Jakarta | Asian Development Bank (ADB) menyetujui subprogram pertama dalam Financial Market Deepening Program untuk Indonesia, disertai dukungan pembiayaan sebesar US0 juta. Persetujuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi sistem keuangan nasional agar lebih mampu mendukung kebutuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Program tersebut dirancang untuk mendorong perubahan yang saling melengkapi di berbagai bidang, mulai dari pengembangan pasar modal hingga pembaruan layanan keuangan digital. Melalui pendekatan bertahap, inisiatif ini mendukung agenda Indonesia untuk membangun sektor keuangan yang lebih dalam, modern, dan tangguh.
Sasaran pertama adalah memperdalam pasar modal, sehingga pasar dapat berkembang sebagai sumber pembiayaan yang lebih luas bagi dunia usaha dan perekonomian. Penguatan ini juga dapat membantu memperluas pilihan instrumen bagi investor serta meningkatkan kapasitas pasar dalam menghimpun dana jangka panjang. Sasaran kedua ialah memodernisasi ekosistem keuangan digital. Perkembangan teknologi mengubah cara masyarakat dan pelaku usaha mengakses layanan, sehingga sistem digital yang andal dan terhubung menjadi penting untuk memperluas akses sekaligus mendukung efisiensi. Modernisasi ekosistem diharapkan berjalan seiring dengan penguatan tata kelola dan ketahanan sistem keuangan.
Sasaran ketiga adalah menciptakan lingkungan yang mendukung pembiayaan berkelanjutan dan pembiayaan transisi. Kerangka yang mendukung dapat membantu mengarahkan modal kepada kegiatan yang sejalan dengan tujuan keberlanjutan, sekaligus menopang proses perubahan menuju kegiatan ekonomi yang lebih rendah emisi. Ketiga sasaran tersebut memperlihatkan bahwa pendalaman pasar keuangan mencakup lebih dari sekadar peningkatan aktivitas pasar; agenda ini juga menyangkut kesiapan kelembagaan, pemanfaatan teknologi, serta kemampuan menyalurkan dana untuk kebutuhan masa depan. Dukungan ADB melalui subprogram pertama mencerminkan komitmen Indonesia untuk memperkuat sistem keuangannya secara menyeluruh. Dengan demikian, program ini menempatkan pasar modal yang lebih berkembang, layanan digital yang modern, dan pembiayaan berkelanjutan sebagai unsur penting dalam memperkokoh ketahanan serta kapasitas sektor keuangan Indonesia.
Agenda reformasi pertama berfokus pada peningkatan efisiensi pasar keuangan domestik. Program ini mendukung pengembangan peminjaman efek agar investor dapat memanfaatkan aset secara lebih produktif dan transaksi berjalan lebih lancar. Dukungan juga diarahkan kepada penyedia likuiditas, yang berperan menjaga ketersediaan transaksi serta membantu mengurangi kesenjangan harga beli dan jual. Di pasar obligasi, pengembangan infrastruktur dan praktik pasar diharapkan memperluas pilihan pembiayaan sekaligus memperkuat keterbukaan informasi. Jika langkah-langkah tersebut terlaksana secara konsisten, likuiditas pasar dapat meningkat, pembentukan harga menjadi lebih transparan, dan partisipasi investor berpotensi meluas. Pasar yang lebih efisien juga dapat mendukung pembiayaan ekonomi jangka panjang.
Jalur kedua menyasar layanan keuangan digital yang berkembang cepat dan membutuhkan kerangka pengawasan yang adaptif. Reformasi mencakup penguatan regulasi aset digital, sehingga kegiatan terkait dapat memiliki aturan yang lebih jelas dan pengawasan yang memadai. Kejelasan tersebut penting untuk membantu menjaga integritas pasar tanpa mengabaikan perkembangan teknologi dan inovasi. Program ini juga mendorong peningkatan standar keamanan siber bagi penyelenggara layanan keuangan. Perlindungan sistem, data, dan transaksi menjadi semakin penting ketika penggunaan layanan digital meluas. Pada saat yang sama, perlindungan konsumen perlu diperkuat melalui informasi yang transparan, mekanisme penanganan keluhan, serta upaya mencegah praktik yang merugikan pengguna. Langkah-langkah ini dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital.
Jalur ketiga memperkuat pembiayaan berkelanjutan dan mendukung transisi menuju kegiatan ekonomi yang lebih rendah emisi. Agenda ini mencakup penguatan regulasi serta infrastruktur pasar agar pembiayaan hijau dapat berkembang dengan landasan yang konsisten. Perluasan taksonomi keuangan berkelanjutan juga menjadi prioritas, karena klasifikasi yang lebih luas dan jelas membantu pelaku pasar mengidentifikasi kegiatan yang memenuhi kriteria keberlanjutan. Selain itu, reformasi mendorong peningkatan kredit hijau bagi proyek dan usaha yang mendukung tujuan lingkungan. Hambatan penerbitan instrumen keuangan berkelanjutan juga perlu dikurangi, termasuk melalui perbaikan proses dan dukungan infrastruktur. Dengan demikian, lebih banyak penerbit dan investor dapat terlibat, sementara aliran modal diarahkan secara bertahap pada pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.
Direktur Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia, Bobur Alimov, menilai akses pembiayaan yang lebih luas dapat membantu pelaku usaha mengambil langkah penting untuk mengembangkan bisnis. Dengan sumber dana yang sesuai, perusahaan dapat berinvestasi pada kapasitas dan teknologi, memperluas kegiatan usaha, serta menciptakan lapangan kerja. Manfaat tersebut tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga dapat mendukung kegiatan ekonomi dan membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.
Alimov juga menekankan pentingnya akses yang aman terhadap layanan keuangan digital. Ketika masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut dengan mudah dan terlindungi, mereka memperoleh peluang lebih besar untuk menabung dan merencanakan masa depan. Karena itu, penguatan sistem keuangan perlu mencakup perluasan akses sekaligus menjaga keamanan, keandalan, dan kemampuan layanan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Sistem yang semakin kuat diharapkan dapat melayani masyarakat dengan lebih baik serta menarik investasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Upaya memperdalam pasar keuangan sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memobilisasi lebih banyak investasi. Pembiayaan yang beragam dapat membantu mendukung pertumbuhan bisnis dan pembangunan ekonomi, sekaligus mengurangi ketergantungan yang terlalu besar pada pembiayaan perbankan. Pasar modal yang lebih berkembang dapat menyediakan alternatif pendanaan bagi perusahaan dan memperluas pilihan bagi investor. Dengan demikian, perusahaan berpeluang memperoleh modal melalui berbagai saluran, sementara sumber dana bagi kegiatan produktif dapat berasal dari basis yang lebih luas.
Data kapitalisasi pasar saham Indonesia pada 2025, yang setara dengan 66,4% dari produk domestik bruto (PDB), menunjukkan kemajuan sekaligus ruang untuk pengembangan lebih lanjut. Angka tersebut menjadi konteks bagi upaya memperbesar peran pasar modal dalam perekonomian. Pendalaman pasar dapat diarahkan pada peningkatan jumlah perusahaan yang mengakses pendanaan, penguatan instrumen investasi, dan perluasan partisipasi investor. Partisipasi yang lebih inklusif serta regulasi dan infrastruktur yang memadai akan membantu pasar berkembang secara sehat. Dengan mendukung kebutuhan pembiayaan usaha dan memperluas akses masyarakat, penguatan ekosistem keuangan berpotensi menghubungkan tabungan dengan investasi produktif untuk pembangunan jangka panjang.
Subprogram ini mencerminkan kelanjutan dukungan jangka panjang Asian Development Bank (ADB) bagi penguatan sektor keuangan Indonesia. Keterlibatan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan meneruskan upaya yang telah dilakukan melalui Financial Market Development and Inclusion Program serta Promoting Innovative Financial Inclusion Program. Kedua inisiatif itu menjadi bagian dari kerja sama untuk memperluas akses keuangan sekaligus mendukung perkembangan pasar keuangan yang lebih kuat. Melalui dukungan berkelanjutan, ADB membantu mendorong reformasi dan pengembangan sektor yang dapat menopang kegiatan ekonomi secara lebih luas. Pendekatan ini juga menempatkan pendalaman pasar sebagai agenda yang berhubungan erat dengan inklusi, sehingga penguatan lembaga dan instrumen keuangan dapat berjalan seiring dengan upaya memperluas kesempatan masyarakat serta pelaku usaha mengakses layanan.
Agenda tersebut sejalan dengan arah kebijakan pembangunan Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045. Keduanya memberi kerangka bagi upaya memperkuat fondasi ekonomi dan meningkatkan kapasitas nasional untuk menghadapi kebutuhan pembangunan jangka panjang. Pengembangan pasar keuangan dapat mendukung agenda itu dengan memperluas sumber pembiayaan, meningkatkan pilihan instrumen, serta memperkuat kemampuan sistem keuangan menyalurkan dana. Karena itu, kesinambungan program ADB relevan bagi prioritas nasional, terutama ketika kebutuhan pembiayaan pembangunan memerlukan pasar yang semakin dalam dan inklusif. Kesesuaian ini menunjukkan bahwa kerja sama pembangunan dapat diarahkan untuk mendukung sasaran pemerintah, dengan tetap memperhatikan konteks dan kebutuhan Indonesia.
Peran ADB juga melampaui dukungan pada satu.
Baca juga: Dorongan Menteri Keuangan untuk Dukungan Pembiayaan Usaha | Pasar Modal Mengamati Perubahan Kepemimpinan Menteri Keuangan















