Artinya, tidak ada kemungkinan bagi prajurit itu menarik tuas parasutnya sendiri.
Tanpa menunggu instruksi dari bawah maupun dari sesama penerjun lain, Serma Edi langsung mengambil keputusan cepat. Ia belum membuka parasutnya. Dengan risiko besar, ia justru mengubah arah jatuhnya tubuh untuk mengejar Jonathan Sabado yang terus meluncur bebas menuju daratan.
Manuver di udara itu bukan perkara mudah. Dalam kondisi freefall, kecepatan jatuh penerjun bisa mencapai lebih dari 190 kilometer per jam. Dibutuhkan ketenangan, kemampuan membaca arah angin, serta penguasaan teknik udara yang sangat tinggi untuk mendekati tubuh penerjun lain dalam waktu singkat.
Saksi dari latihan tersebut menyebut momen itu berlangsung sangat cepat dan menegangkan. Dari bawah, beberapa personel hanya bisa melihat dua titik kecil di langit bergerak semakin rendah dengan kecepatan tinggi.
Serma Edi terus memacu tubuhnya mengejar Sabado. Jarak keduanya sempat berjauhan karena arus udara yang berubah-ubah. Namun prajurit Kopassus itu berhasil mendekat di detik-detik kritis.
Ketika posisinya sudah cukup dekat, Serma Edi langsung meraih tubuh Jonathan Sabado sambil mencari pegangan pada sistem parasut utama milik prajurit Filipina tersebut. Dalam tekanan waktu yang sangat sempit, ia akhirnya berhasil menarik tuas pembuka parasut.
Parasut utama Jonathan Sabado mengembang sempurna.
Tubuh prajurit Filipina itu pun melambat drastis sebelum akhirnya melayang turun menuju area pendaratan dengan selamat. Aksi tersebut praktis menyelamatkan nyawa Sabado yang saat itu sudah tidak sadarkan diri di udara.
Namun keberhasilan itu harus dibayar mahal.
Karena terlalu lama berada dalam posisi freefall demi mengejar rekannya, Serma Edi kehilangan batas aman untuk membuka parasut miliknya sendiri. Ketinggian yang tersisa sudah sangat rendah.
Ia sempat berusaha membuka parasut utama, tetapi waktu yang tersedia tidak cukup untuk membuat kanopi mengembang sempurna. Dalam situasi darurat, Serma Edi kemudian segera menarik parasut cadangan.
Sayangnya jarak dengan permukaan tanah sudah terlalu dekat.
Pendaratan keras tak terhindarkan. Tubuh Serma Edi menghantam area pepohonan sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Akibat benturan tersebut, ia mengalami patah kaki.
Meski terluka, keselamatan Jonathan Sabado berhasil dipastikan. Prajurit Filipina itu selamat berkat tindakan cepat yang dilakukan Serma Edi di udara.
Kisah tersebut kemudian menyebar luas di lingkungan militer hingga akhirnya menjadi perhatian publik di dua negara. Banyak pihak menilai tindakan Serma Edi bukan sekadar refleks seorang prajurit, melainkan bentuk pengorbanan yang melampaui kewajiban tugas.
Aksi itu juga memunculkan penghormatan besar dari militer Filipina. Pihak Special Operations Command Philippine Army atau SOCOM PA memberikan apresiasi resmi kepada Serma Edi Sutono atas keberaniannya dalam operasi latihan bersama tersebut.
Pada Senin, 28 Juli 2025, Serma Edi menerima penghargaan Military Merit Medal dari militer Filipina. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk penghormatan atas tindakan heroik yang dianggap berhasil menyelamatkan nyawa personel mereka di tengah situasi berbahaya.
Dalam lingkungan militer Filipina, medali tersebut termasuk penghargaan bergengsi yang diberikan kepada personel dengan tindakan luar biasa di lapangan.
Tidak berhenti di situ, penghargaan juga datang dari internal Korps Baret Merah.
Panglima Kopassus Letjen TNI Djon Afriandi kemudian memberikan penghargaan Sangkur Perak kepada Serma Edi Sutono. Penghargaan itu diserahkan pada Kamis, 15 Januari 2026 di Jakarta.
Pemberian Sangkur Perak disebut sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi, loyalitas, dan keberanian Serma Edi yang dinilai melampaui panggilan tugas seorang prajurit.
Di kalangan pasukan elite, tindakan Serma Edi dianggap memperlihatkan nilai utama seorang tentara: tidak meninggalkan rekan dalam kondisi apa pun.
Peristiwa tersebut juga menjadi gambaran keras tentang risiko latihan militer yang selama ini jarang terlihat publik. Di balik latihan bersama yang tampak rutin, ada situasi-situasi ekstrem yang menuntut keputusan cepat dalam hitungan detik.
Satu kesalahan kecil di udara dapat berujung kehilangan nyawa.
Namun dalam insiden itu, keberanian seorang prajurit justru menjadi alasan seseorang bisa kembali pulang dengan selamat.
Kini nama Serma Edi Sutono bukan hanya dikenal di lingkungan Kopassus, tetapi juga mendapat penghormatan dari pasukan khusus negara sahabat. Aksinya di langit saat menyelamatkan Jonathan Sabado menjadi cerita yang terus dibicarakan sebagai simbol solidaritas antar prajurit, bahkan melampaui batas negara.
Di tengah derasnya arus informasi media sosial yang silih berganti setiap hari, kisah tersebut muncul sebagai pengingat bahwa keberanian sejati sering lahir dalam situasi paling sunyi—ketika seseorang harus memilih antara keselamatan dirinya sendiri atau menyelamatkan orang lain tanpa jaminan bisa kembali berdiri dengan utuh.
















