banner 728x250

Prabowo Tegaskan TNI Berakar dari Rakyat dan Hadir dalam Kesulitan

Prabowo Tegaskan TNI Berakar dari Rakyat dan Hadir dalam Kesulitan
banner 120x600
banner 468x60

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan tentara rakyat, tentara nasional, sekaligus tentara pejuang. Penegasan itu disampaikan saat memimpin amanat dalam upacara peringatan HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026 di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Pernyataan tersebut menjadi pesan utama dalam penghormatan terhadap perjalanan dan jati diri TNI sebagai kekuatan pertahanan negara.

Menurut Prabowo, TNI berakar dari rakyat dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan rakyat. Kedekatan itu tercermin melalui kehadiran prajurit di tengah masyarakat, terutama ketika rakyat menghadapi kesulitan. TNI diharapkan terus menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan bangsa dengan menjalankan tugas secara sungguh-sungguh, menjaga kepercayaan rakyat, serta berdiri bersama masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.

banner 325x300

Penegasan mengenai jati diri tersebut berkaitan erat dengan tema HUT ke-81 TNI, yaitu “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”. Tema itu menempatkan hubungan TNI dan rakyat sebagai dasar kekuatan nasional. TNI yang kuat bukan hanya diukur dari kemampuan pertahanan, melainkan juga dari soliditas, pengabdian, dan kesediaan untuk hadir ketika rakyat membutuhkan.

Dalam amanatnya, Prabowo juga mengingatkan bahwa status TNI sebagai tentara nasional dan tentara pejuang mengandung tanggung jawab besar. Prajurit harus menjaga kedaulatan Indonesia, mempertahankan persatuan, serta mengabdikan diri bagi terwujudnya kehidupan bangsa yang adil dan makmur. Karena itu, peringatan HUT ke-81 TNI menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen pengabdian, memperkuat hubungan dengan rakyat, dan memastikan kehadiran TNI tetap dirasakan dalam setiap kesulitan yang dihadapi masyarakat.

Prabowo menegaskan bahwa hubungan TNI dengan rakyat bukanlah sesuatu yang baru dibangun setelah institusi tersebut terbentuk. Sejak awal kelahirannya, TNI tumbuh dari lingkungan masyarakat dan menjalani perjalanan sejarah bersama rakyat Indonesia. Para prajurit tidak berdiri sebagai kekuatan yang terpisah, melainkan muncul dari perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, jati diri TNI sejak semula melekat pada kepentingan, kehidupan, dan cita-cita masyarakat yang menjadi sumber kekuatannya.

Menurut Prabowo, kedekatan tersebut juga terlihat pada masa ketika negara belum memiliki kemampuan untuk menyediakan anggaran bagi kebutuhan perjuangan. Dalam keadaan serba terbatas, rakyat tetap menjadi penopang utama keberadaan para pejuang. Masyarakat membantu menyediakan makanan dan kebutuhan dasar bagi prajurit, sehingga mereka dapat terus menjalankan tugas. Kenyataan itu menunjukkan bahwa keberadaan TNI tidak semata-mata dibentuk oleh keputusan kelembagaan, tetapi juga oleh dukungan nyata rakyat yang mempertahankan negara dalam situasi sulit.

Pandangan tersebut mengandung konsekuensi penting bagi pelaksanaan tugas TNI. Jika rakyat menjadi asal-usul sekaligus sumber dukungannya, maka seluruh kekuatan yang dimiliki TNI harus diarahkan untuk melindungi rakyat. Pengabdian tidak boleh berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui kesiapsiagaan, keberanian, dan kehadiran ketika masyarakat menghadapi ancaman maupun kesulitan. TNI dituntut menjaga keamanan dan kedaulatan negara dengan tetap mengingat bahwa kekuatan itu pada hakikatnya berasal dari rakyat. Dengan demikian, hubungan prajurit dan masyarakat bukan hanya warisan sejarah, melainkan landasan moral yang menentukan bagaimana setiap tugas dijalankan.

Prabowo menyampaikan pesan kepada seluruh prajurit TNI agar tidak menjauh dari rakyat. Menurutnya, keberadaan tentara tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat karena TNI tumbuh dan dibentuk dari rakyat. Oleh sebab itu, prajurit diharapkan senantiasa berada di tengah masyarakat, memahami kondisi yang dihadapi, serta menjaga hubungan yang dekat dan penuh kepercayaan.

Pesan tersebut menekankan bahwa pengabdian seorang prajurit bukanlah kepentingan pribadi. Jiwa dan raga prajurit, sebagaimana disampaikan Prabowo, bukan lagi milik dirinya sendiri ataupun keluarganya, melainkan telah diabdikan kepada rakyat Indonesia. Amanah itu menuntut kesediaan untuk menempatkan kepentingan bangsa dan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Karena itu, prajurit diminta untuk mendengarkan berbagai kesulitan yang dirasakan masyarakat. Tugas mereka tidak hanya berkaitan dengan aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga mencakup kesiapan untuk membantu ketika rakyat menghadapi persoalan, bencana, ancaman, atau keadaan darurat. Kehadiran prajurit di tengah situasi tersebut diharapkan dapat memberikan bantuan, perlindungan, dan rasa aman.

Prabowo juga mengingatkan agar para prajurit tidak membangun jarak dengan masyarakat yang mereka layani. Interaksi langsung diperlukan supaya TNI dapat memahami kebutuhan rakyat secara lebih nyata, bukan semata-mata melalui laporan atau informasi yang bersifat formal. Dengan mendengar dan melihat keadaan di lapangan, prajurit dapat menjalankan tugas secara lebih tepat serta tetap peka terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Kedekatan dengan rakyat dipandang sebagai bagian penting dari jati diri TNI. Hubungan tersebut menjadi dasar bagi tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat semangat pengabdian dalam setiap pelaksanaan tugas. Prajurit diharapkan hadir bukan hanya ketika diperlukan dalam situasi tertentu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang menjaga persatuan, membantu mengatasi kesulitan, dan mempertahankan keutuhan bangsa.

Prabowo menegaskan bahwa kedekatan TNI dengan rakyat tidak hanya terlihat dalam kegiatan seremonial, tetapi terutama ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Dalam berbagai kesempatan, ia menyaksikan langsung prajurit berada di tengah warga saat banjir melanda permukiman, tanah longsor memutus akses, gempa bumi merusak bangunan, gunung meletus mengancam keselamatan, serta kebakaran hutan dan lahan menyebar luas. Pada situasi tersebut, prajurit hadir untuk membantu evakuasi, menyalurkan bantuan, mengamankan wilayah, dan memastikan masyarakat tidak menghadapi bencana seorang diri.

Menurut Prabowo, banyak prajurit datang tanpa menunggu perintah yang panjang. Para komandan dan panglima mengambil inisiatif karena kesulitan rakyat dipandang sebagai tanggung jawab TNI. Sikap itu menunjukkan bahwa pengabdian militer tidak berhenti pada tugas pertahanan negara, melainkan juga diwujudkan melalui tindakan cepat untuk melindungi kehidupan masyarakat. Keputusan di lapangan sering kali harus diambil dalam keadaan terbatas, ketika informasi belum lengkap dan risiko keselamatan masih sangat tinggi.

Dalam penanganan bencana, prajurit turut membangun kembali jalan yang terputus, membuka jalur menuju daerah terpencil, memperbaiki jembatan darurat, serta mengangkut kebutuhan pokok dan perlengkapan medis. Pekerjaan tersebut dilakukan di tengah lumpur, arus deras, reruntuhan, asap, dan medan yang sewaktu-waktu dapat kembali membahayakan. Tidak sedikit prajurit harus mengerahkan tenaga secara maksimal, meninggalkan kenyamanan, bahkan mempertaruhkan jiwa dan raga demi menyelamatkan warga serta memulihkan kehidupan mereka.

Prabowo menyampaikan penghargaan kepada seluruh prajurit yang menjalankan tugas dengan keberanian, keikhlasan, dan rasa tanggung jawab. Bagi dia, pengorbanan tersebut mencerminkan jati diri TNI yang berakar dari rakyat. Kekuatan tentara tidak hanya diukur dari kemampuan persenjataan atau kesiapan tempur, tetapi juga dari kehadirannya ketika rakyat membutuhkan. Tentara yang kuat adalah tentara yang dekat dengan rakyat, memahami penderitaan mereka, dan bersedia berdiri bersama masyarakat dalam keadaan paling sulit.

banner 325x300