banner 728x250

Uji Dry Ice untuk Asap Karhutla: Cara Kerja dan Pelaksanaannya di Sumatera Selatan

Uji Dry Ice untuk Asap Karhutla: Cara Kerja dan Pelaksanaannya di Sumatera Selatan
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menguji modifikasi atmosfer dengan menggunakan dry ice atau es kering sebagai salah satu langkah untuk membantu mengurangi asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengujian ini berlangsung di Sumatera Selatan, wilayah yang menghadapi dampak kebakaran, termasuk pada kawasan bergambut. Asap yang menyebar dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan jarak pandang, sehingga diperlukan upaya untuk meredakan konsentrasinya. Dalam konteks tersebut, uji coba diarahkan untuk melihat apakah proses modifikasi atmosfer dapat mendukung penanganan kondisi udara yang memburuk.

Sumatera Selatan termasuk salah satu dari enam provinsi prioritas yang terdampak serius oleh karhutla. Penetapan wilayah prioritas berkaitan dengan risiko kebakaran yang berulang dan keberadaan lahan gambut, yang dapat terbakar serta menghasilkan asap dalam jumlah besar. Ketika asap menyelimuti permukiman, jalan, atau kawasan penerbangan, jarak pandang bisa berkurang dan kegiatan sehari-hari terganggu. Karena itu, pengujian teknologi untuk membantu mengurangi asap menjadi bagian dari respons terhadap dampak karhutla. Langkah ini melengkapi penanganan di lapangan, bukan menggantikan pemadaman maupun upaya pencegahan kebakaran.

banner 325x300

Dry ice digunakan dalam skema modifikasi atmosfer untuk memicu proses pembentukan awan dan, apabila kondisi cuaca mendukung, mendorong terjadinya hujan. Hujan diharapkan membantu membersihkan partikel asap dari udara atau mengurangi kondisi yang mendukung penyebaran asap. Namun, hasilnya bergantung pada sejumlah faktor, seperti kelembapan, suhu, angin, dan ketersediaan awan. Oleh sebab itu, uji coba perlu dipantau dan dievaluasi berdasarkan kondisi meteorologi serta perubahan kualitas udara. Penggunaan metode ini bukan bukti bahwa karhutla telah teratasi, dan tidak serta-merta menghentikan sumber api. BNPB mengujinya sebagai salah satu opsi penanganan asap, sementara pengendalian kebakaran dan perlindungan masyarakat tetap menjadi kebutuhan utama.

Perbedaan utama penyemaian dry ice dan modifikasi cuaca konvensional terletak pada sasaran serta kondisi atmosfer yang dibutuhkan. Dalam operasi modifikasi cuaca yang lazim, bahan semai dilepaskan ke awan yang telah tersedia untuk membantu proses pembentukan hujan. Karena itu, pelaksanaannya bergantung pada keberadaan awan dengan karakteristik yang sesuai. Tujuan pendekatan tersebut adalah mendorong turunnya hujan, yang diharapkan dapat membantu membasahi wilayah terdampak atau mengurangi risiko kebakaran. Jika awan potensial tidak tersedia, kesempatan untuk melakukan penyemaian hujan juga terbatas. Cara kerja ini berbeda dari upaya yang secara khusus diarahkan pada lapisan asap, karena sasaran langsungnya bukan awan hujan yang berpotensi menghasilkan presipitasi.

Penyemaian dry ice dalam uji penanganan asap karhutla dirancang untuk bekerja langsung pada lapisan asap, bukan untuk memicu hujan dari awan. Dengan demikian, rancangan metode ini tidak mensyaratkan adanya awan hujan sebagai prasyarat pelaksanaan. Fokusnya adalah membantu mengurangi konsentrasi polusi dan asap pekat di atmosfer. Perbedaan sasaran tersebut penting untuk dipahami: penggunaan dry ice tidak otomatis berarti hujan akan terbentuk, dan metode ini tidak sama dengan penyemaian awan konvensional. Penjelasan mengenai tujuan dan rancangan pendekatan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan. Menurutnya, metode tersebut dikembangkan untuk membantu mengurangi konsentrasi polusi serta asap pekat tanpa memerlukan awan hujan.

Meski tidak bergantung pada awan hujan, penyebutan tujuan tersebut perlu dibedakan dari klaim bahwa hasil tertentu pasti tercapai. Uji dry ice merupakan upaya yang dirancang dengan sasaran lapisan asap, sedangkan tingkat perubahan kualitas udara tetap perlu dinilai berdasarkan pemantauan dan hasil pelaksanaan. Karena itu, informasi mengenai metode ini sebaiknya dipahami sebagai penjelasan tentang pendekatan dan tujuan, bukan jaminan bahwa asap akan hilang atau polusi langsung turun. Perbandingan dengan modifikasi cuaca konvensional membantu menjelaskan alasan metode ini diuji: ketika fokusnya adalah asap, penyemaian awan untuk menghasilkan hujan bukan satu-satunya kerangka yang dapat dipertimbangkan. Namun, pelaksanaan dan penilaian hasil tetap memerlukan kehati-hatian, data, serta keterangan resmi dari pihak yang berwenang agar publik memperoleh gambaran yang akurat.Kebakaran lahan tidak hanya menghasilkan asap, tetapi juga dapat memengaruhi susunan udara di atas wilayah terdampak. Salah satu keadaan atmosfer yang perlu diperhatikan adalah lapisan inversi. Dalam kondisi ini, udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin dekat permukaan. Susunan tersebut berbeda dari keadaan yang biasanya mendukung udara permukaan bergerak naik secara leluasa, sehingga dapat membatasi pencampuran udara secara vertikal.

Menurut penjelasan BNPB yang menjadi dasar uraian uji ini, lapisan inversi bertindak seperti pembatas bagi gerakan udara dari bawah ke atas. Ketika pergerakan vertikal terhambat, partikel asap dari kebakaran cenderung tertahan di lapisan udara dekat permukaan. Asap pun menjadi lebih sulit terangkat dan menyebar secara alami ke atmosfer yang lebih tinggi. Keadaan ini dapat memperpanjang keberadaan asap di sekitar sumber kebakaran dan berkontribusi pada penurunan kualitas udara di wilayah terdampak.

Uji dry ice dirancang untuk menangani hambatan tersebut melalui penyebaran butiran ke atmosfer bagian bawah. Butiran yang disebut dalam rancangan berukuran sekitar 3 milimeter dan bersuhu minus 75 derajat Celsius. Secara teknis, sasaran uji coba adalah memecah atau mengganggu lapisan pembatas yang terbentuk akibat inversi. Dengan perubahan pada lapisan udara itu, asap diharapkan memperoleh peluang untuk bergerak naik dan kemudian menyebar lebih luas, alih-alih tetap terkumpul dekat permukaan.

Penjelasan tentang sasaran ini perlu dibedakan dari pernyataan bahwa metode tersebut telah terbukti berhasil. Penyebaran dry ice merupakan tindakan yang diuji untuk mengetahui apakah perlakuan pada atmosfer bawah dapat memengaruhi kondisi inversi dan pergerakan asap. Harapan agar asap terangkat menjelaskan tujuan teknis operasi, bukan hasil yang otomatis terjadi atau jaminan pengurangan asap. Efektivitasnya perlu dinilai berdasarkan pengamatan dan pengukuran selama serta setelah pelaksanaan, termasuk perubahan kondisi atmosfer dan pola sebaran partikel. Dengan demikian, mekanisme inversi memberi konteks bagi uji coba, sementara dampak aktualnya tetap bergantung pada hasil evaluasi lapangan.Uji coba penyebaran dry ice di Sumatera Selatan dilaksanakan menggunakan pesawat Cessna Caravan. Pesawat tersebut berangkat dari Bandara Raden Inten II di Lampung untuk menjalankan operasi di wilayah Palembang. Informasi mengenai penerbangan ini menyebutkan bahwa pesawat melakukan dua sorti pada Kamis. Setiap detail yang tersedia menggambarkan pelaksanaan operasi udara, termasuk jenis pesawat, lokasi keberangkatan, jumlah sorti, ketinggian terbang, dan banyaknya dry ice yang dilepaskan.

Dalam dua sorti tersebut, pesawat terbang pada ketinggian 4.500 kaki. Dry ice yang dibawa kemudian dilepaskan di atas Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Jumlah material yang disebutkan untuk operasi itu mencapai 1.600 kilogram. Dengan demikian, kegiatan tersebut mencakup penerbangan dari Lampung menuju kawasan bandara di Palembang, disusul pelepasan dry ice pada ketinggian yang telah dilaporkan. Rincian yang tersedia tidak menyebutkan pembagian jumlah material untuk masing-masing sorti, sehingga angka 1.600 kilogram merujuk pada keseluruhan operasi sebagaimana diberitakan.

Pelaksanaan di atas kawasan bandara menjadi bagian penting dari laporan karena lokasi tersebut sebelumnya menghadapi gangguan jarak pandang. Kondisi jarak pandang yang buruk telah mengganggu keadaan operasional penerbangan di sekitar Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Konteks itu menjelaskan mengapa uji coba dilakukan di kawasan tersebut, tanpa dengan sendirinya memastikan hasil atau perubahan kondisi setelah pelepasan material. Informasi yang tersedia hanya merinci jalannya penerbangan dan keadaan yang melatarbelakanginya; tidak mencantumkan hasil pengukuran jarak pandang maupun dampak setelah operasi.

Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun

banner 325x300