JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 28 September 2026, Operasi pencarian dan evakuasi jenazah penumpang KM Virgo dilakukan oleh tim SAR gabungan, yang terdiri dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan relawan. Proses ini merupakan bagian dari upaya menyeluruh untuk mengangkat lima jenazah yang ditemukan di lokasi tenggelamnya kapal tersebut. Kegiatan penyelaman berlangsung dengan intensif dan terencana dalam beberapa tahapan, memperlihatkan adanya kerja sama yang solid di semua pihak yang terlibat.
Tahap awal dari operasi penyelaman dimulai dengan pengukuran dan pengecekan kondisi lokasi tenggelamnya kapal. Para penyelam, dilengkapi dengan peralatan canggih, melakukan penyelaman pada kedalaman yang cukup ekstrem, yang mengharuskan mereka untuk siap menghadapi berbagai tantangan di bawah permukaan laut. Setiap penyelaman dilaksanakan dengan prosedur keamanan yang ketat untuk melindungi para penyelam serta memastikan pengambilan jenazah dilakukan dengan sebaik mungkin.
Selama proses penyelaman, tim juga menghadapi berbagai kendala termasuk arus laut yang kuat dan visibilitas yang rendah, namun dedikasi mereka dalam menemukan dan mengevakuasi jenazah tak diragukan lagi. Interaksi anggota tim yang berasal dari berbagai latar belakang menciptakan sinergi yang efektif dalam mengatasi tantangan yang ada. Setiap tahapan operasional dilaksanakan dengan koordinasi yang baik, termasuk pengaturan logistik dan komunikasi yang terus dipantau untuk memastikan semua berjalan dengan lancar.
Seluruh proses ini tidak hanya menuntut ketangguhan fisik, tetapi juga mental dari para penyelam dan tim pendukung. Dengan semangat pelayanan dan kemanusiaan, upaya ini pun menunjukkan betapa pentingnya solidaritas dan kerja sama lintas institusi dalam menghadapi bencana. Meskipun operasi pencarian ini memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit, setiap individu terlibat merasa terhormat untuk memberikan kontribusi dalam mengembalikan jenazah kepada keluarga dan orang-orang tercintanya.
Operasi pencarian yang dilakukan di Laut Jawa telah mencapai fase yang signifikan, dengan berhasilnya evakuasi lima jenazah penumpang KM Virgo pada hari ke-16. Penyelaman ini dijadwalkan setelah analisis mendalam mengenai lokasi yang diduga menjadi tempat terjadinya tragedi. Proses evakuasi dilakukan melalui tiga sorti penyelaman yang dilakukan oleh tim penyelam berpengalaman, dan masing-masing sorti memiliki waktu serta tahapan yang jelas.
Penyelam memulai kembali pencarian di lokasi yang telah ditentukan dengan menggunakan peralatan khusus untuk memastikan keselamatan mereka serta efektivitas pencarian. Sorti pertama dimulai pada pagi hari, di mana tim penyelam berhasil mencapai kedalaman yang diperlukan dan melakukan pencarian secara seksama. Jenazah pertama ditemukan kira-kira pada kedalaman delapan puluh meter, di sekitar lokasi yang dilaporkan. Proses pencarian berlanjut dan dalam waktu relatif singkat, tim penyelam menemukan jenazah kedua.
Setelah menyelesaikan penemuan tersebut, tim melanjutkan ke sorti kedua, yang berlangsung di waktu sore. Sorti ini merupakan bagian penting dari keseluruhan operasi, karena kondisi cuaca berubah dan tim harus bekerja di bawah tekanan. Hal ini mengharuskan tim penyelam untuk melaksanakan prosedur penelusuran dengan cermat dan beradaptasi pada keadaan yang berubah. Pada akhirnya, dalam sorti ini, dua jenazah tambahan berhasil berhasil diangkat dari dasar laut.
Sorti ketiga dimulai dengan prioritas untuk mengevakuasi jenazah terakhir yang tetap berada di lokasi tersebut. Berkat koordinasi yang baik serta komunikasi efektif di anggota tim, pencarian pada sorti terakhir ini membuahkan hasil yang memuaskan dengan temuan jenazah kelima. Keseluruhan proses evakuasi ini adalah hasil dari upaya kerja sama yang optimal di berbagai instansi yang terlibat dalam operasi penyelaman dan pencarian.
Setelah proses evakuasi yang berhasil, keempat jenazah dari penumpang KM Virgo yang telah ditemukan dipindahkan ke kapal KRI Gusti Ngurah Rai. Kapal ini adalah bagian dari armada TNI Angkatan Laut yang memiliki misi untuk membantu dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Penggunaan KRI Gusti Ngurah Rai untuk mengangkut jenazah merupakan langkah strategis, mengingat kapasitas dan fasilitas yang dimiliki kapal tersebut.
Sementara itu, jenazah kelima diangkut menggunakan KN SAR Purworejo. Kapal ini juga merupakan bagian dari upaya nasional dalam memberikan bantuan SAR di daerah perairan yang sulit dijangkau. Setelah semua jenazah diangkut, langkah selanjutnya adalah mengirimkan mereka ke Banjarmasin untuk proses lebih lanjut. Operasi transportasi ini dilakukan dengan memprioritaskan keamanan dan integritas jenazah, dalam rangka menghormati keluarga dan para korban.
Selanjutnya, sesampainya di Banjarmasin, semua jenazah tersebut diterbangkan menggunakan helikopter untuk mempercepat proses pemulangan ke rumah duka. Penggunaan helikopter sebagai moda transportasi memungkinkan pengiriman yang lebih cepat dan efisien, terutama dalam situasi darurat seperti ini. Dengan demikian, keluarga para korban dapat segera melaksanakan upacara pemakaman dengan tepat waktu, sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap orang-orang yang mereka cintai.
Secara keseluruhan, transportasi jenazah ke Banjarmasin mencerminkan upaya sistematis dan terkoordinasi berbagai instansi. Hal ini menegaskan komitmen pemerintah dan tim SAR dalam memberikan dukungan kepada keluarga korban melalui proses yang penuh hormat dan dignified.
Posko utama terkait operasi pencarian KM Virgo telah memberikan informasi terbaru mengenai jumlah penumpang yang terdaftar. Berdasarkan data manifes yang diperbarui, total penumpang yang terdaftar mencapai 243 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 179 penumpang telah ditemukan, baik dalam kondisi selamat maupun meninggal dunia. Proses pencarian yang terus dilakukan oleh tim gabungan melibatkan berbagai instansi, termasuk Angkatan Laut dan tim SAR, dengan harapan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Dari total 179 individu yang ditemukan, prosedur identifikasi untuk jenazah yang telah ditemukan dilaksanakan di rumah sakit. Proses ini penting untuk memastikan bahwa setiap jenazah dapat dikenali dengan tepat, serta untuk memberikan informasi yang akurat kepada keluarga dari para penumpang. Identifikasi ini biasanya dilakukan melalui beberapa metode, termasuk penggunaan data gigi, dokumen pribadi, dan ciri-ciri fisik yang diakui oleh pihak keluarga.
Penting untuk dicatat bahwa walaupun sebagian besar dari penumpang yang terdaftar telah ditemukan, upaya pencarian masih berlanjut. Tim pencari terus berusaha untuk menemukan sisanya, termasuk beberapa penumpang yang hingga saat ini belum ada informasi mengenai keberadaan mereka. Proses pencarian ini tidak hanya menjadi tugas tim penyelamat, namun juga melibatkan dukungan psikologis bagi keluarga yang terkena dampak, yang terus menunggu berita tentang orang-orang tercinta mereka. Dalam situasi seperti ini, kepastian mengenai kondisi penumpang sangat penting demi memberikan kedamaian bagi mereka yang mengalami kehilangan.












