JAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, mengapresiasi peluncuran buku “The Art of Simple Leadership” yang mengangkat perjalanan hidup dan kepemimpinan Jerry Hermawan Lo. Di tengah kondisi dunia usaha yang bergerak sangat cepat, kisah Jerry Hermawan Lo menjadi refleksi bahwa kepemimpinan sejati dibangun dari karakter, keberanian mengambil keputusan, disiplin, serta kemampuan memahami sesama manusia.
“Buku “The Art of Simple Leadership” membawa pesan penting bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengalaman hidup, kerja keras, konsistensi, dan kemampuan memahami manusia. Jerry Hermawan Lo membuktikan kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh gelar akademik, melainkan oleh keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun kepercayaan, dan kemauan belajar tanpa henti,” ujar Bamsoet saat menghadiri peluncuran buku “The Art of Simple Leadership” di Jakarta, Jumat malam (8/5/26).
Hadir antara lain Jerry Hermawan Lo, Menpora Erick Thohir, Wakil Kepala BSSN Komjen Pol. Rachmad Wibowo, Suharso Monoarfa, Letnan Jenderal TNI (P) Ganip Warsito, Komjen Pol. (P) Mochamad Iriawan, Raja Sapta Oktohari dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Paulus Tri Agung Kristanto.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menilai perjalanan hidup Jerry Hermawan Lo yang berangkat dari kehidupan sederhana di Medan hingga mampu terlibat dalam berbagai proyek berskala internasional merupakan gambaran nyata tentang semangat kewirausahaan Indonesia yang tangguh. Data Kementerian UMKM mencatat jumlah pelaku UMKM Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 66 juta unit usaha dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Di tengah tantangan perlambatan ekonomi dunia, kelompok usaha nasional yang mampu bertahan dan berkembang adalah mereka yang adaptif, dekat dengan sumber daya manusianya, dan berani melakukan inovasi. Dalam hal itulah, filosofi kepemimpinan yang diangkat dalam buku ini menjadi sangat relevan.
“Jerry Hermawan Lo memperlihatkan bahwa keberhasilan bisnis bukan sekadar soal modal besar atau jaringan kuat, melainkan soal keberanian menjaga kepercayaan, membangun loyalitas, dan memperlakukan manusia dengan hormat. Nilai seperti ini sangat penting untuk memperkuat fondasi dunia usaha nasional,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, filosofi Pancakrida yang diperkenalkan Jerry melalui konsep Kesempatan, Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas, dan Loyalitas merupakan pendekatan kepemimpinan yang sederhana tetapi memiliki kedalaman strategis. Banyak perusahaan modern saat ini menghadapi krisis loyalitas pekerja, tingginya tingkat stres pekerja, serta lemahnya komunikasi internal akibat budaya kerja yang terlalu mekanistis. Berbagai survei menunjukkan bahwa perusahaan dengan budaya kepemimpinan humanis cenderung memiliki produktivitas lebih tinggi dan tingkat retensi pekerja yang lebih baik. Karena itu, pendekatan kepemimpinan yang membumi seperti yang ditampilkan Jerry menjadi contoh penting di tengah perubahan budaya kerja global.
“Kesederhanaan sering dipandang sebagai sesuatu yang biasa, padahal dalam dunia kepemimpinan modern, kesederhanaan justru menjadi kekuatan yang langka. Pemimpin yang mampu berpikir sederhana biasanya lebih cepat mengambil keputusan, lebih mudah dipercaya, dan lebih kuat membangun solidaritas,” urai Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini menambahkan, Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak figur pemimpin yang mampu menggabungkan ketegasan bisnis dengan kepedulian sosial. Tantangan ekonomi nasional ke depan akan semakin kompleks. Bank Dunia dan IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, serta perang dagang antarnegara. Dalam situasi seperti itu, sektor swasta nasional memegang peranan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya tahan industri nasional. Pemimpin dunia usaha yang memiliki visi kebangsaan akan menjadi aset penting bagi Indonesia.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu bekerja secara konkret, memahami persoalan rakyat, serta membangun semangat produktivitas. Pemimpin yang hebat adalah mereka yang mampu membangun rasa percaya. Kepemimpinan harus menghadirkan rasa aman, rasa dihargai, dan rasa memiliki bagi orang-orang yang dipimpin,” pungkas Bamsoet. (*)
- Black Stone Airlines Tambah Armada, Bamsoet Optimistis Industri Air Cargo Terus Meningkat
- Kasdam XVIII/Kasuari Hadiri Pelepasan Jamaah Haji Papua Barat : Sinergi dan Kepedulian Mengiringi Langkah Suci ke Tanah Suci
- Uji Sidang Terbuka Doktoral Ilmu Kepolisian PTIK tentang Bahaya Radikalisme di Tubuh Polri, Bamsoet Dorong Penguatan Ideologi di Polri

















Respon (1)